Pak Harto Bangun Indonesia dari Negara Miskin Menjadi Berkembang

Jurnalis: Bijo Dirajo

1.153

YOGYAKARTA – Keberhasilan Jenderal Besar HM Soeharto mengangkat taraf hidup masyarakat Indonesia, menjadi sebuah jasa yang sangat besar bagi Indonesia. Pak Harto Berhasil membuat masyarakat mudah mendapatkan sandang, pangan dan papan.

“Pak Harto membangun Indonesia dari kondisi negara miskin hingga menjadi negara berkembang, hingga saat mau tinggal landas,” tutur Kepala Museum HM Soeharto, H. Gatot Nugroho S.Pt , saat menerima kunjungan mahasiswa Thailand dan Amerika Serikat (AS), yang tergabung dalam program pertukaran pelajar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, seperti rilis yang diterima Cendana News, Sabtu (19/01/2019).

Para mahaiswa tersebut, adalah peserta program pertukaran mahasiswa antar perguruan tinggi, yang dilakukan oleh Internasional Program Government Affairs and Administration Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Programnya, bekerja sama dengan Maejo University Thailand dan Princeton University of USA.

Disebutkan Gatot, banyak hasil karya Pak Harto yang hingga kini masih dinikmati oleh masyarakat Indonesia. Bahkan pada di 1984, Indonesia mencatatkan diri, mampu melakukan swasembada beras. Presiden Soeharto merupakan bapak bangsa, yang sangat dirindukan oleh rakyatnya. Hal tersebut tidak terlepas dari filosofi kepemimpinannya, Sa-Sa-Sa,  yang selalu dipegang teguh.

Rombongan mahasiswa asing menyaksikan sumur kenangan yang ada di Museum HM Soeharto – Foto Istimewa

Filosofinya, seorang pemimpin harus selalu Sabar atine-Sareh Tumindake dan Sholeh pikolahe. Filosofi yang berarti, untuk menjadi pemimpin yang bermanfaat, seorang harus mempunyai hati yang sabar, jiwa Bijak dan selalu dekat dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Penjabaran dari Kepala Museum HM Soeharto tersebut, membuat mahasiswa dari Thailand dan AS, semakin tertarik untuk mengenal lebih jauh sosok Presiden ke-2 Republik Indonesia tersebut. Mereka begitu penasaran dengan sepak terjang bapak pembangunan, dalam kiprahnya, mengangkat wibawa Indonesia di mata dunia. Terlebih mereka juga mendapatkan informasi sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949, Operasi Trikora/Pembebasan Irian Barat.

Ketertarikan tersebut terlihat dari antusias mereka mengikuti semua program yang dihadirkan oleh museum. Mulai dari mengenal sejarah, menonton autobigrafi Pak Harto hingga memasuki lorong waktu, yang berisi diorama dan penjelasan dari perjalanan hidup Jenderal Besar HM Soeharto.

“Mudah-mudahan apa yang telah didapat di museum HM Soeharto ini para mahasiswa, baik yang berasal dari Thailand maupun dari Amerika Serikat, bisa menjadikan mereka lebih mengenal sosok Soeharto, salah satu pemimpin Indonesia yang selalu menjaga kehormatan bangsa dengan karya-karyanya,” pungkas Gatot Nugroho.

Lihat juga...