Petani Padi di Desa Bunibhakti Khawatirkan Serangan Wereng

Editor: Mahadeva

172

BEKASI – Petani padi di Desa Bunibhakti, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat (Jabar), sudah mulai memasuki musim tandur. Namun, kegiatan tersebut dibayangi kekhawatiran gagal panen, akibat serangan hama wereng yang menjadi momok tersendiri di kalangan petani setempat.

Selain hama, soal Irigasi Jati Luhur ikut dikhawatirkan petani. Saluran irigasi kerap dipenuhi sampah plastik, yang menutupi aliran air. Sementara sawah di daerah tersebut, menjadikan irigasi sebagai sebagai sumber pengairan karena tidak menggunakan sistem tadah hujan.

Petani Padi di Desa Bunibhakti, Timan – Foto M Amin

“Kami petani khawatir gagal panen lagi. Saya tahun lalu tiga kali gagal panen karena serangan hama wereng. Hama ini tidak bisa dibasmi dengan obat racun merek apapun,” ungkap Timan (50), petani pemilik lahan seluas dua hektare, Senin (7/1/2019).

Timan, berharap campur tangan pemerintah dalam menanggulangi kemungkinan terjadinya serangan hama wereng di daerah Babelan. Hama tersebut akan memupus harapan petani padi untuk panen. Kondisi Timan, adalah salah satu gambaran petani penggarap di Kecamatan Babelan. Petani yang menggarap sawah di lahan milik orang, dengan sistem bagi hasil. Rata-rata, petani di daerah tersebut, adalah petani penggarap melalui sistem sewa maupun bagi hasil.

Sistem bagi hasil dengan pemilik lahan, tergantung kesepakatan. Namun, pembagian baru dilakukan setelah hasil panen dipotong biaya modal. “Lahan di sini hampir rata-rata milik pengembang. Petani hanya memanfaatkan lahan sebelum dialih fungsikan, dengan sistem bagi hasil,” ujarnya, sambil menunjuk pembangunan perumahan di pinggir sawah seluas sekitar 50 hektare tersebut.

Menjadi petani sejak usia 28 tahun, bagi Timan sudah menjadi pilihan. Selama menekuni pertanian, baru sekali mendapat bantuan pemerintah, yaitu bibit padi sebanyak 50 kilogram. “Saya baru merasakan bantuan pemerintah berbentuk bibit padi untuk satu hektare sebanyak 25 kilogram. Dan luas sawah yang saya garap 2,5 hektare,” ujar Timan.

Untuk modal tandur, di lahan seluas satu hektare mencapai Rp6 juta. Untuk harga gabah, saat ini mencapai Rp4.200 per-kilogram.  “Hasil panen dibeli tengkulak, karena tidak ada KUD,” tandasnya.

Kepada Cendana News, Timan mempertanyakan fungsi kartu tani yang diberikan pemerintah. Ia mengaku sudah setahun lebih memegang kartu tersebut, tetapi tidak tahu fungsinya sama sekali. “Kartu tani fungsinya untuk apa? selama ini tidak ada gunanya. Beli pupuk menunjukkan kartu tani tetap saja harganya sama. Jadi saya bingung faedahnya bagi petani dengan memiliki kartu tersebut,” ungkap Timan.

Karena penasaran dengan fungsi kartu Tani, ia, mengaku pernah bertanya langsung ke PPL setempat terkait fungsi kartu tani, tapi tetap saja tidak mendapat penjelasan. “Semisalnya ada kios tertentu yang ditunjuk sebagai tempat belanja bagi pemegang kartu tani agar mendapat potongan harga atau bantuan lainnya di mana lokasinya biar petani datang,” pungkas Timan.

Baca Juga
Lihat juga...