Lupis Beras Ketan, Camilan Khas di Waktu Pagi

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Berbagai jenis makanan tradisional kerap dijajakan oleh penjual kue sebagai camilan di pagi hari. Di wilayah Ketapang, Lampung Selatan, kue tradisional yang sering dijajakan para pedagang adalah kue berbahan beras ketan, yang disebut Lupis.

Yeni Farida (40), penjual makanan tradisional, warga Desa Sidoluhur, Kecamatan Ketapang, membuat berbagai jenis kue tradisional, seperti Arem-arem, Nagasari, Pisang Goreng, Risoles, Tempe Goreng, Bakwan, Lemper, dan berbagai jenis gorengan lainnya, serta tidak pernah ketinggalan, Lupis.

Yeni Farida mengaku membuat berbagai jenis kue tersebut sebagai usaha sampingan. Ada pun pekerjaan utamanya sebagai petani. Ia membuat berbagai jenis makanan tradisional tersebut pada malam hari, sehingga pagi hari sudah bisa dijajakan.

Yeni Farida, saat melayani pelanggan. -Foto: Henk Widi

Yeni Farida sudah hampir tujuh tahun lebih berjualan kue tradisional dengan berjalan kaki. Berbagai jenis kue diletakkan pada baskom yang dimasukkan pada tenggok terbuat dari bambu, sebagian dimasukkan dalam tas anyaman plastik.

Memiliki suami sebagai tukang ojek, ia sudah berkeliling ke setiap rumah di wilayah Desa Kelawi sejak pukul 05.30 WIB. Sembari berangkat bersama sang suami ke pasar Bakauheni, Yeni Farida akan turun di salah satu perkampungan padat penduduk untuk, selanjutnya menjajakan berbagai jenis kue tradisional.

Warga yang membeli berbagai jenis kue, umumnya ibu rumah tangga yang menyiapkan menu camilan bagi anggota keluarganya. Beberapa di antaranya membeli kue untuk menu sarapan bagi sang anak, sebelum berangkat ke sekolah.

“Berbagai jenis kue tradisional, salah satunya Lupis, menjadi kue favorit saat pagi hari untuk pengganti menu sarapan, dengan bahan beras ketan menjadi asupan karbohidrat pengganti nasi,” terang Yeni Farida, saat ditemui Cendana News, Sabtu (5/1/2019).

Menurutnya, Lupis dibuat dengan cara sederhana. Bahan-bahan yang diperlukan pun mudah diperoleh, di antaranya beras ketan, gula aren, tepung tapioka, kelapa parut, dan garam.

Sebelum beras ketan dibuat Lupis, terlebih dahulu direndam dalam air kapur sirih, untuk membuat empuk beras selama proses perebusan. Setelah proses perendaman, beras ketan dibilas dengan air bersih lalu ditiriskan.

Sembari menunggu beras ketan ditiriskan, daun pisang jenis kepok sebagai pembungkus dilayukan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari.

Setelah daun disiapkan, beras ketan dibungkus dengan takaran satu sendok, dan dibentuk segitiga, lalu disemat menggunakan lidi. Setelah semua beras ketan dibungkus daun pisang, tahap berikutnya dilakukan proses mengukus menggunakan dandang.

“Saya kukus beras ketan yang sudah dibungkus memakai dandang pada tungku tanah berbahan bakar kayu, karena lebih hemat dibandingkan memakai bahan bakar gas,” terang Yeni Farida.

Sembari menunggu matang, Yeni Farida menyiapkan kelapa parut dan saus gula aren. Kelapa parut yang digunakan berasal dari jenis kelapa setengah tua, agar memiliki rasa yang lebih gurih serta empuk.

Selanjutnya pembuatan saus gula aren, dilakukan dengan mengiris gula merah dan tambahan tepung kanji. Irisan gula aren dan tepung kanji direbus pada air mendidih hingga tercampur sempurna, lalu saus gula aren dimasukkan dalam botol.

Idayati, warga Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, memilih menyantap lupis sebagai menu sarapan pagi -Foto: Henk Widi

Sekali proses pembuatan Lupis, Yeni Farida membutuhkan satu kilogram beras ketan, yang menjadi ratusan bungkus Lupis. Selain dijajakan sendiri, sebagian Lupis dititipkan di sejumlah warung yang menjual makanan tradisional.

Yeni Farida mengatakan, Lupis memiliki ciri khas, yakni disajikan dengan parutan kelapa. Sebelum dibeli, Lapis dmasih dalam kondisi terbungkus dan akan dibuka, lalu digulingkan pada parutan kelapa yang dihamparkan pada kertas nasi.

“Setelah dicampur dengan parutan kelapa, saya letakkan pada daun pisang dengan cara dipincuk, lalu diberi siraman saus gula aren,” terang Yeni Farida.

Idayati (44), pelanggan Lupis di Desa Kelawi, Bakauheni, mengatakan, jika suami dan dan anak-anaknya menyukai Arem-arem, Lupis dan Tempe Goreng sebagai menu pagi hari.

Camilan berbahan beras ketan tersebut, diakuinya bisa digunakan sebagai pengganti menu sarapan nasi. Dengan tekstur yang lembut, Lupis dari beras ketan terasa nikmat saat disantap.

“Bagi anak-anak, Lupis cocok untuk pencernaan saat pagi hari, energi dari karbohirat menggantikan nasi, karena anak-anak susah untuk sarapan nasi,” beber Idayati.

Taburan parutan kelapa dengan sensasi rasa gurih, dipadukan saus gula aren, kata Idayati, pun sudah disukainya sejak kecil. Ia bahkan menyebut, kue tradisional yang kerap menjadi jajanan pasar tersebut hanya bisa ditemui di pasar tradisional.

Ia merasa beruntung, salah satu warga Desa Sidoluhur masih menekuni usaha kuliner tradisional, Lupis. Selain enak, harganya juga terbilang murah.

“Satu porsi berisi dua Lupis, Rp2.000. Selain mengenyangkan, Lupis dibuat dengan bahan alami, termasuk bungkus daun pisang yang masih segar,” pungkasnya.

Lihat juga...