PLUTHO, Teknologi Karya Anak Bangsa

Editor: Satmoko Budi Santoso

284

JAKARTA – Mengacu pada Renstra Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Rencana Induk Perindustrian Nasional (RIPIN) dan Rencana Induk Riset Nasional (RIFN) tentang pentingnya pengolahan mineral Logam Tanah Jarang (LTJ), Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir (PTBGN) Batan, membangun PLUTHO.

Peneliti PTBGN, Kurnia Setiawan, menjelaskan bahwa PLUTHO ini merupakan pilot planet pemisahan LTJ, Uranium dan Torium.

“Seperti kita tahu, saat ini LTJ merupakan mineral paling strategis yang mampu mengalahkan pesona sumber daya minyak bumi,” kata Kurnia, saat menunjukkan PLUTHO di Batan Pair Jakarta, Jumat (11/1/2019).

Sebagai contoh, salah satu unsur LTJ yang digunakan dalam industri adalah neodymium yang mengandung permanen magnet. Pemanfaatan logam LTJ ini adalah untuk aplikasi terkait listrik. Misalnya, mobil listrik.

Sumber terbesar LTJ saat ini adalah hasil samping pertambangan timah, yaitu monasit dan senotim.

Peneliti PTBGN Kurnia Setiawan – Foto: Ranny Supusepa

“Dulu PT Timah belum memanfaatkan mineral ikutan ini dengan maksimal. Saat itu, PT Timah menambang dengan kandungan timah 40 persen. Tapi saat ini PT Timah mulai melebar ke mineral lainnya. Sehingga penambangan dilakukan hingga kandungan timah di bawah 40 persen,” ujar Kurnia.

LTJ sendiri sebenarnya bisa juga didapatkan dari ion absorp clay atau lempung. Tapi kadar LTJ-nya kecil, hanya dalam puluhan atau ratusan ppm saja.

“Kandungan LTJ itu tergantung pada jenis batu juga. Kalau monasit, kandungan LTJ-nya mampu mencapai 60 persen, uranium 1.100 ppm. Ada torium dan phospat juga. Jadi sangat jauh persentasenya. 1 persen itu setara dengan 10.000 ppm,” kata Kurnia menjelaskan.

Di PLUTHO, pasir monasit yang didapat dari pertambangan timah pertama kali akan memasuki proses milling. Yaitu menjadikan ukurannya lebih halus.

“Setelah milling, prosesnya adalah dekomposisi. Dimana akan ditambahkan natrium oksida yang merupakan basa kuat untuk mendapatkan phospat. Setelah itu baru masuk ke proses berikutnya, yaitu penambahan asam klorida yang merupakan asam kuat.

Dalam proses pelabuhan dengan asam ini akan didapatkan torium dan uranium. Di tahap terakhir baru dilakukan dengan amoniak hidroksida untuk mendapatkan endapan LTJ dan sisa-sisa torium serta uranium,” papar Kurnia ,seraya menunjukkan proses pengolahan monasit di PLUTHO.

Setelah didapatkan, LTJ akan dikeringkan dengan oven bersuhu 90 derajat Celcius selama 1-2 hari, bergantung pada kelembaban dari LTJ.

“Setelah mendapatkan LTJ-oksida ini, Batan akan mengirimkan pada mitra kita, yaitu PSTA dan Tekmira yang akan menguraikan LTJ-oksida ini menjadi 17 unsur. Seperti lantanum, sereum dan gadolinium, yang akan menjadi elemen industri,” kata Kurnia.

Saat ini, menurut Kurnia, PLUTHO mampu untuk menghasilkan 18 kg LTJ-oksida, 2 kg torium dan uranium serta sekitar 30 kg phospat dari 1 batch monasit ukuran 50 kg dengan proses 3-4 hari.

“Target kita, ke depan akan mampu mencapai 20-25 kg LTJ-oksida dengan jumlah batch yang sama,” ucap Kurnia.

Diceritakan oleh Kurnia, PLUTHO membutuhkan waktu 3 tahun untuk menyelesaikan tahap engineering (2015), EP (2016) serta commisioning dan penyusunan studi kelayakan (2017).

“PLUTHO ini desain dan konsepnya semuanya dilakukan oleh Batan. Hingga untuk bahan bakunya pun sudah mencapai 80 persen. Kenapa hanya 80 persen? Karena masih ada beberapa alat yang memang kualitasnya hanya bisa didapatkan dari bahan impor. Misalnya pompa sentrifugal,” papar Kurnia.

Untuk tahun 2018 ini, PLUTHO sudah mengirimkan LTJ-oksida sebanyak 50 kg ke Tekmira dan 20 kg ke PSTA untuk membantu pilot project.

“Sudah ada beberapa negara lain yang datang untuk melihat PLUTHO ini. Berangkat dari hal itu, kita bisa menyatakan bahwa Batan mampu memberikan pendampingan teknologi untuk produksi yang lebih besar jika dibutuhkan,” ucap Kurnia lebih lanjut.

Untuk menciptakan mesin pengolahan monasit dalam skala industri massal, menurut Kurnia, dibutuhkan kerja sama dengan perusahaan engineering hidrometalurgi.

“Yang kita punya ini adalah skala kecil. Harapan saya, peneliti bisa dilibatkan untuk membuat dalam skala industri massal. Bersamaan juga, kami melihat perkembangan teknologi LTJ lainnya. Mungkin ada teknologi yang bisa diserap dan diaplikasikan untuk kepentingan industri Indonesia,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...