Pedagang Kuliner di Dermaga Bom Sementara Pindah Lokasi

Editor: Koko Triarko

190

LAMPUNG – Sejumlah pedagang di pusat wisata kuliner Dermaga Bom Kalianda, Lampung Selatan, mengaku terpaksa pindah lokasi berdagang untuk sementara waktu. Hal ini karena lapak dan warung di kawasan Dermaga Bom yang rusak akibat tsunami, belum diperbaiki.

Yanti, pedagang mie ayam bakso di pusat wisata kuliner mengaku memilih sementara berjualan di area stadion Way Handak Kalianda, yang berada di dekat Jalan Lintas Sumatra. Kepindahan sementara tersebut karena pusat wisata kuliner masih sepi pengunjung, meski kondisi sudah berangsur pulih.

Yanti sementara waktu membawa gerobak untuk berjualan mie ayam bakso ke area GOR Way Handak Kalianda. Dua pekan usai tsunami, kerusakan pada area berjualan di pusat wisata kuliner belum diperbaiki.

Warga menikmati kuliner di area GOR Way Handak Kalianda, Lampung Selatan -Foto: Henk Widi

Sejumlah bangunan untuk berjualan terbuat dari kayu serta asbes, bahkan dibiarkan rusak. Beruntung, kata Yanti, sejumlah tempat yang kerap dipergunakan untuk berkumpul warga Kalianda, selain pusat wisata kuliner dermaga bom, tidak rusak.

“Kalau kami para pedagang menunggu kondisi pulih, butuh waktu sekitar satu bulan lebih, lokasi tempat kami berjualan juga belum diperbaiki. Maka kami memilih untuk pindah sementara waktu,” terang Yanti, saat ditemui Cendana News, Sabtu (12/1/2019)

Menurutnya, pihak terkait belum melakukan upaya perbaikan pada sejumlah fasilitas yang ada di dermaga Bom Kalianda. Sementara Yanti dan sejumlah pedagang lain, menyebut kerusakan peralatan berdagang termasuk alat memasak yang hilang harus dibeli kembali.

Sinyal positif dari pengelola GOR Way Handak, sekaligus pemerintah daerah agar kegiatan ekonomi tetap berjalan, pedagang diberi kesempatan berdagang di sekitar gedung olah raga tersebut.

Sejumlah area perkantoran, di antaranya Kantor Imigrasi Kalianda, Kantor Dinas Perhubungan, Kantor Dinas Penanaman Modal, Pusat Rehabilitasi Narkoba serta wisma atlet membuat kawasan tersebut cukup ramai.

Di tempat tersebut, potensi pembeli lebih banyak, sehingga lebih menjanjikan dibanding tetap bertahan di pusat kuliner dermaga Bom Kalianda.

“Sementara waktu kami belum ditertibkan, masih boleh berjualan di sekitar GOR Way Handak. Sebab harapan mendapatkan penghasilan hanya dari berdagang kuliner,” cetus Yanti.

Pedagang lain, Ari, yang kerap berjualan mie tetek di pusat kuliner Kalianda, juga memutuskan pindah berjualan. Kunjungan masyarakat yang masih trauma berada di dekat pantai, membawa pengaruh bagi pemilik usaha kuliner, seperti dirinya.

Laki-laki yang berjualan dengan gerobak tersebut, juga memilih memindahkan gerobak ke dekat area GOR Way Handak. Sejumlah pelanggan masih tetap membeli kuliner yang dijualnya, meski ia berpindah lokasi.

“Ada pembeli yang sudah berlangganan tahu saya pindah mencari lokasi berjualan yang baru, meski jauh dari pantai,” papar Ari.

Ari menyebut, meski ada petugas Satuan Polisi Pamong Praja yang bertugas menjaga ketertiban, ia berharap masih diberi kesempatan berjualan.

Keberadaan para pedagang kuliner di lokasi tersebut, menurut Ari, sekaligus membawa suasana kawasan yang semula sepi menjadi ramai.

Keberadaan puluhan pedagang kuliner di dekat GOR Way Handak sekaligus menjadi magnet bagi usaha lain, seperti pedagang mainan anak-anak serta penyedia jasa mobil odong-odong.

Selain puluhan pedagang kuliner asal pusat kuliner Dermaga Bom yang pindah, sejumlah pedagang dari lapangan Korpri Pemkab Lamsel juga memilih pindah.

Darsa, pedagang es buah di pintu masuk kawasan GOR Way Handak menyebut, lokasi berjualan sekarang bahkan lebih strategis. Selain dekat dengan tepi Jalan Lintas Sumatra, lokasi tersebut dekat dengan tempat tinggalnya di Sukatani, Kalianda.

Lokasi GOR Way Handak yang kerap dipergunakan untuk olah raga,pertunjukan musik dan bersosialisasi masyarakat diakuinya masih belum ramai.

Beberapa fasilitas yang tengah dibangun diakuinya membuat warga yang berkunjung masih sebatas dari wilayah Kalianda. Meski demikian, bagi sejumlah pemilik usaha kuliner seperti dirinya, berkumpulnya warga di dekat area GOR Way Handak berimbas positif bagi omzet penjualan es buah miliknya.

“Awalnya hanya tiga orang berjualan di kawasan ini, selanjutnya semakin ramai, apalagi akhir pekan banyak warga datang sebagian ingin menikmati kuliner,” beber Darsa.

Sebagian besar pedagang yang masih berjualan di dekat trotoar, sementara belum ditertibkan. Namun ia menyebut, jika ada lokasi berjualan yang sudah ditentukan untuk keindahan lokasi tersebut sejumlah pedagang rela dipindah.

Darsa mengatakan, sebagian besar pedagang memiliki kesadaran membawa tempat menampung sampah sementara, agar kebersihan di lokasi tersebut tetap terjaga.

Darsa juga menyebut hanya berjualan di lokasi tersebut sejak siang hingga malam hari, menyesuaikan keramaian di sekitar lokasi GOR Way Handak.

Baca Juga
Lihat juga...