INDEF Menyebut, Indonesia Importir Gula Terbesar di Dunia

Editor: Mahadeva

Ekonom Senior INDEF, Faisal Basri pada diskusi "Manisnya Rente Gula Impor" di Jakarta, Senin (14/1/2019). Foto : Sri Sugiarti. 

JAKARTA – Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Faisal Basri, mengatakan, gula merupakan salah satu komoditas pangan strategis. Kebutuhan gula untuk industri di Indonesia, sebagian besar masih harus dipenuhi dari impor. 

Dengan dalih untuk melindungi produsen gula dalam negeri, Faisal Basri menyebut, pemerintah membedakan antara Gula Kristal Rafinasi (GKR) untuk industri, dan Gula Kristal Putih (GKP) untuk konsumsi masyarakat.  “Sedianya, impor gula hanya untuk pemenuhan GKR, tapi dalam perkembangannya GKR, juga digunakan untuk instrumen stabilitas harga gula konsumen. Ya, akibatnya sekarang Indonesia menduduki importir gula terbesar di dunia,” ungkap Faisal pada diskusi, Manisnya Rente Impor Gula, di Jakarta, Senin (14/1/2019).

Distorsi harga yang besar, antara rendahnya harga gula internasional dengan harga gula domestik, membuat Indonesia bertahun-tahun melakukan impor. Hal tersebut menyebabkan praktik rente gula tumbuh subur.  Bahkan dalam tahap yang lebih jauh, distorsi harga tersebut turut andil dalam menjegal gagalnya Indonesia membangun sektor pergulaan. “Padahal dulu, sebelum merdeka, di 1930-an, Indonesia adalah negara pengekspor gula terbesar di dunia,” ujar Ekonom Universitas Indonesia (UI) tersebut.

Gula, sebagaimana yang diatur impornya dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No.117/2015 (HS1701), mengalami impor tertinggi di dunia.  Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Januari hingga November 2017, impor gula Indonesia mencapai 4,6 juta ton atau senilai US$ 1,66 miliar.

Angka ini disebut Faisal, meningkat dibandingkan Januari kondisi November 2016, yakni sebesar 4,48 juta ton. Adapun data United States Depaetement of Agriculture (USDA) dalam statistika 2018, menggambarkan impor gula Indonesia terbesar di dunia mencapai 4, 45 juta ton pada 2017 hingga 2018. Di 2018, Kementerian Perindustrian menargetkan kebutuhan industri terhadap gula rafinasi sebesar 2,8 juta ton. Sedangkan Kemendag memberikan kuota impor 3,6 juta ton. Kuota ini dibagi dalam dua semester, semester satu dan dua, masing-masing sebesar 1,87 juta ton.

“Tapi realisasi yang terjadi pada semester I-2018 hanya sebesar 1,56 juta ton. Ini menggambarkan, bahwa industri tidak membutuhkan gula rafinasi sebanyak yang direncanakan di awal tahun,” ujarnya.

Hal itu, mendorong Kemendag merevisi kuota impor, dari 3,6 juta ton menjadi 3,15 juta ton. Pada semester II-2018, kuota impor justru melejit, sehingga realisasi di 2018 pada akhir tahun tercatat 3,37 juta ton.  “Meskipun masih memenuhi kuota impor di awal sebesar 3,6 juta ton, akan tetapi meleset dari target kuota tengah tahun 3,15 juta ton,” tandasnya.

Menurutnya, realisasi impor ini masih di luar impor gula untuk konsumsi sebesar 1,01 juta ton di 2018. Ini membuktikan, bahwa gula yang diimpor tidak hanya untuk kebutuhan industri, tapi juga untuk kebutuhan konsumsi.

Faisal menyebut, rata-rata harga gula mentah dunia di 2018 sebesar US$ 0.28 (Rp4.000) lebih murah jika dibandingkan dengan harga domestik. Sedangkan Harga Pokok Penjualan (HPP) gula mentah Rp9.700 perkilo gram, pada September 2018. Dengan perbedaan harga gula yang tinggi, maka upaya stabilisasi harga tentu akan menjadi mahal,  jika menggunakan gula petani.  “Upaya potong kompas kebijakan stabilisasi ini membuat gula petani susah terserap. Masyarakat sebagai konsumen harus membayar lebih mahal, sementara petani gula juga tidak menikmati manisnya harga, lalu siapa penikmat rente gula ini?” tegas Faisal.

Harga Eceran Tertinggi (HET) gula Rp12.500, diharapkan dapat melindungi konsumen. Namun, dari pengamatan Faisal, selama 2017 hingga 2018, harga rata-rata gula lokal sesuai atau di bawah HET ,baru terjadi pada 28 Juni 2018. Rentang antara HPP  dan HET  yang besar ini memberikan gambaran, bahwa surplus produsen yang diterima sangat besar.

Lihat juga...