Pascabanjir Usaha Pembuatan Teri Rebus Kembali Beroperasi

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

200

LAMPUNG — Usai diterjang banjir sungai Pegantungan pada Senin (21/1/2019), pemilik usaha pembuatan teri rebus di dusun Pegantungan, desa Bakauheni, Lampung Selatan (Lamsel) kembali beroperasi.

Ambo Ajak, pemilik usaha pembuatan teri rebus di dusun Pegantungan, desa Pegantungan kecamatan Bakauheni Lampung Selatan. Foto: Henk Widi

Ambo Ajak, salah satu produsen menyebutkan, tempat perebusan teri miliknya ikut terendam dan sempat terhenti selama beberapa hari. Selain itu, pasokan bahan baku juga berkurang, imbas dari kondisi cuaca yang belum membaik.

Ia baru mendapat pasokan dari tempat pendaratan ikan Muara Piluk pada Selasa (29/1/2019) sebanyak 10 cekeng atau 3 kuintal.

“Pada kondisi normal bahan baku yang disiapkan untuk proses pembuatan teri rebus bisa mencapai satu ton. Karena tangkapan nelayan kurang, kita produksi seadanya,” terang Ambo Ajak, produsen teri rebus saat ditemui Cendana News, Selasa (29/1/2019).

Imbas banjir yang merusak fasilitas dan alat, ia mengalami kerugian hingga Rp15 juta. Kerugian cukup besar  terjadi akibat teri siap jual dengan nilai lebih dari Rp10 juta terendam air.

“Sejumlah peralatan seperti senoko serta kertas karton untuk pengemasan teri kering juga hanyut akibat banjir sebagian tidak bisa digunakan,” tambahnya.

Ambo Ajak menyebut usaha perebusan teri di dusun Pegantungan masih terus beroperasi dengan adanya pasokan teri dari nelayan Bakauheni. Sebelumnya pasokan berasal dari nelayan asal kecamatan Rajabasa namun akibat terjangan tsunami nelayan belum bisa melaut.

Sodikin, salah satu pekerja pembuatan teri rebus mengaku sempat menganggur selama sepekan. Akibat banjir perbaikan fasilitas perebusan dilakukan salah satunya dengan membuat tanggul penangkis. Dampak banjir membuat usaha teri rebus di tempatnya bekerja mengalami kerugian. 

“Baru hari ini kami bekerja merebus teri untuk dikeringkan sekaligus bisa menjadi sumber pendapatan bagi pekerja,” beber Sodikin.

Meski mendapat upah harian Sodikin menyebut selama ada bahan baku ia masih bisa bekerja di tempat perebusan teri. Usaha pengolahan memanfaatkan jenis teri jengki. Setelah dikeringkan harga dapat mencapai Rp40.000 per kilogram.

Selain didukung lancarnya pasokan bahan baku, selama sepekan terakhir kondisi cuaca cukup panas membantu proses pengeringan lebih cepat mempergunakan sinar matahari.

Baca Juga
Lihat juga...