Murid SD Inpres di Sikka Terpaksa Belajar di Ruang Perpusatakaan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

209

MAUMERE — Sebanyak 19 murid Sekolah Dasar (SD) Inpres Nangameting di kelurahan Wairotang kecamatan Alok kota Maumere terpaksa menggunakan ruangan perpustakaan untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM).

“Sudah sejak setahun kami melaksanakan kegiatan belajar mengajar di ruangan perpustakaan. Untuk muridnya tidak banyak, sehingga ruangan masih mencukupi,” sebut Emiliana P. Namatuka, Amd, guru kelas IVB, SD Inpres Nangameting, Kamis (24/1/2019).

Untung saja, kata Emi sapaannya, 2018 lalu ada pembangunan 2 ruang kelas baru yang nantinya akan diperuntukan bagi murid kelas satu. Yang ada saat ini sebanyak 11 ruang kelas sementara jumlah rombongan belajar ada 12.

“Masih kekurangan sebuah ruang kelas lagi. Kami berharap pemerintah kabupaten Sikka melalui dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga dapat membangun sebuah ruang kelas lagi, sehingga semua murid belajar dengan nyaman,” tuturnya.

Selain itu Petronela H. Bria, guru SD Inpres Nangameting lainnya menjelaskan, sekolahnya pun kekurangan ruang kepala sekolah. Ruang guru terpaksa disekat dan dijadikan ruang kepala sekolah untuk sementara.

“Kami bersyukur dua ruang kelas tahun lalu sudah dibangun sehingga murid kelas 1 tidak perlu belajar di ruangan darurat berlantai tanah dan berdinding bambu belah,” ungkapnya.

SD Inpres
Emiliana P.Namatuka, Amd, guru kelas IVB (kiri) dan Petronela G.Bria guru agama Kristen SD Inpres Nangameting.Foto : Ebed de Rosary

Untuk saat ini, sebut Nela sapaannya, sekolahnya memiliki 15 guru dimana empat guru berstatus honor komite yang dibayar dari uang sekolah dari wali murid. Guru honerer tersebut terdiri dari dua guru mata pelajaran, satu guru pendidikan jasmani dan satu guru agama Kristen.

“Kepala sekolah dan satu orang guru agama Islam juga sudah pensiun. Makanya kami masih kekurangan guru agama Islam dan berharap dinas PKO Sikka dapat menyiapkan penggantinya,” harapnya.

Nela berharap para wali murid membayar uang sekolah tepat waktu sehingga pihaknya juga bisa membayar honor empat orang guru dan dua pegawai pegawai tata usaha tepat waktu.

“2018, waktu rapat dengan orang tua murid kami minta dinaikkan uang sekolahnya kalau bisa Rp30 ribu sebulan tapi banyak orang tua wali murid yang merasa keberatan. Saat ini uang sekolah masih sebesar Rp25 ribu per murid selama sebulan,” terangnya.

Disaksikan Cendana News, dua ruang kelas yang baru dibangun bulan September 2018 tersebut sudah mulai rampung. Para pekerja sedang melakukan finishing seperti mengecat dan membersihkan material yang tersisa.

Pembangunan berlangsung selama 150 hari kalender mengunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) dimana pagu anggarannya sebesar Rp286,3 juta. Pembangunan jamban dan MCK juga menggunakan dana DAK sebesar Rp81,9 juta.

Baca Juga
Lihat juga...