MRT Fase II, Peletakan Batu Pertama Januari 2019

Editor: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar, mengatakan, groundbreaking dipastikan akan dilaksanakan setelah pihaknya menyelesaikan lelang paket receiving substation (RSS) atau gardu listrik di Monas. Groundbreaking akan dimulai dengan pembangunan gardu listrik Monas.

Proyek Mass Rapit Transit (MRT) Fase II Bundaran Hotel Indonesia-Stadion BMW rencananya akan groundbreaking atau peletakan batu pertama pada Januari ini.

“Kita sedang merencanakan prosesnya, sudah dapat pemenangnya, Januari groundbreaking RSS (Gardu Distribusi Listrik atau Receiving Substation),” kata Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar, di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, Selasa (8/1/2019).

Pihak PT MRT Jakarta tengah mengurus rekomendasi dari Sekretariat Negara terkait keamanan Istana Negara. William mengungkapkan, Direktur Konstruksi MRT Jakarta, Silvia Halim, sudah melakukan rapat dengan Kementerian Sekretariat Negara (Setneg) untuk mendapatkan rekomendasi.

Pasalnya akan dibangun stasiun di kawasan Monumen Nasional, tepatnya di depan Kementerian Perhubungan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.

“Pemenangnya sudah dapat tinggal menunggu rekomendasi lahan, rapat hari ini dengan Setneg. Bu Silvi lagi di sana, yang Monas. Lahan sudah ada sekarang tinggal rekomendasi Setneg. Stasiun di depan Kemenhub. Kita harus dapat rekomendasi Setneg karena kawasan Monas kawasan ring 1. Nah sekarang sedang dalam pembahasan mudah-mudahan segera keluar,” ujar Wiliiam.

William menjelaskan, rekomendasi Setneg dibutuhkan karena terkait pengamanan Istana Kepresidenan Jakarta yang hanya berjarak 500 meter dari lokasi pembangunan stasiun.

MRT fase II yang tadinya ditetapkan dari Bundaran HI-Kampung Bandan, diubah menjadi Bundaran HI-Stadion BMW lewat Ancol. Pasokan listrik MRT fase II akan bersumber dari gardu listrik Monas. Lokasinya berada di Jalan Medan Merdeka Barat dekat Taman Pandang Istana.

Gardu listrik itu akan jadi gardu listrik pertama di Indonesia yang sepenuhnya berada di bawah tanah.

Lelang yang digelar sejak pertengahan 2018 gagal karena yang mengikuti sedikit. Lelang akhirnya digelar ulang dan dimenangkan kontraktor swasta nasional.

Selain itu dia juga mengaku, PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta akan menjalankan tahap uji coba operasi penuh kepada masyarakat pada 26 Februari 2019. Meski begitu, uji coba dilakukan secara restriktif.

Menurut dia, uji coba secara penuh dilakukan selama satu bulan. Proses ini demi memperoleh tanggal pasti untuk MRT Jakarta beroperasi secara penuh.

‎”Kalau sekarang itu parallel trial run. Nanti itu untuk dibuka ke publik, tapi terbatas. Ya, semacam soft launching,” jelasnya.

Menurut dia, manajemen akan mengejar penyelesaian pembangunan agar bisa beroperasi di Maret 2019. Setidaknya segala upaya dilakukan agar target pembangunan bisa tercapai dengan baik.

“Untuk memperkenalkan MRT ini ya, karena kita segera beroperasi dalam waktu yang singkat, bulan Maret 2019. Jadi memperkenalkan kepada publik tentang pengoperasian bulan Maret. Setiap hari ada kegiatan di situ dan sebulan sekali kita melakukan kegiatan yang sifatnya melibatkan publik secara universal,” ungkapnya.

Diketahui, berdasarkan jadwal, MRT Jakarta mulai beroperasi Maret 2019. Fase 1 MRT Jakarta dengan rute Lebak Bulus-Bundaran HI akan menggunakan 16 rangkaian kereta. Dari 16 rangkaian itu, 14 rangkaian akan digunakan untuk operasional dan dua sisanya untuk cadangan. Satu kereta bisa memuat 200-300 penumpang dengan jumlah maksimal sekitar 1.800 penumpang untuk satu rangkaian.

Kecepatan rangkaian kereta MRT bisa mencapai 80 kilometer per jam di bawah tanah dan bisa meningkat hingga 100 kilometer per jam di permukaan tanah. Dengan begitu, perjalanan dari Stasiun Lebak Bulus ke Bundaran HI, butuh waktu 30 menit.

Lihat juga...