Januari-Februari, Jawa Sumatera Alami Puncak Musim Hujan

Editor: Mahadeva

JAKARTA – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan, di Januari dan Februari, wilayah Jawa dan Sumatera, akan mengalami puncak musim hujan. Kendati demikian, curah hujan di kedua pulau tersebut, dalam kondisi normal. 

Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG Dodo Gunawan – Foto Ranny Supusepa

Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG, Dodo Gunawan, menyatakan, prakiraan cuaca dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi global dan analisis dasarian. “Validasi jangka panjang itu mengikuti sumber-sumber dari global untuk periode enam bulan. Misalnya, untuk Januari ini, apakah terjadi El Nino atau La Nina,” kata Dodo, saat rapat analis iklim bulanan di Gedung B BMKG Jakarta, Selasa (8/1/2019).

Dodo menyebut, hasil analisa, El Nino saat ini dalam kondisi lemah. Hal itu memunculkan peluang kecenderungan hujan di Indonesia berkurang. “Kita bicara tentang curah hujannya ya, bukan frekuensi hujannya,” ucap Dodo.

Secara umum, Dodo menyatakan, seluruh wilayah Indonesia masih dalam kondisi musim hujan dengan curah hujan normal.  “Setiap wilayah zona musim memiliki angka curah hujan masing-masing. Dan jika kita menyebutkan normal, artinya curah hujannya sesuai dengan angka rata-rata di zona tersebut,” papar Dodo.

Curah hujan normal di Sumatera dan Jawa, jika dimisalkan, ada diangka sekira 300 mm. Berbeda dengan angka curah hujan normal di Nusa Tenggara, yang berada di angka sekira 200 mm. Begitu pula,  dengan daerah pegunungan yang memiliki curah hujan yang berbeda dengan daerah pantai. “Sumatera dan Jawa masih menunjukkan indikasi curah hujan diatas normal selama bulan Januari dan Februari ini. Dengan disertai variasi lokal. Angkanya masih di sekira 315 mm,” kata Dodo.

Untuk memahami kondisi iklim secara keseluruhan, Dodo mengharapkan, masyarakat bisa memahami fenomena El Nino dan La Nina. Serta apa pengaruh pemanasan global pada dua fenomena tersebut.  “Fenomena ini sebenarnya terjadi di Lautan Pasifik. La Nina dan El Nino merupakan fenomena yang saling berlawanan, dan menghasilkan efek yang berbeda juga di Indonesia,” jelas Dodo.

Pada El Nino, suhu permukaan Laut Pasifik dalam kondisi panas dengan tekanan yang rendah. Hal ini menyebabkan sirkulasi uap air yang ada di Indonesia, mengalir ke wilayah Pasifik. Akibatnya, curah hujan di Indonesia akan berpotensi lebih rendah, dibandingkan kondisi tanpa pengaruh El Nino. “La Nina adalah kebalikan dari El Nino. Dimana kondisi Pasifik itu dingin, yang artinya tekanan tinggi. Sehingga uap air akan mengalir ke wilayah Indonesia dan membentuk banyak awan hujan. Jadi curah hujannya tinggi,” tutur Dodo menjelaskan.

Kondisi El Nino dan La Nina, yang biasa terjadi dengan periode ulang tiga hingga lima tahun, akan berubah frekuensinya jika dipengaruhi oleh suhu global. “Pemanasan global yang sedang kita rasakan saat ini mempengaruhi proses fenomena ekstrim seperti El Nino. Apa pengaruhnya? Akan menjadi lebih sering terjadinya dan semakin sulit untuk diprediksi.  Variasi ya juga semakin besar,” pungkasnya.

Lihat juga...