Potensi Energi Baru Terbarukan di Indonesia Sangat Besar

Editor: Makmun Hidayat

284
Dewan Pakar Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Milton Pakpahan - Foto: Ranny Supusepa

JAKARTA — Pembangunan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia, sebagai dukungan atas upaya pengadaan energi bersih, dinilai masih dalam jalurnya. Walaupun pemenuhannya baru 11,68 persen dari angka Rencana Usaha Penyedia Tenaga Listrik (RUPTL) tahun 2025 sebesar 35 gigawatt.

Dewan Pakar Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Milton Pakpahan, menyampaikan bahwa potensi EBT di Indonesia sangat besar. Dengan geo thermal dan hidro sebagai pemegang persentase terbesar.

“Energi thermal Indonesia itu memiliki potensi besar, yaitu 29 gigawatt. Air sebesar 75 gigawatt, panas surya 532 gigawatt, angin 113,5 gigawatt, bioteknologi 32 gigawatt dan juga masih ada nuklir serta gelombang air laut,” kata Milton dalam sebuah diskusi tentang EBT di Jakarta, Selasa (8/1/2019).

Dalam sistem pengadaan energi listrik di Indonesia, menurut Milton ada beberapa faktor yang mempengaruhi. Yaitu eksternal influence, birokrasi dan pelaku energi.

“Kita disini berbicara tentang EBT yang mengambil jatah dari energi fosil. Artinya kita bicara tentang kemauan politik dan ekonomi. Tapi jika mengacu pada RUPTL 35 gigawatt yang turun 5 persen, pembangunan EBT ini masih on the track,” ujarnya.

Indikasi yang digunakan dalam penilaian ini adalah sistem average terkait berapa lama dan berapa sering mati lampu dan penyerapan APBN.

“Pemerintah masih concern dan menganggap masalah energi untuk listrik ini vital dan menjadi infrastruktur dasar. Dilihatnya dari mana? Coba saat bencana terjadi, yang ditanyakan pertama itu bukan kondisi jalan raya, tapi listrik dan BBM,” kata Milton lebih lanjut.

Walaupun masih on the track, Milton menyatakan perlu adanya kerja sama dan kontribusi aktif dari semua pihak dalam mempercepat penggunaan EBT sebagai energi pengganti fosil.

“Menghemat energi itu penting. Tapi mensosialisasikan dan membangun kesadaran akan pentingnya EBT melalui diskusi, kerja sama, kemitraan maupun pendidikan itu penting,” tegas mantan Ketua Komisi VII ini.

Dicontohkan olehnya, di bidang pendidikan, harusnya dibuka prodi baru terkait EBT. Untuk memastikan kebijakan pemerintah dalam bidang energi didukung SDM yang berkualitas dibidangnya.

“Bukan hanya memperbesar kapasitas pendidikan EBT tapi juga mendorong generasi muda atau kaum milenial untuk turut serta menjadi bagian dari simpul koordinasi. Dunia kita sudah terancam. Kalau masyarakat Indonesia tidak bergerak ke EBT, ya tidak bisa,” ungkap Milton.

Hal senada juga disampaikan Program Manager Sustainable Energy Access Institute for Essential Services Reform (IESR), Marlistya Citraningrum, PhD.

“Peluang bagi pekerja di bidang green-job ini sangat besar. Karena asumsi kedepannya, jika didukung pemerintah, maka Indonesia sangat membutuhkan SDM Green ini,” ujarnya.

Marlistya menekankan bahwa Indonesia akan kalah dengan negara lain, yang sudah sangat fokus pada pengembangan EBT, jika generasi mudanya tidak turut menyuarakan tentang pentingnya EBT ini.

Baca Juga
Lihat juga...