Kue Leppuk, Cara Warga Lampung Awetkan Durian

Editor: Mahadeva

304

LAMPUNG – Musim buah durian di Lampung Selatan (Lamsel) mengalami puncak panen di Januari. Pasokan buah durian melimpah, membuat buah dengan ciri kulit berduri dan aroma khas tersebut, mudah ditemukan di sepanjang Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum).

Kue leppuk khas Lampung hasil olahan daging buah durian bersama dengan gula aren – Foto Hwnk Widi

Susana (40), salah satu warga Desa Negeri Pandan, Kecamatan Kalianda, kerap menjadikan buah durian sebagai buah segar untuk disantap bersama keluarga. Durian juga kerap diolah menjadi menu kuliner seperti sup durian atau ketan durian. Buah durian sebagian berasal dari kebun warisan keluarga, yang berada di kaki Gunung Rajabasa. Puluhan pohon durian, pada masa panen bisa menghasilkan 1.000 butir durian.

Durian yang jumlahnya cukup banyak kemudian melewati proses sortir, dengan menusuk kulit berbentuk segitiga, lalu menyicipi daging buah durian. Jenis durian yang dimiliki berupa durian ketan,durian keong serta durian montong.

Buah yang kurang manis bahkan hambar, dipisahkan dan dijadikan bahan pembuatan kue tradisional bernama Leppuk, sebuah menu kuliner khas milik warga Lampung. Selama puluhan tahun, warga membuat Leppuk, untuk mengawetkan buah durian. Dengan membuat leppuk, durian bisa disantap saat tidak musim durian.

“Bahan pembuatan leppuk sangat sederhana, hanya membutuhkan buah durian yang sudah dipisahkan dari bijinya, selanjutnya dimasak bersama dengan gula aren hasil pembuatan warga di kaki Gunung Rajabasa,” terang Susana kepada Cendana News, Sabtu (19/1/2019).

Kue leppuk berjumlah sekira lima kilogram, membutuhkan bahan baku sekira sepuluh butir buah durian. Sebagian daging buah durian dengan rasa manis juga disertakan sebagai penguat rasa khas aroma dan legitnya buah durian.

Buah durian manis disebutnya setelah dikupas akan dimasukkan dalam wadah khusus, sebagai bahan pembuatan roti dan sambal tempoyak. “Kue leppuk sesuai sejarahnya memang dibuat oleh pekebun yang mendapat panen durian melimpah dan memiliki gula, awalnya akan dibuat menjadi minuman tetapi selanjutnya berbentuk seperti dodol dan awet,” ungkap Nurjanah.

Susana (kanan) dan Nurjanah (kiri) mencampurkan adonan daging buah durian dan gula merah untuk diolah menjadi kue leppuk – Foto Henk Widi

Proses awal dilakukan dengan menyiapkan wajan khusus anti lengket. Daging buah durian yang sudah dipisahkan dari biji selanjutnya dimasukkan dalam wajan dan diaduk. Proses pencampuran gula aren dilakukan setelah daging buah durian cukup matang. Gula aren terlebih dahulu diiris tipis tipis untuk mempercepat proses pencampuran bersama daging buah durian. Proses memasak kue leppuk dilakukan dengan tungku kayu. Namun pada zaman modern pengolahan bisa dilakukan mempergunakan kompor gas.

Proses mengolah daging durian, gula aren menjadi kue lappuk harus selalu diaduk layaknya membuat jenang atau dodol. Nurjanah menyebut sebelum tahap akhir menjadi kue leppuk, adonan buah durian serta gula aren kerap disisihkan. Adonan yang sudah matang dengana aroma legit gula aren dan durian tersebut sudah menjadi selai durian. “Tahap pertama saya bisa sisihkan adonan gula aren dan buah durian menjadi selai bisa digunakan sebagai variasi untuk makan roti disimpan pada toples khusus,” beber Nurjanah.

Tahap akhir proses memasak adonan gula dan daging buah durian selama kurang lebih dua jam akan menghasilkan adonan yang lebih keras. Adonan yang sudah cukup keras tersebut selanjutnya dibentuk dalam ukuran kecil, berbentuk bulat yang dikenal dengan kue leppuk. Proses pembuatan leppuk yang sempurna, akan menjadikan kue tersebut lebihi awet. Kue leppuk masih akan memiliki ciri khas rasa buah durian serta gula aren yang khas untuk jangka waktu lama.

Penyimpanan pada lemari pendingin dan wadah kedap udara membuat kue leppuk bisa bertahan setahun. Kue leppuk bisa dijadikan santapan langsung dalam kondisi hangat. Selain itu kue lappuk kerap dijadikan tambahan pada kuliner lain diantaranya bubur ketan, bubur kacang hijau, kopi, sup serta juadah atau beberapa jenis kue lain.

Kue leppuk dapat dicairkan dengan air panas, sehingga sering dijadikan campuran bubur bagi anak anak sebagai perangsang nafsu makan. Kue leppuk disebut biasa disajikan dalam acara acara tradisional bersama kue khas Lampung lain.

Gita, salah satu remaja yang mencoba rasa kue leppuk menyebut, aroma khas serta rasa buah durian masih cukup terasa. Meski demikian ia mengaku olahan buah durian dan gula menjadi kue tersebut sangat unik. Buah durian yang berlimpah, kerap hanya dibuat menjadi sambal tempoyak. Namun olahan kue leppuk bisa menjadi varian lain, untuk memanfaatkan durian.

Baca Juga
Lihat juga...