Pria ini Sukses Bangun Usaha dengan Satu Tangan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

1.180

BREBES — Pagi masih diselimuti mendung dan sedikit gelap, namun Ahmad Sudrajat (29), warga Desa Paguyangan, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes sudah terlihat mulai sibuk. Ia terlihat memeriksa stok kedelai, minyak goreng hingga peralatan peralatan produksi tahu miliknya. Setelah berkeliling dan memastikan semua siap untuk produksi, pria duduk di halaman rumah sambil menikmati kopi yang dihidangkan sang istri.

Ahmad Sudrajat
Ahmad Sudrajat. Foto: Hermiana E Effendi

Sambil menunggu karyawannya datang, Sudrajat bercerita, dulu dia bekerja sebagai sopir mobil pick up yang mengantar ayam petelor dan buah-buahan.  Desember 2012, ia mengalami kecelakaan saat hendak mengambil buah di Cikampek. Kecelakaan tersebut berujung fatal, karena harus kehilangan tangan kirinya.

ʺSaya dirawat sampai 1,5 bulan di rumah sakit, dokter mencoba mengobati tangan saya, tetapi karena tidak kunjung membaik, akhirnya harus diamputasi. Waktu itu sangat terpukul, bahkan sepulang dari rumah sakit sangat minder, tidak mau keluar rumah,ʺ tutur ayah satu anak ini, Rabu (16/1//2019).

Dukungan dari keluarga, saudara serta teman-temannya, termasuk istrinya yang saat itu masih berstatus sebagai pacar, membuat Sudrajat cepat bangkit dari keterpurukan. Setelah dua minggu merenung, ia mulai membangun usaha tahu.

ʺSebelum kecelakaan, orang tua sudah menyatakan keinginannya untuk membuka usaha dan setelah saya berhenti kerja, saya mulai wujudkan keinginan orang tua,ʺ katanya.

Berbekal modal seadanya, Sudrajat mulai memproduksi tahu dengan dibantu satu orang karyawan. Produksi awal ia hanya mengolah 40 kilogram kedelai.

Delapan bulan berjalan, usahanya mulai menampakan hasil, produksinya meningkat hingga 100 kilogram per hari, karyawannya pun bertambah menjadi tiga orang.

Dari 100 kilogram kedelai tersebut, diolah menjadi sekitar seribu biji tahu. Tahu tersebut dijual ke pasar-pasar tradisional di wilayah Kabupaten Brebes.

Satu biji tahu dijual dengan harga Rp175 kepada pedagang dan dijual eceran Rp200 per biji. Sekarang omzetnya mencapai Rp2 juta per hari atau Rp60 juta per bulan.

ʺKalau sedang sepi biasanya hanya membuat 100 kilogram, tetapi saat ramai, misalnya waktu puasa atau sedang musim orang hajatan, produksinya bisa mencapai 160-200 kilogram per hari,ʺ jelasnya.

Tak berhenti pada satu usaha, Sudrajat juga melakukan usaha penggemukan sapi. Ia biasanya membeli sapi yang usianya sudah masuk dewasa. Dirawat selama 5 bulan dengan makanan yag bagus, seperti ampas tahu, dedak serta rumput segar.

Selama masa perawatan, Sudrajat juga sesekali mengundang dokter hewan untuk memeriksa sapinya dan memastikannya dalam kondisi sehat.

ʺUntuk biaya makan satu ekor sapi per hari antara Rp15 ribu sampai Rp18 ribu, biasanya setelah 5-6 bulan dirawat, kemudian saya jual lagi. Hanya saja sekarang stok sapi saya sedang sedikit, hanya ada empat ekor, biasanya sampai 10 ekor di kandang,ʺ tuturnya.

Kesuksesan bisnis Sudrajat ini, tak lepas dari peran istrinya, Dwi Setia Widyaningsih yang selalu sabar mendampingi. Mereka sudah pacaran sejak Sudrajat belum mengalami kecelakaan dan harus kehilangan salah satu tangannya.

ʺSetelah kecelakaan, orang tua saya sempat tidak menyetujui hubungan kami, tetapi saya tetap bersikukuh dan mencoba istikomah dengan pilihan saya. Saya yakin dengan sifat suami saya yang pekerja keras, pasti bisa untuk menghidupi keluarga dan hal tersebut terbukti sekarang,ʺ kata Dwi.

Baca Juga
Lihat juga...