hut

Pensiunan Ini Sukses Rintis Bisnis Telur Asin

Editor: Satmoko Budi Santoso

PURWOKERTO – Banyak orang yang bingung mengisi waktu luang sesudah memasuki masa pensiun. Namun, tidak demikian dengan Subiantoro (61), pensiunan kantor radio pemerintah yang sekarang sukses melakoni bisnis telur asin.

Kesibukannya bahkan melebihi saat ia masih bertugas sebagai Kabid Pemberitaan di RRI Surabaya, karena pemasaran telor asinnya sudah merambah sampai ke luar Pulau Jawa.

Bisnis ini berawal dari ketidaksengajaan, waktu itu Subiantoro bersama sang istri, Uning, sedang berjalan-jalan di sawah. Mereka bertemu dengan penggembala bebek yang membawa puluhan ekor. Bebek-bebek tersebut sedang mencari makan di sawah yang baru saja dipanen.

ʺSaya tanya sama orangnya, ada telur bebek atau tidak, kemudian saya dan istri beli 20 biji. Sesampai di rumah, telur bebek tersebut dibuat telur asin dan dibagikan kepada para tetangga. Kata mereka, telur asinnya enak,ʺ cerita Subiantoro, Selasa (15/1/2019).

Pensiunan yang sukses berbisnis telur asin, Subiantoro – Foto: Hermiana E. Effendi

Akhirnya, saat jalan-jalan ke sawah lagi, Subiantoro kembali memborong telur bebek untuk dibuat telur asin. Produksi kedua ini, dibagikan kepada saudara-saudara di Kota Purwokerto. Kembali pujian berdatangan, bahkan banyak saudara yang menyarankan untuk berjualan.

Produksi ketiga kalinya, oleh Subiantoro dibagikan kepada teman-teman kantornya sewaktu masih bertugas di Purwokerto dan lagi-lagi semua bilang enak.

ʺSetelah tiga kali produksi untuk dibagikan, kemudian ada saudara dan teman-teman yang mulai memesan telur asin, dari pesanan puluhan biji, meningkat menjadi ratusan biji. Hanya dalam kurun waktu tiga bulan,ʺ tutur ayah tiga anak ini.

Salah satu temannya menawarkan untuk memasarkan telur asin produksinya melalui media sosial. Hasilnya, pesanan dari luar kota mulai berdatangan. Mulai dari Jakarta, Bandung, Cirebon, Solo, Malang, Semarang, hingga ada pesanan dari Tanjung Pinang dan Pangkal Pinang. Subiantoro dan istri sampai kewalahan memenuhi pesanan, mereka sampai kehabisan stok telur bebek.

ʺSaya tidak mau memakai telur bebek yang di peternakan, karena makanannya banyak menngandung konsentrat. Saya selalu membeli telur dari bebek yang mencari makan di sawah-sawah, karena dari sisi kualitas, telurnya lebih bagus,ʺ terangnya.

Selain selektif dalam memilih telur bebek, Subiantoro juga mempunyai cara pengolahan telur asin sendiri yang membuat hasilnya enak. Sesudah melalui proses sortir dan hanya telur kualitas bagus, tidak pecah dan isi penuh yang diolah, telur-telur tersebut dibungkus dengan larutan batu bata yang dicampur garam dan didiamkan selama dua minggu.

Setelah itu, gumpalan larutan batu bata dibuka dan telur dicuci bersih, lalu dikukus selama 4 jam.

Dalam mengukus telur, Subiantoro mencampur air rebusan dengan aneka rempah, seperti laos, daun salam, dan lain-lain. Aneka rempah ini yang membuat aroma dan rasa telur asin menjadi khas dan enak.

Kesuksesan bisnisnya di usia pensiun ini dianggap sebagai bonus rejeki dari yang Maha Kuasa. Karena itu Subiantoro memberi label nama telor asin Rizka, terkait dengan rejeki Allah. Niatnya mencari kesibukan setelah pensiun, berbuah dengan bisnis yang mendatangkan rejeki melimpah.

 

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!