Mesir Tangkap 54 Tersangka Perencana Kekerasan

196
Ilustrasi Bendera Mesir

KAIRO — Pasukan keamanan Mesir menangkap 54 ornag termasuk tersangka anggota Ikhwanul Muslimin, untuk rencana melancarkan unjuk rasa dan melakukan kekerasan dalam memperingati pemberontakan tahun 2011, demikian menurut Kementerian Dalam Negeri, Selasa (29/1/2019) waktu setempat.

Kementerian mengatakan bahwa kelompok tersebut diarahkan oleh seorang ketua Ikhwanul Muslimin yang bermarkas di Turki, dan perlengkapan serta uang untuk sabotase yang mereka miliki juga telah diketemukan.

Pernyataan tersebut diumumkan setelah pasukan keamanan menahan mantan juru bicara aliansi oposisi, Gerakan Demokrasi Sipil, dalam serangan menjelang fajar, kata pengacaranya dan seorang anggota aliansi.

Gerakan tersebut merupakan penggabungan dari kelompok sayap-kiri dan Partai Liberal termasuk Partai Aliansi Sosialis Populer, Partai Demokrasi Sosial Mesir, Partai Roti dan Kebebasan.

Serbuan itu juga dilakukan setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron membuat kesimpulan dari tiga hari lawatannya ke Mesir dan pada saat itu dia menyampaikan keprihatinannya atas masalah Hak Asasi Manusia di negara itu dalam pembicaraannya dengan Presiden Mesir, Abdel Fattah al-Sisi.

Sisi yang mendepak Presiden Mohammed Moursi dari Ikhwanul Muslimin pada 2013 dan yang kemudian terpilih sebagai presiden pada tahun berikutnya, mengambil tindakan keras terhadap kaum islamis dan kelompok oposisi liberal.

Ikhwanul Muslimin mendapat kekuasaan di Mesir dalam pemilu modern yang pertama pada 2012, setahun setelah Hosni Mubarak, pemimpin Mesir yang memerintah cukup lama, disingkirkan dalam suatu pemberontakan yang terkenal.

Namun gerakan tersebut sekarang dilarang, dan ribuan pendukungnya serta banyak pemimpinnya kini dipenjarakan.

Ikhwanul Muslimin membantah keterkaitan mereka dengan kelompok militan dan gerakan mereka adalah untuk politik yang damai.

“Terdapat informasi bahwa para pemimpin yang melarikan diri (Ikhwanul Muslimin) sedang menyusun rencana untuk membuat kekacauan pada Januari dan Februari, seiring dengan peringatan Revolusi 25 Januari,” demikian pernyataan dari Kementerian Dalam Negeri.

Sosok yang dituding berada di balik rencana serangan adalah Yasser al-Omda dengan menyebut bahwa kelompoknya akan menggangu lalu lintas, menutup jalan dan menciptakan kekacauan pada warga.

Pernyataan itu tidak menyebutkan nama-nama mereka yang ditangkap tetapi mengatakan mengambil langkah-langkah hukum terhadap mereka sejalan dengan prosedur keamanan negara.

Mantan juru bicara Gerakan Demokrasi Sipil, Yahya Hussein Abdel Hadi disebut ditahan dalam serangan Selasa pagi, kata Khaled Dawoud angota aliansi.

Negad al-Borai, seorang pegiat dan pengacara Abdel Hadi juga membenarkan penahanan tersebut.

Abdel Hadi telah diperiksa pada November dengan tuduhan menghina presiden, mengganggu perdamaian masyarakat dan menebar berita palsu di Facebook, kemudian dibebaskan dengan jaminan 10 ribu pound Mesir (570 dolar AS).

Dawoud mengatakan belum mengetahui apakah penahahan kali ini terkait dengan penahanan sejumlah tokoh oposisi yang ditahan pada Sabtu setelah merayakan peringatan 25 Januari. Kementerian Dalam Negeri belum memberikan tanggapan atas pertanyaan mengenai hal tersebut. [Ant]

Lihat juga...