hut

Menkeu Klaim Dana Desa Entaskan Warga dari Kemiskinan

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Dana Desa yang pada tahun ini naik menjadi Rp70 triliun, dari sebelumnya yang hanya Rp60 triliun, diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengentaskan kemiskinan.

Dari anggaran dana desa, sudah dibangun lebih dari 1.191 kilometer jalan desa,lebih dari 1.140 jembatan, 4.175 lebih embung dan 24 ribu lebih Posyandu. Juga 959 ribu unit sarana air bersih, 240 ribu MCK, 9.600 lebih polindes dan 50 ribu lebih PAUD.

“Jadi, kita telah mencapai cukup banyak  keberhasilan. Saya berharap, kepala desa-kepala desa mulai berpikir dari jumlah pencapaian tersebut, desa saya sudah menyumbangkan berapa?” sebut kata Sri Mulyani, Menteri Keuangan RI, Jumat (25/1/2019) sore.

Dalam kegiatan desiminasi dana desa bagi para kepala desa dari kabupaten Lembata, Flores Timur, Sikka dan Ende yang berlangsung di Maumere, Sri Mulyani, mengatakan, dana desa terbukti telah mengurangi jumlah penduduk miskin di desa.

Menurutnya, terlihat kemiskinan  di desa turun, dari 17,8 juta jiwa di desa miskin, sekarang menjadi 15,8 juta. Ada penurunan sebanyak 2 juta penduduk miskin dalam waktu hanya 4 tahun.

“Kita berharap, itu akan dilakukan di semua desa, sebab kalau semua desa melaporkan kemiskinan makin turun maka  secara nasional akan semakin turun. Kita juga telah meningkatkan status desa,” jelasnya.

Desa yang semula disebutkan desa tertinggal sebanyak 6.580 desa kata Sri, sekarang sudah menjadi desa berkembang. Sebanyak 2.665 desa yang semula desa berkembang, sekarang menjadi desa mandiri.

Dirinya berharap, agar desa yang ada di kabupaten Sikka, Flotim, Lembata dan Ende, semakin banyak yang desanya menjadi desa mandiri . Dana Desa semakin banyak, semua orang ingin dirikan desa sekarang.

“Ini adalah kesempatan emas bagi kita untuk menunjukkan, bahwa kalau ada uang dan kalau ada program serta keinginan, maka kita mampu membuat rakyat sejahtera. Di tingkat masyarakat, itu betul-betul bisa diwujudkan,” harapnya.

Menurut Sri Mulyanil, penggunaan dana desa menyebabkan kenapa ada desa yang sangat sukses, tapi ada desa yang biasa-biasa saja. Selain itu,  ada desa yang bahkan sama sekali tidak bergerak walaupun ditambah anggarannya.

“Untuk tahun 2019, ini, dengan pagu Rp70 triliun, yaitu naik Rp10 triliun kita membuat formulasi yang makin afirmasi kepada desa yang tertinggal. Alokasi formula untuk desa tertinggal dinaikkan dari 20 persen menjadi 25 persen, artinya desa yang tertinggal akan dapat uang lebih banyak.

“Semakin besar jumlah penduduk miskin di desa tersebut, maka anggaran yang didapat semakin besar pula. Kepada seluruh kepala desa, kita berharap supaya bisa menghasilkan yang lebih baik karena selama ini masih banyak penyakit dari penggunaan dana desa yang kurang baik,” tegasnya.

Kualitas dari perangkat desanya tidak baik tandas Sri, sehingga perencanaan pembangunannya kurang. Bahkan ada kepala desanya yang kena Operasi Tangkap Tangan (OTT) aparat penegak hukum.

Selain kualitas, sambungnya, juga integritas. Banyak desa yang sekadar ikut-ikutan. Bila desa lain bangun jalan, desa lain pun ikut bangun jalan, padahal kebutuhan setiap desa berbeda.

“Jadi, jangan sampai karena tidak punya ide akhirnya dana desa itu tidak terpakai, sebab tantangan ke depan semakin tinggi. Dana yang lebih banyak tahun berikutnya dipakai untuk apa kalau tidak dipakai untuk usaha desa atau BUMDEs?” tuturnya.

Sri mencontohkan desa di daerah Klaten dimana dana desa tahun pertama dialokasikan sebesar Rp200 juta  untuk BUMDes.Saat ini BUMDes sudah  punya aset Rp15 miliar, hanya memiliki mata air yang kemudian dibuat menjadi tempat pariwisata yang bagus.

“Jadi, bukan tidak mungkin, ceritera sukses itu sudah ada. Cukup banyak, bahkan ada kepala desa bisa mendapatkan gaji sampai Rp20 juta dari usahanya di BUMDEs nya,” kata Sri.

Dirjen Perimbangan Keungan Kementrian Keuangan RI, Astera Primanto Bhakti, mengatakan, masih banyaknya permasalahan yang ditemui dalam pelaksana Aan Dana Desa seperti mati, ditemuinya pengelolaan dana desa yang belum sesuai dengan ketentuan, baik dalam perencanaan kegiatan, penyusunan laporan untuk kepentingan penyaluran dan juga pertanggungjawaban serta pengolahan.

Kegiatan diseminasi dana desa yang diadakan di Maumere, kata Astera, untuk meningkatkan pengetahuan para kepala desa, perangkat desa  dalam melaksanakan  pengelolaan dana desa yang lebih baik.

“Kegiatan ini untuk meningkatkan keahlian dari aparatur Pemda dan desa dalam mengelola Dana Desa, sehingga Dana Desa menjadi lebih efektif dalam mendorong perekonomian di desa,” ungkapnya.

Para Kepala Desa, camat serta pimpinan OPD dari kabupaten Lembata,Flotim,Sikka dan Ende saat acara desiminasi dana desa oleh Kementrian Keuangan RI.Foto : Ebed de Rosary

Lihat juga...