hut

Kesadaran Warga Batasi Penambangan Pasir di Lereng Merapi, Rendah

Editor: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Kasus tewasnya penambang pasir manual akibat tertimbun longsor di kawasan lereng Gunung Merapi berulang kali, dinilai terjadi karena masih rendahnya kesadaran warga untuk membatasi aktivitas penambangan.

Aktivitas penambangan pasir secara ilegal yang dilakukan masih berlebihan, tanpa adanya upaya reklamasi. Membuat sejumlah kawasan penambangan di lereng Gunung Merapi Sleman sangat berisiko dan mengancam keselamatan penambang. Terlebih pada penambang yang melakukan aktivitas tanpa dilengkapi alat pengaman memadai.

Komandan Unit SAR DIY Cangkringan, Joko Irianto, menyebut, peristiwa tertimpanya 5 penambang hingga mengakibatkan 1 orang tewas pada beberapa hari lalu seharusnya menjadi pelajaran bagi para penambang.

Komandan Unit SAR DIY Cangkringan, Joko Irianto – Foto: Jatmika H Kusmargana

Para penambang semestinya tidak sekadar mengeruk pasir demi keuntungan, namun tanpa memperhatikan kondisi lingkungan dan keselamatan.

“Memang tugas kita sebagai tim SAR harus selalu siap jika musibah semacam itu terjadi. Namun mestinya para penambang menyadari setiap risiko yang ada. Jangan sampai sekadar mencari materi namun mengabaikan keselamatan. Jika lokasi penambangan sudah tidak memungkinkan, mestinya aktivitas dihentikan dan dilakukan reklamasi. Agar musibah seperti ini tidak terulang,” katanya, Jumat (25/1/2019).

Sebagaimana diketahui pada Selasa (22/1/2019) lalu, 4 penambang pasir terluka dan 1 tewas akibat terkena longsoran saat melakukan aktivitas penambangan di Dusun Kaliwuluh, Umbulharjo, Cangkringan Sleman, Yogyakarta.

Mereka tak sempat melarikan diri hingga akhirnya tertimpa batu dan pasir setinggi 15 meter lebih.

Camat Cangkringan, Mustadi, mengakui, adanya sejumlah lokasi penambangan pasir ilegal yang sangat berbahaya bagi keselamatan penambang pasir, sekaligus berpotensi merusak lingkungan di wilayahnya.

Ia menyebut, setidaknya ada 3 lokasi penambangan liar yang beroperasi di Cangkringan saat ini.

Camat Cangkringan Mustadi – Foto: Jatmika H Kusmargana

“Memang mestinya tidak boleh, karena aktivitas penambangan itu tidak memiliki izin. Tapi, kita tidak bisa berbuat banyak. Karena mereka menambang di lahan pekarangan milik pribadi. Sehingga kita tidak punya kewenangan terkait hal itu,” ujarnya pasrah.

Pemerintah desa, kecamatan, maupun pihak terkait lainnya, selama ini sebenarnya sudah mengantisipasi musibah semacam ini. Yakni dengan melakukan sosialisasi dan imbauan agar tidak merusak lingkungan. Baik pada para penambang maupun warga sekitar.

Sayangnya, upaya itu tidak terlalu efektif, sampai saat ini masih banyak aktivitas penambangan liar berjalan.

“Kebanyakan para penambang pasir itu dari luar Cangkringan. Mereka menyewa lahan kosong milik warga di sini dengan sistem bagi hasil. Satu lokasi penambangan kadang bisa dikeruk hingga kedalaman mencapai puluhan meter dengan sudut kemiringan 90 derajat. Sehingga sangat berbahaya karena sewaktu-waktu bisa longsor,” ungkap seorang warga setempat, Tukijo.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!

Mersin escort

»

bodrumescort.asia

»

Escort Adana bayan

»

Mersin türbanlı escort Sevil

»

Mersinde bulunan escort kızlar

»

storebursa.com

»

maltepeescort.org

»

Kayseri elit eskort

»

Eskişehir sınırsız escort

»

Eskişehirde bulunan escort kızlar

»

samsuni.net

»

Escort Adana kızları

»

eskisehir eskort

»

adana eve gelen escort

»

adana escort twitter

»

adana beyazevler escort

»

http://www.mersinindex.com

»

pubg mobile hileleri

»

Nulled themes

»

www.ankarabugun.org

»

www.canlitvtr.net

»

escort izmir

»
escort99.com