hut

Keluarga Cendana Gelar Haul ke 11 Pak Harto

Editor: Mahadeva

JAKARTA – Keluarga Cendana menggelar haul ke 11 wafatnya Presiden ke 2 RI, Jenderal Besar HM Soeharto. Haul digelar dengan mengirim doa melantunkan Surat Yasin, Sabtu (26/1/2019).

Doa bersama digelar di rumah almarhum Presiden Soeharto, di Jalan Cendana No.8, Menteng, Jakarta Pusat. Pak Harto wafat pada usia 87 tahun, tepatnya pada 27 Januari 2008, bertepatan dengan 18 Muharam 1429 Hijriah.

Putri almarhum, Siti Hardiyanti Rukmana atau Tutut Soeharto, Siti Hediati Haryadi atau Titiek Soeharto, dan Siti Hutami Endang Adiningsih atau Mamiek Soeharto. Beserta Indra Rukmana, Danty Rukmana, Muhammad Ali Reza, para kerabat dan tamu undangan, tampak hadir ikut berdoa untuk almarhum Pak Harto.

Putri almarhum, di antaranya, Siti Haryanti Rukmana atau Tutut Soeharto, dan Siti Hutami Endang Adiningsih atau Mamiek Soeharto terlihat khusuk berdoa pada haul ke 11 atas wafatnya Presiden SSoeharto di Jalan Cendana No. 8, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (26/1/2019) malam. Foto: Sri Sugiarti

Imam Masjid Agung At-Thin, H. Abdul Musido, memimpin salat Magrib dan Isya berjamaah, yang dilanjutkan dengan tahlil dan doa bersama.  “Malam ini kita peringati haul ke-11 atas wafatnya almarhum Presiden Muhammad Soeharto. Sebuah kewajiban kita untuk mendoakan Bapak Pembangunan Indonesia, yang sangat bijaksana dan tegas. Semoga almarhum Pak Harto ditempatkan di sisi terbaik Allah SWT,” kata Abdul kepada Cendana News, usai doa bersama.

Menurutnya, sosok Pak Harto sangat sederhana, tetapi penuh perhatian pada rakyatnya. Selama menjadi presiden maupun setelah lengser, sosok Pak Harto sangat dikagumi oleh masyarakat Indonesia. “Saya pun demikian, sangat merindukan Beliau. Tidak ada seorang pemimpin bangsa yang tegas, karismatik dan sederhana seperti Beliau. Sosok Pemimpin tak tergantikan oleh siapapun,” ujarnya.

Imam Masjid Agung At-Tin, Abdul Musido. Foto ; Sri Sugiarti

Abdul berharap, dalam lantunan doa bersama di haul ke-11 wafatnya pemimpin bangsa kelahiran Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta, 8 Juni 1921 tersebut, membawa kedamaian dan keberkahan untuk almarhum dan keluarga. Serta kemajuan untuk bangsa Indonesia.  “Semoga almarhum Pak Harto dan almarhumah Ibu Tien Soeharto diampuni dosa-dosanya, ditempatkan di surganya Allah SWT. Keluarga yang ditinggalkan senantiasa ikhlas dan sabar serta dalam lindungan  Allah SWT,” ujarnya.

Presiden Kedua RI yang dijuluki The Smiling General itu, di makamkan Astana Giribangun, Karanganyar, Jawa Tengah. Makamnya berdampingan dengan istri tercinta, Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah atau Tien Soeharto.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!