Pascatsunami, Akses Jalan di Pulau Sebesi, Dibuka Warga

Editor: Satmoko Budi Santoso

227

LAMPUNG – Satuan Polisi Perairan (Satpolair) Polres Lampung Selatan, membantu warga Pulau Sebesi  kembali dari pengungsian lapangan tenis indoor Kalianda Lampung Selatan (Lamsel).

Brigadir Kepala, Deden Rusyanto, salah satu personel Satpolair mendampingi Kasatpolair Polres Lamsel, Inspektur Satu Yaya Sudrajat, menyebut, personel Polair ditempatkan di Pulau Sebesi semenjak pulau tersebut ditinggalkan warga untuk mengungsi.

Bripka Deden Rusyanto menyebut, salah tugas yang dilakukan oleh personel Satpolair di antaranya mengamankan rumah warga dari aksi pencurian. Setelah sejumlah warga kembali ke Pulau Sebesi, ia menyebut, warga mulai melakukan sejumlah aktivitas seperti biasa.

Sejumlah aktivitas tersebut di antaranya memanen kelapa, pisang, kakao untuk dijual ke Pulau Sumatera. Meski demikian, sejumlah warga masih kesulitan mengakses jalan antardusun akibat tsunami.

“Banyak warga yang akan kembali ke Dusun Regahan Lada yang berhadapan langsung dengan Gunung Anak Krakatau mengalami kesulitan karena pohon tumbang menutupi jalan. Kami melakukan pembersihan dengan menggergaji kayu agar bisa dilintasi,” terang Bripka Deden Rusyanto, salah satu personel Satpolair Polres Lamsel, saat dikonfirmasi Cendana News, Selasa (8/1/2019).

Bripka Deden Rusyanto menyebut, setelah terjangan tsunami pada Sabtu (22/12/2018) silam, sejumlah pohon tumbang. Proses pembersihan akses jalan disebut Deden Rusyanto baru bisa dilakukan setelah sejumlah warga kembali dari pengungsian.

Sebab saat diungsikan hanya beberapa warga bertahan di Pulau Sebesi untuk menjaga barang-barang yang ada di rumah meski aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) masih berlangsung. Bripka Deden Rusyanto menyebut, meski GAK masih beraktivitas, namun suara dentuman sudah tidak terdengar lagi. Hanya terlihat asap mengepul dari kawah dengan durasi lebih sedikit dibandingkan sebelumnya.

Warga yang sudah kembali disebut Bripka Deden Rusyanto, mulai bergotong royong  membuka akses jalan. Menggunakan peralatan gergaji mesin, proses pembersihan sejumlah pohon tumbang disebut Deden Rusyanto membantu lalu lintas warga menuju ke pusat desa Tejang Pulau Sebesi.

Akses jalan tersebut diakuinya juga membantu warga untuk mengangkut hasil pertanian ke pelabuhan Canti, Kecamatan Rajabasa.

“Warga yang berjalan kaki atau menggunakan motor masih bisa melintas menghindari pohon tumbang, namun yang menggunakan mobil sulit melintas,” beber Deden Rusyanto.

Warga di dusun Regahan Lada, dusun Segenom, dusun Tejang Pulau Sebesi, mengungsi ke lokasi yang aman. Selanjutnya warga mengungsi ke Kalianda dan mulai kembali ke Pulau Sebesi secara bertahap sejak Minggu (6/1/2019). Pada tahap pertama dan kedua, ratusan warga mulai kembali dengan adanya fasilitas kapal yang disediakan oleh Pemkab Lamsel.

Pada gelombang ketiga kepulangan para pengungsi ke pulau Sebesi pada Selasa (8/1/2019) tercatat ada sebanyak 495 warga kembali ke pulau Sebesi. Sebagian warga yang sudah kembali ke pulau disebut Bripka Deden Rusyanto, mulai membenahi rumah yang rusak. Sebagian memperbaiki perahu dan sebagian mulai berkebun.

Meski masih was-was akan aktivitas GAK yang mengakibatkan tsunami, warga disebutnya selalu siaga untuk lari ke dataran tinggi.

Aktivitas perekonomian warga di antaranya pengiriman hasil pertanian dari pulau Sebesi ke dermaga Canti juga mulai berjalan dengan normal. Sejumlah hasil bumi masyarakat pulau Sebesi yang dikirim melalui dermaga Canti di antaranya pisang, kelapa, kakao dan petai.

Kondisi perairan yang tenang membuat aktivitas pelayaran dari pelabuhan pulau Sebesi ke dermaga Canti mulai pulih.

Terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau yang mulai tenang, Andi Suardi, kepala pos pengamatan Gunung Berapi, Gunung Anak Krakatau (GAK) menyebut, dari pos pengamatan secara visual gunung terlihat samar.

Pada periode pengamatan Selasa (8/1/2019) Andi Suardi menyebut, kondisi meteorologi GAK terlihat dalam kondisi cerah. Angin bertiup lemah ke arah timur. Suhu udara 27-32 °C, kelembaban udara 61-75 %, dan tekanan udara 0-0 mmHg.

Andi Suardi, Kepala Pos Pengamatan Gunung Berapi, Gunung Anak Krakatau, Kementerian ESDM – Foto Henk Widi

Visual gunung setinggi 110 meter di atas permukaan laut (Mdpl) disebutnya jelas hingga kabut 0-III. Asap kawah bertekanan sedang teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan tinggi 500-1000 m di atas puncak kawah.

Tidak terdengar suara dentuman seperti hari-hari sebelumnya. Selain itu kondisi kegempaan letusan berjumlah 9, amplitudo 20-28 mm, durasi 61-101 detik.

“Kondisi Gunung Anak Krakatau mulai terlihat tenang. Terkadang secara visual bisa diamati tapi cenderung berkabut, ombak laut juga tenang,” terang Andi Suardi.

Kegempaan vulkanik terekam tremor (Microtremor) dengan amplitudo 0.5-8 mm (dominan 4 mm). Kondisi tremor menerus disebutnya terekam dari pukul 06:05-08:50 WB sesuai data yang diambil dari Stasiun Pulau Sertung.

Meski masih dalam kondisi aktif, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih dalam kondisi Level III (Siaga). Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 5 km dari kawah.

Baca Juga
Lihat juga...