Pedagang di Pusat Kuliner Kalianda Mulai Buka Lagi

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sempat lumpuh akibat tsunami yang menerjang wilayah Kalianda, khususnya di area pusat wisata kuliner Kalianda, sejumlah pedagang di kawasan tersebut kini mulai beraktivitas kembali.

Rahayu (45), salah satu pedagang bakso di pusat wisata kuliner dermaga Bom Kalianda, menyebut saat tsunami menerjang pada Sabtu (22/12/2018), ia sudah pulang ke rumah. Namun, peralatan berjualan berupa rombong, rusak dan sebagian hilang. Hal sama juga dialami pedagang lainnya.

Dua pekan setelah tsunami melanda, para pedagang masih mengungsi dan sebagian mulai memperbaiki peralatan berdagang. Ia sendiri mulai berjualan sejak Kamis (10/1/2019), setelah sejumlah peralatan diperbaiki. Meski masih sepi pengunjung, ia mulai berjualan karena mata pencaharian utama sebagai pedagang bakso.

Rahayu, penjual bakso -Foto: Henk Widi

Lumpuhnya pusat wisata kuliner dermaga Bom Kalianda, kata Rahayu, disebabkan sejumlah tempat berjualan terbuat dari kayu dan asbes, ambruk diterjang tsunami.

Lokasi usaha kuliner yang rusak berada di dekat pengedokan atau bengkel kapal, karena langsung berhadapan dengan laut. Imbasnya selain robohnya fasilitas tempat berjualan, sejumlah lantai keramik dan batu sikat hias terkelupas.

Beruntung, maskot utama amphiteater dengan payung besar di lokasi tersebut tetap kokoh berdiri, dan mulai dikunjungi sebagai spot foto.

“Saya mulai kembali berjualan bersama sejumlah pedagang lain, agar aktivitas perekonomian di sini pulih, sejumlah pengunjung bahkan mulai berdatangan, meski dominan siang hingga sore hari,” terang Rahayu, Sabtu (12/1/2019).

Rahayu menyebut, hingga dua pekan usai tsunami ia juga belum menjual bakso dalam porsi yang banyak. Masih sepinya pengunjung membuatnya mulai berjualan, agar pelanggan tetapnya masih tetap bisa menikmati bakso di pusat wisata kuliner tersebut.

Ia berharap, kondisi akan kembali pulih sehingga sejumlah pemilik usaha kuliner tetap bisa mendapatkan penghasilan. Meski akhir pekan jumlah kunjungan ke pusat wisata kuliner di dekat pantai tersebut, belum seramai seperti sebelum tsunami.

Puluhan pedagang dengan berbagai olahan kuliner menjadi daya tarik pengunjung ke kawasan tersebut terutama akhir pekan.

“Biasanya, sehari saya bisa mendapatkan omzet di atas lima ratus ribu, sekarang mendapatkan seratus ribu sehari saja sudah lumayan,”cetus Rahayu.

Pemilik usaha kuliner lain, Husin (45) bersama sang istri, Nuraida (40), mengaku baru tiga hari kembali berjualan. Husin menyebut, tsunami menyebabkan sejumlah peralatan berjualan miliknya rusak, seperti blender, kompor gas, bahkan tabung gas miliknya hilang.

Untuk berjualan kembali, ia memastikan harus membeli sejumlah peralatan baru. Usaha berjualan ketoprak, soto ayam, lontong sayur, es buah, es kelapa muda diakuinya menjadi satu satunya mata pencaharian.

Husin dan Nuraida, mulai berjualan kuliner berupa soto, lontong serta es kelapa muda -Foto: Henk Widi

“Sejak tsunami, saya bersama keluarga mengungsi ke tempat yang aman dan sesekali mengecek lokasi berjualan sembari melakukan perbaikan,” beber Husin.

Husin juga menyebut, sejumlah kerusakan pada alat-alat berjualan kuliner miliknya telah didata. Namun, ia mengaku belum mendapat kepastian terkait bantuan yang akan diterima.

Husin berharap, meski sudah mendapatkan bantuan berupa beras, mi instan dan kebutuhan pokok lainnya, ia bisa mendapatkan bantuan peralatan usaha.

Meski sudah berjualan, namun Husin mengaku omzet penjualannya masih minim. Pada kondisi normal. ia sudah mulai buka sejak pukul 06.00 pagi, melayani warga dan sebagian nelayan yang akan sarapan.

Ia bahkan buka hingga malam hari, terutama akhir pekan dengan omzet rata-rata Rp400 ribu hingga Rp500 ribu per hari.

“Kini, sehari mendapatkan omzet Rp300 ribu, saja sudah termasuk menjanjikan,” katanya.

Husin juga menyebut, pengaruh sepinya kunjungan ke pantai pada pusat wisata kuliner Kalianda, menyebabkan sejumlah usaha kuliner yang menggunakan kendaraan roda dua, bahkan sebagian mulai beralih ke lokasi lain.

Lokasi berjualan kuliner yang kerap dipergunakan pedagang pascatsunami, di antaranya Lapangan Korpri, Lapangan Cipta Karya serta kawasan Gedung Olah Raga Way Handak.

Pedagang buah Durian keliling, Sumiati (40), bersama suami, mengaku mulai mencoba peruntungan di pusat wisata kuliner dermaga Bom Kalianda.

Ia menyebut, dengan semakin banyaknya pedagang berjualan, sejumlah pedagang lain mulai kembali beraktivitas. Meski tsunami yang merusak kawasan pantai dermaga Bom Kalianda masih membayangi sejumlah pelaku usaha.

Lihat juga...