Membabar Makna Filosofi Arsitektur Pendopo Agung Sasono Utomo TMII

Editor: Koko Triarko

511

JAKARTA – Pendopo Agung Sasana Utama adalah bangunan utama Taman Mini Indonesia Indah (TMII),  bercorak Joglo, arsitektur tradisional Jawa yang bermakna kehidupan manusia.

“Bangunan ini merupakan bangunan utama yang menjadi lambang persatuan, makna dari TMII. Pendopo Sasono Utomo juga menjadi gerbang utama dalam pengenalan nilai budaya bangsa yang direfleksikan di TMII,” ungkap Manajer Sasono dan Puri TMII, Dwi Dwinyarto, kepada Cendana News, Rabu (23/1/2019).

Pendopo ini memiliki teras upacara yang letaknya lebih tinggi dari Plaza Tugu Api Pancasila. Seluruh ornamen pada gedung ini berpola tradisional dan naturalistik. Di bagian dalam pendopo, terdapat empat tiang utama terbuat dari ukiran Jepara dari kayu jati pilihan.

“Empat tiang utama berbahan kayu jati terhiasi ukiran Jepara ini disebut soko guru, memiliki makna simbolik dan memberikan kesan agung. Kisah yang terdapat dalam keempat soko guru diambil dari legenda Ramayana,” ungkap Dwi Windyarto.

Empat Soko Guru dengan ukiran Jepara menghiasi dalam ruangan Pendopo Sasono Utomo TMII, Jakarta. -Foto: Sri Sugiarti

Lebih lanjut dijelaskan, keempat soko guru yang diukir oleh 140 seniman Indonesia ini, mengandung falsafah seputar kehidupan manusia. Yakni, kesetiaan seorang anak kepada orang tua, kerukunan antarsaudara, dan rasa setia saudara muda kepada saudara tua, atau dharma satryatama pahlawan, untuk melenyapkan keresahan dunia demi keadilan dan keberanan.

Serta setia bakti kesucian seorang wanita kepada suami, tanggung jawab dan rasa sayang seorang pria kepada istrinya sebagai pancaran cinta kasih.

Soko guru pertama, jelas dia, menyajikan cerita pertemuan Prabu Dasarata dengan putra-putrinya untuk membahas rencana pengunduran dirinya. Juga penobatan Raden Ramawijaya sebagai raja baru.

Namun,  permaisuri muda,  Dewi Kekayi memohon agar putra kandungnya, yaitu Raden Barata dinobatkan sebagai raja. Sementara Raden Ramawijaya diminta untuk meninggalkan kerajaan selama 14 tahun.

Prabu Dasarata mengabulkan permohonan tersebut, dan  Raden Ramawijaya menerima dengan lapang dada.

Ada pun soko guru kedua, mengambarkan tentang kisah kesetiaan Barata terhadap Ramawijaya. Barata menyusul Raden Ramawijaya ke Hutan Dhandaka. Barata membujuk Ramawijaya, agar kembali ke kerajaan untuk menjalankan pemerintahan.

Ramawijaya menolak, karena alasan menjalankan tugas yang diterima dari ayahnya. Akhirnya, atas kesepakatan berdua, Ramawijaya menjadi raja, sedangkan Barata menjadi wakil raja. Keduanya menjalankan roda pemerintahan.

Soko guru ketiga, mengisahkan sikap kepahlawanan yang ditujukan oleh para resi dan brahmana di hutan Dhandaka, ketika mendapat gangguan dari raksasa Alengkadiraja.

Para brahmana ini mendatangi tempat tinggal Ramawijaya untuk meminta bantuan. Berkat kesaktian Ramawijaya dan Laksmana, para raksasa pengganggu dapat dimusnahkan.

Terakhir, soko guru ke empat. Ini mengisahkan kesetiaan dan cinta kasih antara Ramawijaya dan Dewi Sinta. Dewi Sinta menolak berbagai upaya Rahwana untuk mendapatkannya. Sementara, Ramawijaya berupaya membebaskan Dewi Sinta, betapa pun sulitnya.

Manajer Sasono dan Puri TMII, Dwi Dwinyarto. -Foto: Sri Sugiarti

Pendopo ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas latar belakang dan gandok. Tersaji empat trap untuk mencapai pendopo, dan satu tingkat untuk peningilan yang mencerminkan falsafah Pancasila.

“Sedangkan teras upacara dicapai dengan tiga trap. Jadi, keseluruhan ada delapan buah trap, merupakan ciri manusia berwatak utama hasta Barata,” katanya.

Di sebelah belakang dari pendopo, ada rana penyekat ruangan yang terdiri dari tujuh bagian. Adanya rana penyekat ruang yang membatasi Pendopo Sasono Utomo dengan Sasono Langen Budoyo. Yakni, pendopo ini suatu penggambaran secara material kelengkapan dari pemerintahan.

Sedangkan Sasono Langen Budoyo,  menggambarkan aspek kebudayaan atau spiritual Indonesia, yang harus dibangun dalam keseimbangan yang selaras dan terukir, dengan indahnya dalam cerita wayang yang melambangkan perjalanan Indonesia.

“Dari ukiran indah itulah, kita dapatkan lambang-lambang dari bangsa. Yakni, dalam arti masa lampau, masa transisi, masa sekarang dan masa yang akan datang,” katanya.

Jadi, sambungnya, suatu pengambaran dari wayang ke nonwayang yang dapat kita simpulkan. Bahwa setelah melewati masa perjuangan yang berat dan penuh bahaya telah mengantar bangsa kita untuk mencapai kemerdekaan.

Menunjukkan adanya proses regenerasi kultural dari generasi tua kepada generasi muda. Adanya lanjutan cerita wayang kepada legenda-legenda, merupakan gambaran yang nyata tentang adanya masa transisi dari bangsa Indonesia.

Dengan tampilan Raden Parikesit memegang tampuk pimpinan di Hastinapura, merupakan gambaran sejarah baru di negeri ini. Suatu pergantian generasi dari angkatan lama kepada baru.

Setelah penobatan itu, timbullah konsepsi baru, yaitu peningkatan perdamaian dunia. Hingga ada satu pola, yaitu pola kesejahteraan masyarakat.

“Kisah pewayangan ini kalau kita lihat dan teliti adanya pergantian orde di Indonesia dari Orla ke Orba. Di mana setelah pemerintahan yang dipimpin oleh Presiden Soeharto, timbul satu pola baru, yaitu pola pembangunan. Ini merupakan program pokok demi kesejahteraan masyarakat,” jelas Dwi.

Dalam pemerintah sekarang inilah, lanjutnya, sudah ditinggalkan satu era perjuangan secara fisik, berganti dengan era pembangunan secara utuh dari manusia untuk manusia. Demi kesejahteraan bangsa Indonesia dan perdamaian dunia.

“Masa lampau telah dilewati dengan perjuangan, masa transisi telah dilampaui dengan sukses. Maka, dari masa yang sekaranglah kita akan melangkah dengan tegas dan penuh percaya diri, untuk menuju masa depan yang gemilang,” jelas Dwi.

Dengan lukisan kisah dari berbagai lakon wayang sebagai perjalanan hidup Raden Parikesit, dari sebelum dilahirkan sampai menjadi raja. “Kisah ini yang melambangkan sejarah Indonesia masa lalu, masa kini dan masa depan serta masa transisi yang harus dilalui oleh bangsa Indonesia,” jelasnya.

Pendopo Sasono Utomo TMII ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 1975. Selama puluhan tahun sejak didirikan, Pendopo Sasono Utomo berfungsi sebagai tempat menerima tamu-tamu terhormat. Seperti kepala negara, kepala pemerintahan maupun undangan penting pada acara-acara resmi.

Di pendopo ini,  para tamu negara diperkenalkan tentang Indonesia dalam semua bidang. Usai pemaparan tentang Indonesia, termasuk filosofi bangsa, Pancasila dan Bhinneka Tunggal ika, para tamu negara akan diajak keliling Indonesia dengan melihat anjungan-anjungan provinsi yang tersaji di areal TMII.

Namun sayangnya, kata Dwi, sejak Presiden Soeharto berhenti, kebiasaan penerimaan tamu negara di Sasono Utomo TMII, itu tidak dilanjutkan.

Saat ini, Pendopo Sasono Utomo telah berkembang menjadi gedung serba guna. Dengan luas bangunan 3.000 meter persegi dan berdaya tampung 2.500 orang, selain digunakan untuk menerima tamu-tamu VIP, juga dapat disewa  oleh masyarakat umum untuk keperluan resepsi pernikahan, wisuda, seminar, dan pameran baik skala nasional maupun internasional.

Lokasi Pendopo Sasono Utomo ini sangat strategis, karena terletak di depan pintu masuk utama TMII.

Baca Juga
Lihat juga...