Pendapatan Berkurang, Pedagang di Klandasan Minta Diperhatikan

Editor: Satmoko Budi Santoso

204

BALIKPAPAN – Pasca terbakarnya Pasar Blauran Klandasan pada 2012 silam, sejumlah pedagang hingga kini menempati Tempat Penampungan Sementara (TPS).

Pedagang mengaku mengalami penurunan pendapatan dan sebagian kios tutup karena hanya dijadikan sebagai gudang penyimpanan barang.

Dengan kondisi tersebut, pedagang mendesak kepada Pemerintah Kota Balikpapan untuk memperhatikan kondisi TPS dan pedagang yang berjualan di TPS yang disediakan.

“Banyak juga kios-kios yang tutup karena penghasilan mereka menurun drastis. TPS pun terlalu sempit. Pedagang yang berjualan pecah belah, pakaian jadi, sepatu dan handphone,” kata Ketua Pedagang Pasar Klandasan, Syamsuddin, saat ditemui, Selasa (8/1/2019).

Syamsuddin, Ketua Pedagang Pasar Klandasan (kiri) bersama anggota DPRD Balikpapan Rustam Djaseli – Foto: Ferry Cahyanti

Dia menyebutkan, awalnya ada 312 pedagang menempati TPS ukuran 1,2 meter x 1 meter yang disediakan Pemkot Balikpapan. Namun beberapa kios terpaksa dijadikan gudang penyimpanan barang dagangan.

“Ada juga yang pulang kampung, ada juga yang memilih pindah tempat berjualan. Maka, kami minta perhatian dan peran aktif pemerintah dengan kondisi saat ini,” pintanya.

Menurut Syamsuddin, pengunjung atau pembeli juga sulit melewati pasar karena sempitnya jalan.

“Pengunjung yang mau lewat semakin susah dan jadinya TPS ini sepi transaksi. Jadi TPS ini sangat tidak layak untuk ditempati, maka kami minta Pemkot secepatnya mengambil alih pembangunan,” pungkasnya.

Menanggapi hal itu, anggota Komisi III DPRD Balikpapan, Rustam Djaseli, mengatakan, pedagang berkeinginan agar Pasar Klandasan tetap bersifat tradisional.

“Anggaran pembangunannya cukup APBD saja. Bangunannya cukup dua lantai dan mengakomodir semua pedagang serta tidak ada titipan atau menjual ke pihak luar alias investor,” ujarnya, saat meninjau Pasar Klandasan.

Ia berpendapat, pembangunan Pasar Klandasan tetap dilakukan tradisional dan cukup pedagang yang ada di pasar ini yang diakomodir.

“Sebaiknya tetap pasar tradisional yang lebih pro rakyat dan higienis serta tidak perlu lagi orang luar. Cukup pedagang di sini saja yang diakomodir agar perekonomian mereka bisa bangkit kembali,” tukas Rustam Djaseli.

Baca Juga
Lihat juga...