hut

Nuklir, Untuk Memantau Pencemaran Udara

Editor: Mahadeva

Peneliti Senior Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Prof.  Dr.  Muhayatun Santoso,  M. T. 

JAKARTA – Dari sekian banyak fungsi teknologi nuklir, salah satu yang jarang diketahui masyarakat adalah, fungsi menganalisis partikel yang terkandung di udara.

Hasil analisa partikel tersebut, dapat memberi informasi mengenai unsur apa saja yang terkandung di dalam konsentrasi udara yang diteliti. Sehingga mampu membantu memberikan data dan informasi mengenai kemungkinan adanya pencemaran.

Peneliti Senior Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Prof. Dr. Muhayatun Santoso, M.T, menyatakan, ada beberapa indikator parameter udara sehat. Seperti TSP, PM 2,5 atau PM 10. “Semua ini dalam mikrometer. Artinya, kalau PM 10, maksudnya partikel yang ada berukuran 2,5 sampai 10 mikrometer. Dan PM 2,5 maksudnya, partikel dengan ukuran 0 hinbgga 2,5 mikrometer. Untuk patokan, rambut manusia itu diameternya adalah 70 sampai 100 mikrometer. Jadi bisa dibayangkan kecilnya, ya,” kata Muhayatun, Selasa (22/1/2019).

Karena ukurannya, partikel PM 2,5 dapat masuk ke saluran pernapasan manusia, tanpa tersaring oleh bulu hidung sekalipun. “Ini sangat berbahaya. Karena akan masuk ke organ bagian dalam, dan juga masuk ke aliran pembuluh darah. Kalau PM 10, hanya bisa masuk hingga area tekak manusia,” urai Muhayatun.

Indonesia, menerapkan baku mutu PM 2,5, maksimal untuk setahun adalah 15 mikrogram per meter kubik. “PM 2,5 ini biasanya berasal dari antropogenic factor. Yaitu yang berasal dari aktivitas manusia. Seperti pembakaran dengan suhu tinggi, yang menyebabkan partikel menjadi kecil. Kalau dari alam, ukurannya besar,” tutur Muhayatun.

Partikel kecil akan semakin berbahaya, karena bersifat transborder. Bisa terbawa angin sampai jarak yang jauh, dan partikel tersebut, bisa bertahan lama di udara.  “Udara ini berbeda dengan air atau tanah. Kalau pencemaran di air atau tanah, dia akan tetap disana. Atau mengikuti alur air. Kalau di udara, bisa kemana-mana, dalam jarak yang jauh tergantung aliran angin,” papar Muhayatun.

Teknik Analisis Nuklir yang dimiliki Batan Bandung memiliki kemampuan untuk meneliti hingga unsur yang ada di konsentrasi udara sample. “DLH yang dikelola oleh KLHK, biasanya hanya meneliti konsentrasi udara dengan batasan sehat atau tidak sehat. Pantauan dilakukan enam bulan sekali. Seharusnya, pemantauan PM 2,5 dilakukan setiap hari. Tapi infrastruktur saat ini belum memadai. Baru Jakarta dan Surabaya yang memiliki alat pemantau harian,” tambah Muhayatun.

Dengan menggunakan teknik nuklir X-Ray Fluorescent (XRF) dan Gamma Ray, akan diketahui seluruh unsur logam berat yang terkandung di udara sample. “Jadi bisa diketahui timbal atau arsen-nya. Kalau kendaraan bermotor biasanya mengandung brom atau vanadium. Konsentrasi yang sudah ditimbang, akan ditembak dengan X-Ray atau dimasukkan ke radiator. Nanti partikel akan menunjukkan puncak-puncak yang mengindikasikan karakteristik masing-masing unsur,” urai Muhayatun.

Jika menggunakan Gamma Ray, saat dimasukkan ke radiator, partikel akan ditembak dengan neutron. Kemudian akan muncul karakteristik masing-masing unsur. “Dengan teknik ini, akan diketahui jumlah masing-masing partikel, dan akan bisa dipelajari dimana sumber pencemar. Ini dilakukan dengan menggabungkan data partikel dengan data pergerakan angin,” tutur Muhayatun.

Saat ini, sudah ada 17 site di Indonesia, yang bisa mengambil sample udara seminggu sekali. Sampel kemudian dikirim ke Batan Bandung untuk dianalisis. Lokasi site tersebut, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Tangerang, Pekanbaru, Medan, Palangkaraya, Balikpapan, Makassar, Manado, Maluku, Jayapura, NTB dan Denpasar.

Salah satu success-story-nya adalah Bandung. Semenjak pelarangan bensin bertimbal, kadar PM 2,5 -nya menurun secara signifikan. Walaupun kondisi Bandung saat ini memiliki lebih banyak kendaraan bermotor.

Lihat juga...