Masjid Al Jihad Boriay Butuh Uluran Tangan

Editor: Mahadeva

Begini lah kondisi Masjid Al Jihad yang berada di Dusun Boriay Desa Sinakak Pagai Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai/Foto: M. Noli Hendra 

MENTAWAI – Masjid Al Jihad, yang berada di Dusun Boriay Desa Sinakak Pagai Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, kondisinya memprihatinkan. Masjid tersebut berada daerah tertinggal di Sumatera Barat, yang sebagian besar pendudukan adalah muslim.

“Saya memang sengaja mendatangi daerah yang terbilang tertinggi. Maksudnya tertinggal, benar-benar kondisi daerahnya memprihatinkan. Begitu juga di Mentawai, ada masjid yang sungguh menyentuh hati saya. Kondisinya memprihatinkan,” tutur Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit sewaktu mengunjungi Mentawai dan melihat langsung kondisi Masjid Al Jihad, Sabtu (19/1/2019).

Nasrul Abit menilai, Masjid Al-Jihad sangat membutuhkan bantuan. Hal itu agar, masjid tetap dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Terutama dalam kegiatan pendidikan keagamaan bagi masyarakat disekitar Boriay.  Daerah tersebut, selain belum mendapatkan aliran listrik dan penerangan, juga membutuhkan pembangunan jaringan telekomunikasi. Oleh karenanya, daerah tersebut betul-betul butuh sentuhan pembangunan secepatnya.

“Kita bersyukur Masjid Al Jihad dibangun secara bergotong-royong oleh masyarakat Boriay. Selain menjadi tempat beribadah juga dipergunakan untuk pertemuan masyarakat dalam berbagi informasi serta pendidikan keagamaan,” tambahnya.

Salah seorang warga Dusun Boriay, Agus Sumarto Samaloisa, menyampaikan, Masjid Al Jihad terletak di atas perbukitan dengan ketinggian di atas 50 meter dari permukaan laut. Butuh berjalan kaki sejauh dua kilometer dari lokasi dermaga Boriay, untuk sampai ke masjid tersebut. Dahulu masjid tersebut berada di dekat dermaga Boriau, namun karena ada tsunami Nias di 2007, yang berdampak air naik setinggi 150 meter, akhirnya masjid dipindah ke perbukitan.

Dan semenjak tsunami tersebut, masyarakat Boriay berbondong-bondong, membuat perumahan baru di atas bukit, untuk menghindari air pasang dan tsunami.  “Saat ini beberapa masyarakat masih juga tinggal dirumah dekat dermaga karena kehidupan mereka sebagai nelayan. Selain sebagai nelayan, beberapa orang masyarakat juga memiliki kebun dan sawah, pinang, coklat, dan juga ada kebun cengkeh,” tambah Agus.

Agus menyebut, Masjid Al-Jihad memiliki ukuran 20×20 meter, dibangun di 2008 lalu. Jamaah masjid jumlahnya lebih dari 100 orang. Saat ini, bangunan masjid masih berlantai cor semen kasar, dinding kayu dan baru tersedia lima buah tikar.

Imam dan guru mengaji bernama uztad Basril dan Jarman. Untuk kegiatan mengaji jumlah Al qur’an baru ada 10 buah. “Kita berharap masjid Al-Jihad dapat dibangun permanen kuat, selain tempat rumah ibadah juga sebagai pelarian jika terjadi gempa dan tsunami bagi semua orang di dusun Boriay. Karena bantuan, sumbangan dari pemerintah dan masyarakat muslim lainnya tentulah kami harapkan,” harap Agus Sumarto.

Lihat juga...