Investor Asing Lirik Pengembangan Wisata Alam di Mandeh

Editor: Satmoko Budi Santoso

283

PESISIR SELATAN – Dua pihak investor asing melirik pengembangan wisata alam yang berada di Kawasan Bahari Terpadu Mandeh (KWBT), Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni, mengatakan, terkait adanya investor asing yang masuk ke wilayahnya, dengan tujuan pengembangan wisata alam yang berada di Mandeh, disambut dengan positif. Hal ini dikarenakan, Pemkab Pesisir Selatan membuka diri terhadap investasi pengembangan wisata.

“Mandeh saat ini memang menjadi salah satu wisata populer di Sumatera Barat. Cuma belum semua sisi yang dikelola dengan baik, seperti pulau-pulau dan tempat lainnya,” katanya, Selasa (29/1/2019).

Bupati Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Hendrajoni/Foto: M. Noli Hendra

Menurutnya, alasan Pemkab Pesisir Selatan perlu membuka diri terhadap investasi, karena untuk melakukan pengembangan wisata dari anggaran daerah, tidak akan mampu melakukan pengembangan wisata secara cepat. Artinya, dengan adanya investor, wisata Mandeh jadi lebih baik lagi ke depan.

Sementara itu, Kepala Bidang Penanaman Modal, Badan Penanaman Modal Pelayanan Perizinan Terpadu (BPMP2T), Yudi Ichsan, menjelaskan, investor asing yang masuk itu, berasal dari Cekoslowakia Rp80 miliar, dan di Pulau Marak dilirik PT Dempo Vilano Intiland yang sedang proses saat ini dengan nilai investasi Rp100 miliar.

Kawasan yang dilirik para investor itu, Pulau Marak dan semenanjung Jawi-jawi di Nagari Sungai Pinang yang daerahnya masih berada di daerah Kabupaten Pesisir Selatan.

Ia menyebutkan, saat ini ada dua investor yang sudah menyampaikan ketertarikan terhadap dua destinasi wisata di Mandeh tersebut.

Nilai investasi yang dihitung itu, berdasarkan rencana yang dilakukan oleh investor untuk mengelola atau melakukan pengembangan wisata, yakni diving dan konservasi karang serta resort.

“Yang jelas saat ini soal investasi itu sudah dalam proses. Namun sebelum hal itu benar-benar dilakukan, kita masih menunggu setelah Perda RTRW disahkan,” ujarnya.

Dia menjelaskan, dengan dimulainya pengembangan investasi di dua destinasi tersebut, tahun 2019 khusus kepariwisataan akan manjadi nilai investasi baru di daerah itu.

“Untuk 2018, tidak ada investasi sektor pariwisata. Dan tahun ini, jika tidak ada halangan akan menjadi peluang menjanjikan untuk nilai investasi di Pesisir Selatan,” ujarnya.

Terkait hal ini, Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit, juga mengatakan, bahwa untuk pengembangan wisata Mandeh, terus didorong untuk dikelola dengan baik. Begitu juga untuk investasi, tidak akan ada upaya pemerintah untuk mempersulit investor yang ingin berinvestasi.

“Jika ada investor yang masuk akan lebih baik. Saya sangat senang adanya hal ini. Karena memang kita di provinsi terus mengupayakan Mandeh jadi wisata yang bisa diprioritaskan untuk dilakukan pengembangan,” katanya.

Begitu juga untuk persoalan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Pemprov Sumatera Barat terus mengebut KEK itu, dan ditargetkan dapat dilakukan pada tahun ini.

Nasrul menjelaskan, persoalan analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) di kawasan Mandeh, hal itu sudah diserahkan ke Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan sudah dikerjakan. Begitu juga , untuk master plan yang telah dianggarkan di Kementerian Pariwisata pada 2019.

Menurutnya, apabila master plan KEK Mandeh telah rampung, Pemprov Sumatera Barat akan segera melakukan pembahasan lebih lanjut.

Apalagi saat ini Perda Zonasi, Rencana Detil Tata Ruang (RDTR) provinsi dan kabupaten, serta elemen-elemen lain yang diperlukan sebagai kelengkapan dokumen kawasan Mandeh sebagai KEK, telah selesai dilakukan.

Lihat juga...