Pengungsi Tempati Wisma PLPP Hingga Huntara Selesai Dibangun Pemerintah

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

208

LAMPUNG — Sebanyak 20 kepala keluarga (KK) dengan 80 jiwa asal dusun Regahan Lada dan sebagian dusun di Pulau Sebesi mulai menempati wisma pusat pendidikan dan latihan olahraga pelajar (PLPP) Kelurahan Way Lubuk, Kalianda Lampung Selatan.

Huntara
Muchlisin, ketua kelompok 1 pengungsi asal dusun Regahan Lada desa Tejang Pulau Sebesi Lampung Selatan. Foto: Henk Widi

Muchlisin (42) salah satu warga dusun Regahan Lada pulau Sebesi menyebut sebagian warga yang bertahan di pengungsian akibat rumah yang dimiliki rusak.

Muchlisin yang ditugaskan sebagai ketua kelompok 1 yang menempati lantai dasar menyebutkan, ia bersama keluarga sudah mengungsi sejak Rabu (26/12/2018) silam. Dievakuasi menggunakan kapal Jatra III milik PT.ASDP Indonesia Ferry dan hingga kini belum kembali ke pulau Sebesi akibat rumahnya sudah rata dengan tanah.

Ia menunggu pembangunan hunian sementara (Huntara) yang akan disediakan di kompleks bekas hotel 56 yang merupakan aset milik Pemkab Lamsel.

“Kami berada di wisma PLPP targetnya bisa mencapai waktu tiga bulan hingga Huntara bisa dipergunakan, kami juga ingin kembali melakukan kegiatan seperti biasa,” terang Muchlisin saat ditemui Cendana News, Rabu (9/1/2019)

Selama berada di pengungsian tahap kedua, pemerintah daerah cukup memfasilitasi keluarga pengungsi. Ia menyebutkan, saat tahap awal di pengungsian sepekan awal logistik makanan diperoleh dari Dapur Umum Lapangan (Dumlap) Dinas Sosial yang kini didirikan di dekat rumah dinas bupati Lamsel.

Meski demikian ia berharap tetap bisa beraktivitas seperti biasa termasuk memasak menu masakan sendiri di dapur yang tersedia di wisma tersebut.

Ketua kelompok 2, Hajawi (40) menyebutkan, ia memimpin sebanyak 9 kepala keluarga di lantai dua wiswa PLPP. Hingga saat ini ia dan belasan kepala keluarga mengaku bertahan di pengungsian karena rumah sudah rusak akibat tsunami.

Hajawai menyebutkan, sesuai dengan instruksi Plt bupati Lamsel, Nanang Ermanto, warga yang ditempatkan di wisma PTLPP bisa menjaga sekaligus merawat 20 kamar yang disediakan.

“Pemkab Lamsel masih akan membangun rumah hunian sementara di eks hotel 56 Kalianda dan kami menempati satu kamar satu keluarga,” beber Hajawi.

Hajawai menyebut sesekali ingin menengok rumahnya yang ada di pulau Sebesi di dusun Regahan Lada. Dusun Regahan Lada merupakan salah satu dusun yang berhadapan langsung dengan Gunung Anak Krakatau.

Saat terjadi tsunami akibat peristiwa erupsi GAK dusun tersebut paling parah terkena tsunami. Rasa trauma akan bencana alam serupa dengan potensi letusan bisa terjadi sewaktu waktu Hajawi mengaku pasrah untuk direlokasi oleh pemerintah.

Baca Juga
Lihat juga...