MA Bertekad Kembali Raih Kepercayaan Masyarakat

Editor: Satmoko Budi Santoso

225

JAKARTA – Berbagai prestasi yang diraih oleh pengadilan Indonesia dewasa ini sudah cukup membanggakan. Tugas terpenting pengadilan selanjutnya adalah merebut kembali kepercayaan masyarakat kepada lembaga peradilan. Karena itu, prestasi-prestasi tersebut haruslah diorientasikan untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, khususnya pencari keadilan.

“Dengan diraihnya kepercayaan masyarakat terhadap pengadilan, maka tidak ada lagi masyarakat yang akan ‘kasak kusuk’ dalam menuntut hak dan mendapatkan keadilan,” kata Sekretaris Mahkamah Agung, Ahmad. S. Pudjoharsoyo di Gedung MA, Jakarta, Selasa (8/1/2019).

Untuk meraih kepercayaan publik tersebut, Pudjoharsoyo menawarkan setidak-tidaknya dua strategi utama, yakni peningkatan kualitas pelayanan dan pergeseran mindset aparatur pengadilan.

Berbagai terobosan yang dikreasikan oleh Mahkamah Agung dan Badan Peradilan di bawahnya, seperti Akreditasi Penjaminan Mutu yang sudah diraih oleh hampir seluruh satuan kerja pengadilan, pengembangan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), dan pengadilan berbasis elektronik (e-court).

“Hal ini harus dapat diorientasikan sebagai langkah nyata meningkatkan kualitas pelayanan, bukan sekadar meraih sertifikat atau pengakuan semata. Pertanyaan bagi kita semua, apakah kita akan berhenti ketika sudah memperoleh sertifikat akreditasi A Excellent?” ujarnya.

Menurut Pudjoharsoyo, terobosan-terobosan tersebut adalah sarana untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Tujuan reformasi birokrasi adalah memberikan pelayanan publik yang prima. Pudjoharsoyo pun mengingatkan dengan hasil survei yang disebutkan dalam dokumen International Framework for Court Excellence.

“Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa persepsi mereka yang menggunakan jasa pengadilan lebih dipengaruhi oleh bagaimana mereka diperlakukan dan apakah prosesnya terlihat adil. Ketimbang apakah mereka menerima hasil yang disukai atau tidak,” ungkapnya.

Berdasarkan pernyataan tersebut, lanjut Pudjoharsoyo, maka yang perlu dilakukan oleh aparatur pengadilan adalah menunjukkan bahwa proses untuk mencapai putusan akhir atau keadilan itu dilakukan secara transparan, sehingga dirasakan bahwa proses itu adalah proses yang adil.

Kecuali peningkatan kualitas pelayanan, strategi lain untuk meraih kepercayaan publik adalah pergeseran mindset aparatur pengadilan untuk menjadi lebih baik.

“Caranya adalah dengan meresapi ke dalam hati makna di balik terobosan-terobosan yang dikembangkan oleh institusi. Jika tidak diresapi sampai ke dalam hati, semua ini tidak akan ada gunanya. Boleh jadi kita tidak akan mencapai peradilan Indonesia yang agung pada tahun 2035,” jelasnya.

Baca Juga
Lihat juga...