Pencari Pasir Diuntungkan Turunnya Hujan Deras

Editor: Mahadeva

218

LAMPUNG – Hujan deras yang melanda wilayah Lampung Selatan (Lamsel) ternyata berdampak positif bagi warga pencari pasir. Banjir membawa material tanah dan pasir yang bisa diambil oleh mereka.

Rohimin, salah satu warga Dusun Cilamaya, Desa Bakauheni, menyebut, hujan deras membuat volume pasir di sungai Kubang Gajah meningkat. Penambahan volume pasir, terjadi secara bertahap karena hujan sebulan terakhir.

Penambangan pasir di wilayah Lamsel, dilakukan secara tradisional. Sejumlah titik lokasi pencarian pasir diantaranya di Dusun Cilamaya, Dusun Kubang Gajah, Dusun Kepayang, dan Dusun Kubang Gajah. Volume pasir yang bertambah di Sungai Kubang Gajah, menjadi berkah bagi warga Desa Bakauheni dan Desa Kelawi. Pada kondisi normal, ketebalan pasir di sungai berkisar 50 sentimeter hingga 100 sentimeter. Saat ini, ketebalan pasir bisa mencapai 200 sentimeter.

Rohimin, salah satu warga dusun Cilamaya,desa Bakauheni pencari pasir di sungai Kubang Gajah – Foto Henk Widi

Pengambilan pasir dilakukan secara tradisional menggunakan cangkul dan sekop. Pasir diangkut menggunakan kendaraan roda dua, yang dimodifikasi, agar pasir bisa dimuat ke lokasi pengepulan. “Semenjak hujan deras, volume pasir sangat berlimpah sehingga pencari pasir bisa mengumpulkan pasir dalam jumlah banyak, meski mempergunakan peralatan sederhana,” ujar Rohimin saat ditemui Cendana News,  Sabtu  (26/1/2019).

Peningkatan volume pasir, membuat para pencari lebih mudah mengumpulkan pasir. Pasir yang terbawa arus sungai saat banjir, kini mulai mengering. Rohimin mengaku bisa mengumpulkan setengah kubik pasir setiap harinya. Harga pasir sebagai bahan bangunan, kini dijual Rp100.000 perkubik. Sekali angkut dengan kendaraan L300, bisa memuat empat kubik. Dengan hasil tersebut, mencari pasir menjadi mata pencaharian sampingan, selain bertani.

Suyanto, pencari pasir lain menyebut, Sungai Kubang Gajah selama puluhan tahun menjadi lokasi mencari pasir. Pasir dari lokasi tersebut, kerap dimanfaatkan untuk membuat batako dan paving blok. Keberadaan daerah aliran sungai yang masih ditumbuhi berbagai jenis tanaman, mampu menjadi penahan longsor. “Pencari pasir bahkan bisa masuk ke badan sungai mempergunakan kendaraan roda dua karena sungai cukup dangkal sesuai hujan deras,” beber Suyanto.

Kondisi yang sama juga terjadi di Sungai Pegantungan. Bahkan di lokasi tersebut, pasir terbawa arus sungai ke permukiman warga. Selain mengakibatkan pendangkalan, pasir sungai juga menimbun halaman rumah warga. Bahar, salah satu warga Dusun Pegantungan menyebut, pasir menimbun halaman rumahnya. Sebagian material pasir dipergunakan sebagai bahan penimbun kebun yang berlubang. Meski demikian, sebagian pasir dikumpulkan sebagai bahan bangunan untuk pembuatan pondasi pekarangan.

Melimpahnya pasir di aliran Sungai Pegantungan, sebagian disingkirkan menggunakan alat berat untuk dipergunakan sebagai tanggul bantaran sungai. “Volume pasir yang terbawa arus sungai Pegantungan bisa dimanfaatkan warga namun saat volume berlebih bisa membuat pendangkalan sungai, bahkan meluap ke permukiman warga,” terang Bahar.

Sungai Pegantungan yang mulai dinormalisasi, memiliki kedalaman hampir dua meter. Material pasir yang bisa dipergunakan untuk bahan bangunan dipisahkan oleh warga. Sementara pasir yang bercampur dengan lumpur tanah, dimanfaatkan untuk penanaman mangrove penahan abrasi gelombang laut. Volume pasir sungai yang cukup banyak sebagian dimanfaatkan warga untuk membuat pagar pencegah air sungai meluap ke permukiman warga terutama di bantaran sungai Pegantungan.

Baca Juga
Lihat juga...