Manis Legitnya Madumongso Khas Kota Malang

Editor: Koko Triarko

333

MALANG – Madumongso merupakan salah satu jajanan tradisional yang memiliki citarasa dominan manis legit, dan sedikit masam. Biasanya, jajanan berbahan dasar ketan ini dapat ditemui pada acara-acara tertentu, seperti perayaan hari raya Idul Fitri maupun dijadikan sebagai jajanan hantaran pernikahan.

Proses pembuatannya yang memakan waktu hingga berhari-hari, menyebabkan tidak banyak orang yang mau membuatnya, meskipun peminatnya masih cukup banyak.

Saat ini, di Malang hanya beberapa orang saja yang masih setia memproduksi Madumongso, seperti Anisya Bachlia, bersama orang tuanya.

Anisya Bachlia menunjukkan produk Madumongso Lestari -Foto: Agus Nurchaliq

Di rumahnya yang berada di kawasan jalan Ir. H. Juanda, kelurahan Jodipan, Blimbing, Kota Malang, ia sejak lima tahun yang lalu bersama ibunya sudah mulai merintis usaha pembuatan Madumongso ‘Lestari’.

“Usaha ini sudah dirintis selama lima tahun. Ibu yang membuat Madumongso, sedangkan saya bagian pemasarannya,” terangnya.

Meskipun tidak di bagian produksi, Anisya mengaku sedikit banyak juga mengetahui proses pembuatan Madumongso, mulai dari bahan mentah hingga diolah menjadi Madumongso yang manis legit.

Anisya menjelaskan, untuk membuat Madumongso dibutuhkan perpaduan antara ketan hitam dan ketan manis, dengan komposisi dua kilogram ketan hitam dan setengah kilogram ketan putih.

“Ketan putih ini berfungsi untuk melengketkan,” ujarnya.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah perendaman. Ketan hitam dan putih direndam selama satu malam. Setelah direndam, selanjutnya ketan hitam dan putih ditanak untuk kemudian dicampur.

“Setelah ketan dicampur, kemudian dijadikan tape di dalam baskom dengan menggunakan ragi, dan ditutup daun pisang. Proses pentapean ini memakan waktu selama tiga hari,” terangnya.

Selanjutnya membuat jenangnya dari dua buah kelapa, yang dijadikan santan dan dua kilogram gula putih yang dimasak dan diaduk sampai mengental.

Setelah mengental, campurkan tape ketan dan diaduk kembali sekitar empat jam, untuk kemudian dikemas.

“Proses pembuatan mulai awal sampai akhir membutuhkan waktu kurang lebih selama 5 sampai 6 hari, mulai dari proses perendaman sampai pengemasan,” sebutnya.

Anisya tidak menampik, bahwa dalam proses pembuatan Madumongso tetap menggunakan bahan pengawet, agar bisa bertahan lama. Namun, takaran bahan pengawet yang digunakan terbilang sedikit sekali, sehingga Madumongso buatannya hanya bertahan selama dua minggu di suhu ruang.

“Kita menggunakan sedikit bahan pengawet, agar tahan lama. Dari tiga kilogram bahan madumongso, kita hanya memberikan pengawet setengah gram,” akunya.

Menurutnya, takaran bahan pengawet memang sedikit, karena jika terlalu banyak menggunakan bahan pengawet, selain berbahaya bagi kesehatan, juga bisa mengurangi cita rasa dari Madumongso.

Saat ini, Madumongso Lestari dijual online maupun offline, dititipkan di pasar, dengan harga per kemasan bervariasi, tergantung banyaknya.

“Harga Rp40 ribu isi 36, dan delapan ribu isi enam,” ucapnya.

Diakui Anisya, dibandingkan dengan jajanan lainnya, usaha madumongso termasuk yang relatif sedikit pesaingnya, karena sudah jarang orang yang mau membuatnya.

Baca Juga
Lihat juga...