Ketidakcocokan Pendidikan dan Kebutuhan Kerja Mencapai 63 Persen

Editor: Mahadeva

Kemenaker RI M. Hanif Dhakiri, usai membuka usai membuka Pelatihan Berbasis Kompetensi tahun 2019, Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja Bekasi Kejuruan, di Kota Bekasi – Foto M Amin

BEKASI – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), M. Hanif Dhakiri, menyebut, angka ketidakcocokan (mismatc) antara program pendidikan dengan kebutuhan kerja sesuai keahlian, mencapai 63 persen. Dampaknya, masih banyak lulusan sekolah kejuruan tidak bisa mengisi formasi kerja yang tersedia, akibat tidak memiliki keahlian sesuai kebutuhan pasar kerja.

Kondisi tersebut, harus diikuti perbaikan pada sistem pendidikan, agar tidak terjadi double invesment. “Pendidikan formal, kita sekarang, masih ada program mismatch, sehingga dalam beberapa hal ada semacam double invesment,” kata Hanif, usai membuka Pelatihan Berbasis Kompetensi 2019, Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja Bekasi Kejuruan, di Kota Bekasi, Senin (7/1/2019).

Mismatch yang dimaksud, misalkan ada anak lulusan SMK 10 orang, dan akan masuk dunia kerja. Hanya empat yang keahliannya sesuai dengan kebutuhan. Hal itulah yang disebut match. “Sisanya disebut miss, mereka bisa masuk BLK (Balai Latihan Kerja) bisa juga tidak,” tambahnya.

Problem yang terjadi selanjutnya, banyak peserta pelatihan di BLK, adalah anak lulusan SMK. Secara logika, seharusnya lulusan SMK bisa langsung masuk kerja dan tidak perlu ke BLK. Lulusan SMK siap menjadi operator di perusahaan tertentu. “Itu, yang saya maksud double invesment. Karena ketika SMK dibiaya oleh duit negara, terus masuk BLK juga di biayai uang negara,” tandasnya.

Untuk itu, harus ada perbaikan pada sistem pendidikan formal khususnya SMK. Dan hal tersebut diklaimnya, sudah dikoordinasikan dengan kementerian terkait. Termasuk yang di bawah kementerian perekonimian, untuk menciptakan tenaga kerja sesuai kebutuhan pasar kerja. “Kemenaker terus berkoordinasi dengan instansi terkait, agar problem mismatch terselesaikan. Sehingga kedepan Pasar kerja membutuhkan apa, dapat diisi oleh lulusan SMK,” tandas Hanif.

Lebih lanjut, Hanif mengklaim, lapangan kerja di Indonesia relatif banyak. Investasi tumbuh dan berkembang, tetapi kembali tenaga kerjanya, keahliannya kurang sesuai dan harus mendapatkan tambahan orientasi. “Relevansi dengan dunia kerja semakin ditingkatkan orientasinya, kalo sekarang pasar kerja itu butuhnya apa. Ini harus di sediakan oleh pendidikan,” pungkas Hanif.

Lihat juga...