KPRI Solok Turun Lapangan Atasi Kredit Macet

218
Ketua KPRI Kencana BKKBN Kabupaten Solok, Mikrat Joni/ Foto: M Noli Hendra

SOLOK – Ketua Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) Kencana BKKBN Kabupaten Solok, Sumatra Barat, Mikrat Joni, mengatakan saat ini tunggakan kredit di Tabur Puja Solok mencapai Rp800 juta.

Angka itu terbilang cukup memprihatinkan, karena uang yang diputarkan oleh Tabur Puja hanya Rp3 miliar. Dengan adanya tunggakan Rp800 juta, hanya Rp2,2 miliar dana yang disebarkan untuk membantu masyarakat kurang mampu.

“Cara yang kita lakukan saat ini ialah langsung turun ke rumah demi rumah masyarakat yang mengalami tunggakan kredit. Tujuannya untuk mengetahui pasti, kondisi masyarakat itu, sehingga terjadi tunggakan kredit,” katanya, Rabu (23/1/2019).

Dengan mendatangi langsung masyarakat kurang mampu yang mendapatkan pinjaman modal usaha, yang mengalami tunggakan kredit itu, banyak informasi yang diperoleh oleh Tabur Puja, alasan terjadinya tunggakan kredit.

Mikrat menyatakan, hasil dari mengunjungi langsung rumah warga yang mengalami tunggakan kredit, sebagian besarnya diakibatkan kondisi ekonomi keluarga sedang dalam tidak stabil. Artinya, belum ada uang yang bisa dikeluarkan oleh masyarakat terkait, untuk membayar kredit.

“Bagi saya, kondisi seperti ini adalah risiko juga. Karena yang menjadi sasaran penyaluran dana untuk modal usaha itu ialah keluarga kurang mampu. Jadi, jika usaha yang dijalani tidak berhasil, ya  beginilah keadaannya,” sebutnya.

Ia mengaku telah menyampaikan kondisi itu ke pihak Yayasan Damandiri, yang merupakan pihak penyandang dana untuk modal usaha melalui Tabur Puja.

Solusi yang diinginkan, agar Yayasan Damandiri menghapus utang yang ada di masyarakat yang kondisi ekonomi benar-benar anjlok itu. Tapi, sampai sekarang belum ada tanggapan dari Yayasan Damandiri.

“Kita tentu tidak ingin menyusahkan masyarakat, yang kondisinya lagi susah. Tapi harus bagaimana lagi, bukan saya yang punya uang. Sudah dibilang ke yang punya uang, belum ada direspons. Secara tidak langsung, Yayasan Damandiri tetap menginginkan uang tunggakan itu kembali,” jelasnya.

Terkait kebijakan turun ke rumah-rumah masyarakat yang mengalami tunggakan kredit itu, sudah dilakukan jauh hari oleh koperasi bersama Tabur Puja.

Hasilnya ada yang masih bersedia membayarkan atau mengangsur tunggakan, dan ada yang menyatakan tidak sanggup mengeluarkan uang lagi, karena kondisi ekonomi sedang tidak baik.

Selain itu, upaya yang juga pernah dilakukan ialah meminta surat dari Pemerintah Nagari/Desa, dan bahasa pernyataan, bahwa kondisi masyarakat yang tertera di atas kertas, adalah masyarakat miskin. Untuk itu, pihak Yayasan Damandiri diharapkan ada sikap untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat.

Sementara itu, Manajer Tabur Puja KPRI Kencana BKKBN Kabupaten Solok, Fhajri Arye Gemilang, menjelaskan, ada 4 persen tunggakan kredit pada 2018.

Untuk itu, Gilang menyebutkan, kondisi Tabur Puja di Solok bisa dikatakan flat dan tidak ada pergerakan yang berarti. Artinya, KPRI Kencana BKKBN Solok, belum bisa berbuat banyak untuk menghidupkan roda ekonomi secara signifikan, di kalangan masyarakat kurang mampu yang ada di daerah tersebut.

Ia menyebutkan, saat ini di daerah Kabupaten Solok ada 26 Kelompok Tabur Puja, dengan 2.133 orang anggota. Dari anggota itu, beragam jenis usaha yang dijalani, seperti usaha rumahan, kerajinan, warung kalontong, dan berbagai usaha lainnya, termasuk bertani.

Baca Juga
Lihat juga...