Pantai Kita di Sikka Mulai Ramai Dikunjungi

Editor: Koko Triarko

391

MAUMERE – Banyak tempat wisata di Kabupaten Sikka, termasuk pesisir pantai yang berada tidak jauh dari kota Maumere, mulai dikembangkan. Namun banyak yang tidak ditumbuhi pepohonan sebagai peneduh.

“Saat ini sudah banyak yang bertamasya ke pantai Kita. Setiap hari selalu saja ada yang datang bertamasya, tetapi paling ramai kalau hari Sabtu atau Minggu,” kata Adrianus Weron, penjaga pantai Kita, Minggu (13/1/2019).

Dikatakan Adrianus, pepohonan di tempat ini dibiarkan tumbuh sehingga bisa memberikan keteduhan bagi pengunjung. Terdapat juga 20 pondok dari bambu dan beratapkan daun kelapa yang bisa disewa seharian dengan harga Rp25 ribu.

Adrianus Weron (kanan) bersama Wilfridus Niko, penjaga pantai Kita -Foto: Ebed de Rosary

“Kami selalu menanam pohon kelapa dan pohon lainnya di pesisir pantai. Memang, bakaunya sudah banyak yang berusia tua dan mati, sehingga kami menanam pohon Waru,Cemara dan Reo atau Kudo di pesisir pantai,” tuturnya.

Wilfridus Niko, penjaga lainnya, menyebutkan, untuk masuk ke pantai wisata ini pengunjung tidak dipungut biaya. Uang sewa hanya untuk kendaraan bermotor saja. Sepeda motor membayar Rp5.000 dan mobil Rp10.000 sehari.

“Untuk mandi kami siapkan pelampung dari ban mobil. Ukuran besar Rp10 ribu dan ukuran kecil Rp5 ribu sekali pakai. Pengunjung selalu kami pantau saat mandi di laut, agar jangan mengalami kecelakaan,” tuturnya.

Rata-rata pengunjung pantai wisata ini, datang secara bergerombol menggunakan pick up atau truk. Biasanya karyawan kantor atau organisasi maupun keluarga besar.

“Pengunjung bisa membawa alat musik sendiri. Kami menyiapkan listriknya yang disewa sebesar Rp50 ribu sehari. Jadi, wisatawan yang ingin menikmati musik atau membuat acara di pantai tidak kesulitan,” ungkapnya.

Pihaknya pun menyediakan kelapa muda yang bisa dibeli seharga Rp5.000 per buah. Sementara untuk fasilitas kamar mandi dan WC tidak dipungut biaya. Ada juga yang membawa ikan atau daging dan bakar di pinggir pantai, sebab kayu bakar banyak tersedia.

“Kami juga membangun jembatan bambu, sehingga memudahkan wisatawan menyeberang ke pantai dari areal parkir, sebab saat air pasang air laut meluap dari muara dan masuk ke kolam di dekat tempat parkir,” tuturnya.

Hermina Nona, seorang pengunjung, mengaku sering datang ke pantai Kita bersama keluarga dan teman-teman sekolahnya. Tempat wisatanya juga tidak jauh dari kota Maumere dan hanya sekitar 8 kilometer arah barat kota Maumere di kelurahan Wailiti.

“Biasanya kami datang rombongan besar, dan membawa alat musik sehingga bisa berjoget di pinggir pantai. Kadang juga kita main bola voli di pinggir pantai serta berenang kalau air laut sedang pasang,” tuturnya.

Hermina mengaku puas, sebab pengunjung tidak dipungut biaya besar dan hanya untuk sepeda motor dan mobil saja. Fasilitasnya juga lengkap dan yang terpenting ada kamar mandi dan wc dengan air yang melimpah.

Pengunjung terlihat membludak dan semua pondok terisi penuh. Sekeliling tempat wisata dipenuhi pepohonan Reo atau Kudo, waru, kelapa, ketapang serta pandan laut. Ada juga pohon mangga dan pisang.

Sebuah jembatan bambu sepanjang sekitar 20 meter menambah indah pemandangan. Saat air laut pasang, jembatan ini pun terlihat seolah mengapung, sehingga pengunjung memanfaatkannya untuk berfoto selfie.

Baca Juga
Lihat juga...