hut

Investasi Masuk ke Surabaya Tembus Rp57,37 Triliun

ilustrasi - Dok CDN

SURABAYA – Dinas Penanaman Modal dan pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Kota Surabaya menyatakan, investasi yang masuk ke Kota Pahlawan, selama 2018 menembus angka Rp57,37 triliun.

Kepala DPM-PTSP, Kota Surabaya, Nanis Chairani, mengatakan, investasi di 2018 melebihi target yang telah ditetapkan Rp41,58 triliun. “Para investor dari dalam dan luar negeri menunjukkan keseriusannya untuk berinvestasi di Surabaya. Tentu saja, hal itu karena kondisi kota yang aman, nyaman, dan kondusif,” katanya, Jumat (11/1/2019).

Nominal investasi tersebut, berasal dari tiga sumber yakni Penanaman Modal Asing (PMA) sebanyak Rp 0,71 triliun, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Rp0,14 triliun, dan Rp56,5 triliun dari non-fasilitas. Nanis mengatakan, investasi non-fasilitas masih menjadi penyumbang dominan dalam pencapaian tersebut. Non-fasilitas, merupakan investor yang memiliki badan usaha dengan nilai kurang dari Rp15 miliar. Mereka kebanyakan berasal dari lokal.

Hal tersebut menunjukkan, perekonomian di Surabaya mampu berjalan mandiri, tanpa terlalu bergantung pada modal asing. “UMKM, startup, dan industri-industri rumahan atau kecil itu juga termasuk non-fasilitas. Perkembangannya cukup signifikan, sehingga angka investasinya juga cukup fantastis. Sebab, pemerintah kota juga memiliki kepedulian tinggi pada pemain di industri kecil dan menengah ini,” jelasnya.

Nanis menyadari, kesuksesan tersebut, bukan tanpa alasan. Sederet inovasi, kerap dilakukan demi menunjukkan Surabaya sebagai kota ramah investor. Hal itu juga demi turut merealisasikan misi yang dibawa Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, mewujudkan Surabaya sebagai pusat penghubung perdagangan dan jasa antarpulau dan internasional.

Selain itu, Surabaya memantapkan tata kelola pemerintahan yang baik, dan daya saing usaha-usaha ekonomi lokal, inovasi produk dan jasa, serta pengembangan industri kreatif. DPM-PTSP juga kerap melakukan diskusi dengan banyak pihak, terutama investor dalam dan luar negeri. “Kami mengundang para investor, lalu memaparkan potensi apa saja yang ada di Surabaya. Selain itu, faktor pendukung seperti infrastruktur, keamanan, dan perizinan yang menjanjikan membuat investasi mereka terus berkembang,” ujarnya.

Hal sama juga disampaikan Ketua Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) DPD Jawa Timur, Tjahjono Haryono. Menurutnya, Surabaya menjadi kota yang kondusif untuk berinvestasi. Hal itu, dibuktikan setiap tahun jumlah pengusaha kafe dan restoran terus mengalami kenaikan.

Dari 2017 ke 2018, tercatat ada pertmbuhan 20 persen pengusaha kuliner. Mereka hadir dengan banyak inovasi, terutama menu yang disajikan dan interior kafe yang unik. “Masyarakat di Surabaya sangat apresiatif dengan usaha baru yang muncul. Jika ada kafe atau restoran yang baru buka, mayoritas pasti akan ramai,” ujarnya.

Gaya hidup modern dan aktif di jejaring sosial, menjadi salah satu faktor usaha berkembang. Lewat media sosial, promosi bisa dilakukan dengan tepat dan cepat. Hal lain yang membuat bisnis terus tumbuh di Surabaya adalah, faktor infrastruktur. Tjahjono menyebut, Surabaya sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, memiliki infrastruktur yang mumpuni. Terlebih, pemerintah kota juga sangat kooperatif dengan mempermudah perizinan pendirian usaha baru. (Ant)

Lihat juga...