Produksi Batu Bata di Lamsel Terhambat Hujan

Editor: Koko Triarko

489

LAMPUNG – Hujan yang melanda wilayah Bakauheni, Lampung Selatan, selama hampir sebulan lebih, menyebabkan terhambatnya proses produksi  batu bata di wilayah tersebut. Hamid, salah satu perajin batu bata di Dusun Cilamaya, Bakauheni, menyebut hujan membuat proses pencetakan dan pengeringan batu bata lebih lambat dibanding kondisi normal. Menurutnya, pada kondisi normal bisa menjemur batu bata maksimal selama dua hari, kini lebih lama selama sepekan.

Proses pengeringan batu bata mengandalkan sinar matahari, membuatnya harus membeli plastik penutup. Plastik penutup bata, menjadi salah satu solusi mencegah batu bata yang sudah dicetak tidak hancur akibat tersiram air hujan. Sebagian adonan tanah untuk pembuatan batu bata, sementara waktu tetap dicetak di tobong atau gudang penyimpanan batu bata.

Proses penjemuran batu bata terkendala hujan -Foto: Henk Widi

“Produksi batu bata tetap harus dilakukan untuk memenuhi pesanan warga yang akan membuat bangunan, dengan jumlah bata yang harus saya buat berjumlah enam ribu,” terang Hamid, saat ditemui Cendana News, Rabu (23/1/2019).

Pembuatan batu bata masih menjadi usaha pokok bagi warga di Dusun Cilamaya, Desa Bakauheni, setelah lahan pertanian tergusur proyek Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS).

Pembuatan batu bata memanfaatkan tanah yang sebagian dibeli dari wilayah lain, sementara pasokan air diperoleh dari Sungai Kubang Gajah yang mengalir di wilayah tersebut. Pengeringan batu bata akan semakin cepat saat musim kemarau, dan lebih lambat saat musim penghujan.

Proses produksi batu bata di wilayah tersebut, kata Hamid, dibuat secara manual menggunakan alat cetak terbuat dari kayu. Satu cetakan batu bata berisi lima buah, dengan produksi harian mencapai 200 hingga 500 batu bata.

Batu bata yang sudah selesai dicetak, disimpan di tobong khusus untuk proses pembakaran, hingga jumlahnya cukup sesuai dengan pesanan pembeli. Hingga menjelang akhir Januari, Hamid sudah memproduksi sekitar 4.000 batu bata atau masih kurang sekitar 2.000 batu bata.

“Proses pencetakan bisa dipercepat, karena bisa dikerjakan malam hari. Namun, akhir-akhir ini hujan kerap turun, sehingga produksi hanya dilakukan siang hari di tobong,” beber Hamid.

Kendala hujan selain memperlambat proses pengeringan, juga kerap membuat batu bata miliknya, rusak. Tampias air hujan yang kerap membasahi lokasi tobong, termasuk banjir luapan sungai, membuat sebagian batu bata miliknya, rusak.

Selain itu, puluhan kubik kayu bakar yang akan dipergunakan untuk membakar batu bata, terendam air. Butuh proses pengeringan agar kayu bakar tersebut bisa dipergunakan untuk membakar batu bata yang sudah kering.

Pembuat batu bata lain, Nurjanah, mengaku harus menyiapkan penutup plastik saat hujan. Lokasi penjemuran batu bata dibuat pada lokasi yang tinggi, dengan sejumlah saluran air. Ia tetap memproduksi batu bata, membantu sang suami yang saat ini bekerja sebagai tukang bangunan. Pembuatan batu bata dikerjakan sebagai sumber penghasilan tambahan, di sela pekerjaan sebagai petani pekebun.

“Hujan yang kerap turun memang menghambat proses pengeringan. Namun, saya siasati dengan penutup plastik serta daun kelapa, agar batu bata tidak hancur,” terang Nurjanah.

Nurjanah yang mendapatkan pesanan batu bata sebanyak lima ribu buah, mengaku sedang menyelesaikan seribu buah sebelum dibakar. Sebagian batu bata yang sudah kering sudah disimpan di tobong, menunggu pengeringan batu bata lain yang sedang dicetak.

Meski terhambat karena hujan, Nurjanah mengaku menggantungkan penghasilan dari usaha membuat batu bata. Saat ini, per seribu batu bata dijual seharga Rp300.000, sehingga untuk lima ribu batu bata, ia akan memperoleh uang sekitar Rp1,5 juta.

Lihat juga...