Pengungsi dari Pulau Sebesi Tempati Huntara

Editor: Koko Triarko

341

LAMPUNG – Pengungsi asal Pulau Sebesi terdampak tsunami pada Sabtu (22/12/2018), yang sempat diungsikan ke Lapangan Tenis Indoor Kalianda, kini menempati Hunian sementara (Huntara). Keputusan pemerintah daerah (Pemda) menempatkan para pengungsi di wisma Pusat Pendidikan dan Latihan Olah Raga Pelajar (PPLOP) Kalianda, diperuntukkan bagi warga pulau Sebesi.

Asnawati, salah satu pengungsi asal Dusun Regahan Lada, Desa Tejang Pulau Sebesi, mengatakan, jika pengungsi dibagi dalam dua kelompok.

Haryono, Ketua Kelompok III yang menempati Wisma Atlet Kalianda -Foto: Henk Widi

Kelompok pertama, merupakan pengungsi yang menempati lantai dasar wisma PPLOP berjumlah 11 kepala keluarga. Kelompok pertama tersebut diketuai oleh suaminya, Muchlisin. Kelompok kedua menempati lantai atas dari gedung berlantai dua tersebut, berjumlah 9 kepala keluarga.

Setelah menempati wisma tersebut sejak Selasa (8/1/2019), Asnawati menyebut ada penambahan sekitar 7 kepala keluarga. “Setiap keluarga menempati kamar-kamar pada lantai satu dan lantai dua di bagian atas, dua hari ini ada penambahan lalu ditempatkan di wisma atlet tepat di depan wisma yang kami tempati,” beber Asnawati, saat ditemui Cendana News di  wisma PPLOP Kalianda, Sabtu (12/1/2019) sore.

Menurut Asnawati, total pengungsi yang masih bertahan merupakan warga yang memiliki rumah rusak berat. Total ada 27 kepala keluarga dengan 90 jiwa. Sebelumnya, pengungsi di wisma tersebut berjumlah sekitar 80 jiwa.

Tambahan pengungsi yang menempati huntara dan ditempatkan di wisma atlet, merupakan warga yang sebelumnya mengungsi di rumah kerabatnya.

Asnawati mengatakan, kebutuhan pengungsi dijamin Pemkab Lamsel, termasuk logistik makanan. Dalam sehari, pengungsi masih mendapat kiriman porsi makan dari dapur umum lapangan (Dumlap) Dinas Sosial Lamsel.

Pasokan makanan diberikan saat siang serta sore hari. Meski demikian, bantuan berupa alat masak air serta untuk memasak mie rebus diberikan, sehingga pengungsi bisa memasak sendiri. Asnawati pun menyempatkan diri memasak sayur asam dari sayuran yang dibeli serta memasak mie rebus.

“Bantuan berupa bahan makanan beras serta mie rebus, sangat banyak. Namun, kadang anak-anak ingin makanan yang lain,” beber Asnawati.

Asnawati juga menyebut, sudah ada bantuan peralatan memasak berupa kompor gas. Namun, peralatan untuk memasak nasi belum ada.

Setelah peralatan memasak lengkap, ia akan melakukan pembagian jadwal kepada sejumlah ibu di lokasi pengungsian, agar bisa masak mandiri. Selain pembagian jadwal memasak, pembagian jadwal kebersihan juga dilakukan untuk menjaga kebersihan di wisma PPLOP tersebut.

Salah satu pengungsi gelombang kedua yang menempati wisma atlet total berjumlah 7 KK. Haryono, salah satu pengungsi gelombang kedua, mengaku menempati wisma atlet tepat di depan Gedung Olah Raga Way Handak, dan di belakangnya merupakan gedung olah raga untuk voley ball.

Haryono mengaku, fasilitas huntara di wisma atlet sangat memadai, dengan kamar tidur serta kamar mandi dan air yang berkecukupan.

“Awalnya kami tinggal di rumah kerabat, karena rumah rusak dan diberitahu, bahwa ada Huntara, lalu kami ke sini bersama puluhan keluarga lain,” beber Haryono.

Tinggal di pengungsian lebih lama dibandingkan warga pulau Sebesi yang sudah kembali, membuatnya ingin kembali. Namun jika ia kembali ke pulau Sebesi, ia memastikan keluarganya tidak memiliki tempat tinggal.

Lokasi yang berhadapan langsung dengan Gunung Anak Krakatau (GAK), sekaligus membuat ia dan warga lain takut untuk kembali. Ia dan keluarga lain, menunggu keputusan pemerintah untuk direlokasi ke lokasi yang aman.

Sementara itu, perhatian kepada pengungsi di wisma atlet dan wisma PPLOP terus diberikan oleh Pemkab Lamsel. Plt. Bupati Lamsel, Nanang Ermanto, menyebut, 90 jiwa dari 26 KK yang menempati Huntara, mayoritas merupakan warga pulau Sebesi yang sudah tidak memiliki rumah lagi akibat terjangan tsunami.

Di lokasi Huntara, Nanang Ermanto selain menyapa pengungsi juga mengecek ketersediaan stok logistik, memeriksa perlengkapan dapur.

Ia juga berdialog dengan pengungsi serta anak-anak pengungsi untuk mendapatkan masukan, apa kekurangan serta kebutuhan dari para pengungsi.

Pada kesempatan itu, Nanang juga memerintahkan untuk memindahkan tenda tempat kegiatan belajar-mengajar, yang semula berada  di depan wisma atlet untuk dipindahkan ke dalam GOR Way Handak.

Baca Juga
Lihat juga...