Pengolahan Sampah di Banyumas Belum Maksimal

Editor: Koko Triarko

425
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyumas, Suyanto -Foto: Hermiana E Effendi

PURWOKERTO – Sistem pengolahan sampah pada sumbernya dengan pola pilah-manfaatkan-musnahkan, idealnya hanya menyisakan residu 10 persen.

Namun, akibat pemilahan belum berjalan maksimal, di Kabupaten Banyumas pengolahan sampah dengan sitem tersebut masih menyisakan residu sebanyak 30 persen.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyumas, Suyanto, mengatakan, tenaga pemilah di hanggar (tempat pengolahan sampah) masih perlu banyak pelatihan, supaya pemilahan bisa maksimal.

Dari hasil evaluasi, dalam satu minggu pemberlakuan sistem baru tersebut, masih banyak sampah yang seharusnya masuk dalam kategori bisa dimanfaatkan, tetapi justru dimusnahkan.

Yang termasuk kategori sampah bisa dimanfaatkan, misalnya botol plastik, kertas dan lainnya. Tetapi, yang terjadi di lapangan, botol plastik diambil dan sedotannya dimasukkan dalam sampah yang dimusnahkan.

“Padahal, sedotan minuman kemasan juga terbuat dari plastik. Karena itu, kita harus meningkatkan kemampuan dan pengetahuan pemilah, supaya bisa maksimal, sehingga hanya menyisakan residu 10 persen,ʺ terangnya, Minggu (6/1/2019).

Suyanto mengakui, jika semua butuh proses untuk mencapai hasil yang maksimal. Sejauh ini, volume sampah sisa yang harus dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sudah berkurang 70 persen.

Kabupaten Banyumas saat ini hanya memiliki dua TPA yang masih dibuka, yaitu TPA di Desa Windunegara, Kecamatan Wangon dan TPA di Desa Tipar Kidul, Kecamatan Ajibarang.

Sedangkan TPA di Desa Kaliori, Kecamatan Kalibagor sudah ditutup sejak awal diberlakukannya sistem pengolahan sampah pada sumbernya.

Saat ini, untuk sampah-sampah dari wilayah Kota Purwoketo dan kecamatan bagian timur Banyumas, dibuang ke TPA Windunegara. Sedang TPA Tipar Kidul menampung sampah dari wilayah Banyumas bagian barat.

Produksi sampah di wilayah Kabupaten Banyumas sangat tinggi, mencapai 600 ton per hari. Biasanya, sampah-sampah tersebut ditampung pada tiga TPA. Dengan ditutupnya TPA Kaliori, praktis hanya duaTPA yang masih difungsikan.

ʺMeskipun hanya dua TPA, tetapi sangat mencukupi, sebab residu tinggal 30 persen saja, jadi volume sampah yang dibuang ke TPA sangat jauh berkurang,ʺ kata Suyanto.

Dalam sistem pengolahan sampah yang baru ini, salah satu kendala yang muncul adalah sampah belum bisa terangkut semua, karena keterbatasan armada dan daya tampung hanggar.

Untuk hanggar Kedungrandu di Kaliori, Kecamatan Kalibagor, misalnya, harus menampung sampah dari lima kecamatan, yaitu Kecamatan Patikraja, Kalibagor, Purwokerto Selatan, Purwokerto Timur dan Purwokerto Utara.

“Dengan produksi sampah 600 ton per hari dan ada lima hanggar yang dioperasikan, maka tiap hanggar harus mengolah sampah sebanyak 120 ton per hari,” pungkasnya.

 

 

Baca Juga
Lihat juga...