KPRI Kencana Solok Keluhkan Oknum Salah Gunakan Kepercayaan

Editor: Koko Triarko

Ketua KPRI Kencana BKKBN Kabupaten Solok, Mikrat Joni/ Foto: M. Noli Hendra 

SOLOK – Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) Kencana BKKBN Kabupaten Solok, Sumatra Barat, mengeluhkan adanya pihak-pihak yang melakukan pembohongan tanda tangan peminjam dana modal usaha di Tabur Puja Solok.

Ketua KPRI Kencana BKKBN Kabupaten Solok, Mikrat Joni, mengatakan, salah satu penyebab tingginya non performing loan (NPL) di Tabur Puja, adalah adanya tunggakan yang disebabkan oleh peminjam, yang ternyata untuk mengelabuhi Tabur Puja.

Ia menyebutkan, setelah diusut, penyebab tingginya NPL di Tabur Puja Solok yang mencapai Rp800 juta pada 2018 lalu, memang ada niat yang tidak baik dari oknum tertentu untuk memanfaatkan dana pinjaman modal usaha. Tidak tanggung-tanggung, tanda tangan yang dipalsukan untuk satu kelompok yang mencapai 10 orang.

“Saya sempat kaget, ternyata ada oknum yang melakukan tindakan yang begitu nekat. Padahal, di Tabur Puja menerapkan sistem sosial dan intinya kepercayaan saja, dan dimanfaatkan oleh oknum,” katanya, Kamis (24/1/2019).

Mikrat menjelaskan, peluang pembohongan tanda tangan itu, karena di Tabur Puja Solok menerapkan sistem kelompok. Sebut saja, satu kelompok ada 10 orang, dengan satu orang ketua. Jadi, yang akan setor setiap pekannya itu adalah ketua kelompoknya ke Asisten Kredit (AK) Tabur Puja.

Artinya, AK tidak mengetahui pasti apakah anggota dari kelompok itu benar-benar ada orangnya. Tapi, yang AK ketahui hanyalah menerima uang setoran kredit dari ketua kelompok. Mungkin ketua kelompok menilai, hal itu bisa dicela untuk pembohongan tanda tangan.

“Jadi, saya telah menemui langsung oknum yang bersangkutan, mereka mengaku ada 10 orang masyarakat yang dimintai surat-suratnya. Karena oknum ini adalah pejabat di salah satu pemerintah nagari di Solok, maka masyarakat tidak banyak tanya. Setelah data-data itu didapatkan, dimasukkan permohonannya ke Kelompok Tabur Puja, dan akhirnya diproses. Hasilnya, uang-uang itu dinikmati sendiri,” ujarnya.

Menurutnya, alasan ada oknum yang nekat melakukan tindakan itu, karena dana dari Yayasan Damandiri dianggap bukan uang negara, sehingga dinilai tidak akan ada persoalan, jika diketahui melakukan pembohongan tanda tangan.

KPRI Kencana BKKBN Kabupaten Solok mengaku kecewa dengan adanya mental dari masyarakt yang demikian.

“Sampai sekarang yang bersangkut telah mengangsur-angsur mengembalikan uang yang didapatkan dari melakukan tanda tangan palsu itu. Meski belum tuntas dari total uang yang dipinjam, yakni mencapai Rp10 juta, setidaknya ada itikad yang baik dari oknum itu,” sebutnya.

Mikrat mengaku, persoalan yang demikian bukanlah baru yang terjadi di Tabur Puja Solok. Bisa dikatakan, pembohongan tanda tangan itu sering terjadi, namun memiliki cara yang berbeda. Sejauh ini, belum ada upaya yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi mental yang tidak baik dari masyarakat tersebut.

Untuk itu, Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) Kencana BKKBN Kabupaten Solok berharap kepada masyakarat, untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak baik, yang bisa menjerumuskan ke ranah hukum. Ia khawatir, jika hal tersebut dibiarkan, bisa-bisa Tabur Puja di Solok ditutup oleh Yayasan Damandiri.

Lihat juga...