KM Sabuk Nusantara Terpaksa Mengapung Berjam-jam di Paumako

1.316
Ilustrasi [CDN]

TIMIKA — Ratusan penumpang Kapal Motor Sabuk Nusantara 60 mengaku kesal lantaran kapal itu terpaksa mengapung berjam-jam menunggu giliran sandar di Dermaga Pelabuhan Paumako, Timika, Senin (7/1/2019).

Stefanus, salah seorang penumpang KM Sabuk Nusantara 60, Senin, mengatakan kapal tersebut sudah tiba di Muara Paumako sekitar pukul 06.00 WIT. Namun hingga pukul 09.00 WIT, KM Sabuk Nusantara 60 tidak bisa sandar di dermaga lantaran pada saat bersamaan masih ada aktivitas bongkar muat barang oleh kapal ekspedisi.

“Kami minta Syahbandar Paumako tolong memperhatikan nasib penumpang yang jumlahnya mencapai ratusan orang, dimana banyak diantaranya merupakan anak-anak yang masih kecil. Kami sudah berjam-jam berlabuh di muara, sampai sekarang kapal belum juga sandar karena masih ada kapal yang sedang bongkar muat,” ujar Stefanus melalui sambungan telefon seluler dari Timika.

Ia mengatakan, KM Sabuk Nusantara 60 berlayar dari Pelabuhan Kaimana pada Minggu (6/1) sekitar pukul 10.00 WIT.

Para penumpang, katanya, mulai kehabisan bahan makanan dan air minum lantaran kapal tersebut tidak menyediakan akomodasi makan dan minum bagi para penumpangnya.

“Kejadian seperti ini sudah berulang-ulang, tapi tetap tidak mendapat perhatian serius dari pihak terkait. Ini sangat disayangkan. Padahal seharusnya Pelni dan Syahbandar memprioritaskan kapal penumpang untuk sandar daripada kapal barang,” tutur Stefanus.

Penumpang lainnya, Yeremias mengakui pelayanan publik di Pelabuhan Paumako kini semakin buruk, terlihat dari tidak tersedianya fasilitas dermaga yang memadai dan penataan kawasan pelabuhan yang dinilai semrawut.

“Apa yang terjadi sekarang ini memang sudah tidak benar. Petugas lebih mementingkan bongkar muat kapal kargo daripada kapal penumpang karena mereka menerima upeti dari kapal-kapal kargo itu,” kritik Yeremias.

Menurut dia, kasus terlantarnya penumpang kapal Pelni di muara Pelabuhan Paumako bukan baru pertama kali terjadi, tetapi sudah berulang-ulang.

“Dulu saya juga menumpang Kapal Tataimailau, juga terkatung-katung sekitar lima jam di muara Paumako karena ada kapal barang yang sedang bongkar muat. Ke depan kami berharap pemerintah menyediakan dermaga khusus kapal penumpang terlepas dari dermaga kapal barang,” kata Yeremias.

Pihak Unit Pengelola Pelabuhan Kelas III Paumako beberapa waktu lalu mengakui cukup kewalahan mengatur tata kelola Pelabuhan Paumako lantaran saat ini hanya satu dermaga yang difungsikan untuk tempat bongkar muat barang sekaligus tempat bongkar muat penumpang.

Adapun satu unit dermaga lainnya (dermaga yang dibangun pertama tahun 1990-an) kini sudah tidak dapat difungsikan lagi lantaran dermaga tersebut terjadi penurunan sekitar satu meter dari dermaga yang baru dibangun tahun 2013. [Ant]

Baca Juga
Lihat juga...