Perjalanan Panjang Penelitian Durian di Mekarsari

Editor: Mahadeva

255

JAKARTA – Penelitian untuk pengembangan durian varietas baru dengan sifat unggul, ternyata membutuhkan waktu yang panjang. 

Manager R&D Taman Buah Mekarsari, Dr. Azis Natawijaya, M.Si, menyatakan, penyebabnya adalah waktu tumbuh kembang durian. Mulai dari bunga hingga siap berbuah, durian membutuhkan waktu tujuh hingga 10 tahun.

“Saat ini kita memang memiliki empat durian baru hasil penelitian. Empat jenis ini merupakan F2, atau keturunan kedua dari hasil persilangan di 1987,” kata Azis kepada Cendana News di Blok A Taman Buah Mekarsari,  Minggu (20/1/2019).

Induk dari jenis tersebut, adalah tapon yang dikawinkan dengan durian Sukarno. F1 dari durian tersebut, bernama Tarian. Durian Tarian, disilangkan dengan durian Monthong, dan menghasilkan empat jenis durian baru.  “Tapon itu bukan durian. Dia adalah kerabat dekat durian. Namanya Durio graveolens. Tapi kalau di Kalimantan disebutnya Tapon. Daging buahnya berwarna merah. Tipikal durian yang berwarna, dagingnya bertepung seperti ubi dan agak keras,” papar Azis.

Buah Durian jenis DBB – Foto Ranny Supusepa

Dari persilangan Tarian dengan monthong, dihasilkan DPR, DBB dan Dua jenis lain yang belum bernama. DPR memiliki kepanjangan Durian Penghasil Rupiah. Dagingnya berwarna oranye seperti laimas, teksturnya lembut seperti matahari, tebal, agak pahit dan bentuknya bulat seperti monthong.

“Tahun ini ada 11 buahnya. Kalau yang penyuka durian, suka yang rada pahit seperti ini. Dari semua jenis durian yang dagingnya berwarna oranye, DPR ini yang paling enak. Dibandingkan durian Banyuwangi atau Pelangi,” jelas Azis.

Dari segi kestabilan warna, DPR memiliki warna oranye yang merata. Tidak seperti jenis Pelangi, yang hanya berupa semburat saja. “Kalau DBB ini kepanjangannya Durian Bibit Baru. Ini yang paling produktif. Kalau tidak kita seleksi kemarin, buahnya bisa mencapai 300,” ungkap Azis sambil menunjukkan pohon DBB yang masih dipenuhi oleh buah durian menjelang matang.

DBB memiliki daging tipis dan berwarna kuning. Dari salah satu buah yang dibuka, ada 23 biji durian, yang terbagi dalam lima juring. Dalam baris juring, ada yang hanya berisi tuga atau empat biji durian. Tapi ada juga yang berisi enam hingga delapan biji durian.  Dua jenis lainnya, belum diberi nama. Jenis ketiga, memiliki daging buah yang tebal, biji kecil, warna daging buah seperti Matahari. Tapi memiliki rasa yang lebih enak dibandingkan Matahari.

Sementara jenis keempat, rasa daging buahnya agak pahit dan memiliki warna daging kuning emas. “Rencananya baru tahun depan kita akan publis. Kita sedang mempersiapkan 1.000 bibit. Harapannya tahun depan bisa panen,” ujar Azis.

Untuk memperbanyaknya, menurut Staf Ahli Durian Taman Buah Mekarsari, Joko Sugono, akan digunakan teknik okulasi. “Kita akan pakai pucuk atau sisipan. DBB akan kita jadikan sebagai batang bawah. Yang atasnya, dari 3 jenis yang lainnya. Ini karena DBB produktif tapi daging buahnya tipis, sementara jenis yang lain daging buahnya tebal,” kata Joko menambahkan keterangan Azis.

Joko menyebut, saat ini Taman Buah Mekarsari juga memiliki beberapa bibit durian yang dibawa dari berbagai daerah di Indonesia. Bibit buat tersebut, diperkirakan akan mulai berbuah tujuh atau delapan tahun lagi.

Untuk durian lab, yaitu durian hasil penelitian laboratorium melalui persilangan penyerbukan, kemungkinan tahun depan akan mulai berbuah.  “Ini sudah tumbuh sekitar 10 tahun. Kalau tahun depan berbuah dan enak maka layak untuk dikembangbiakkan,” pungkas Joko.

Baca Juga
Lihat juga...