Penyaluran Kredit UMKM di Balikpapan Tumbuh 8,4 Persen

Editor: Koko Triarko

199
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Suharman Tabrani -Foto: Ferry Cahyanti

BALIKPAPAN – Bank Indonesia Perwakilan Balikpapan, mencatat penyaluran kredit perbankan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sepanjang 2018, yang dilakukan oleh perbankan tumbuh sebesar 8,4 persen. Pertumbuhan itu sedikit melambat dibandingkan tahun 2017, yakni 9,83 persen.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Suharman Tabrani, menjelaskan, pangsa kredit UMKM di kota bertajuk Madinatul Iman ini, tercatat stabil di level 37,25 persen dari total kredit yang disalurkan.

“Porsi penyaluran pada 2018 lebih tinggi dari target penyaluran perbankan ke UMKM, sebesar 25 persen,” jelasnya, pada kegiatan Temu Media Diseminasi Ekonomi dan Keuangan Daerah, Selasa (29/1/2019).

Ada pun sektor yang mendongkrak untuk pertumbuhan penyaluran kredit UMKM tersebut, lanjut Suharman, adalah sektor pertanian yang tumbuh 25,51 persen, sektor jasa dunia usaha sebesar 35 persen, serta sektor pertambangan dan penggalian tumbuh 170 persen.

“Jadi, penyaluran kredit UMKM untuk sektor pertambangan dan penggalian hampir dua kali lipat. Yang kecil-kecil ini tumbuh signifikan,” paparnya.

Sementara itu, untuk kredit modal kerja dan kredit investasi, memiliki pangsa masing-masing sebesar 33,31 persen dan 30,68 persen.

Sedangkan berdasarkan sektor ekonomi, kredit paling banyak disalurkan ke sektor perdagangan 19,4 persen, diikuti sektor jasa dunia usaha 10,3 persen, dan sektor pertanian 8,4 persen.

Pertumbuhan kredit tertinggi secara sektoral adalah sektor Pertanian 39,28 persen, dan sektor jasa dunia usaha 22,54 persen.

Menurutnya, pertumbuhan kredit UMKM lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit di Balikpapan, juga diiringi dengan terjaganya kualitas penyaluran kredit sebesar 4,98 persen atau di bawah ambang batas 5 persen.

Sedangkan dari sisi risiko kredit, kualitas penyaluran kredit secara keseluruhan di Kota Balikpapan dikonfirmasi lebih baik, dengan rasio NPL sebesar 7,98 persen, atau lebih rendah dibandingkan tahun 2017 yang sebesar 8,54 persen.

“Sedangkan risiko likuiditas yang tercermin dari tingkat LDR Kota Balikpapan, masih terjaga dengan rasio 98,22 persen, yang mengindikasikan fungsi intermediasi berjalan baik,” tukas Suharman Tabrani.

Lihat juga...