Produksi Blok Cepu Melonjak, Capai 220.000 BPH

226
Ilustrasi Kementerian ESDM - Foto: esdm go id

JAKARTA — Produksi Blok Cepu melonjak hingga mencapai 220.000 barel per hari (bph) yang diproyeksikan akan mampu dipertahankan sampai tahun 2020.

Kementerian ESDM dalam data yang dipantau di Jakarta, Minggu mencatat, angka tersebut lebih tinggi daripada yang ada di proposal pengembangan (PoD) yang disetujui di awal, yakni sebesar 165.000 bph. Peningkatan produksi Blok Cepu ini juga bukan yang pertama kali. Tahun 2017, produksinya meningkat menjadi 185.000 bph dan tahun 2019 ini ditargetkan sebesar 216.000 bph.

Dirjen Migas Kementerian ESDM, Djoko Siswanto, mengungkapkan peningkatan produksi ini terjadi berkat pemasangan fasilitas alat pendingin (cooler) yang dilakukan ExxonMobil selaku operator Blok Cepu.

“Blok Cepu itu kan sekarang menyalip Chevron (Blok Rokan), dia awal Plan of Development (POD) 165.000 barel per hari lalu kami upayakan ke 185.000 barel per hari, lalu naik ke 220.000 barel per hari, itu upayanya dengan memasang fasilitas cooler,” jelas Dirjen Migas Kementerian ESDM, Djoko Siswanto.

Fasilitas cooler, imbuh Djoko, paling tidak, bisa mempertahankan produksi Blok Cepu sesuai Rencana Program dan Anggaran (WP&B) sampai tahun 2020.

Dengan begitu, apabila nanti di tahun 2021 terjadi penurunan bisa teratasi dari produksi lapangan Kedung Keris yang akan mulai beroperasi di akhir tahun 2019 ini.

“Kedung Keris sekarang dalam proses pemasangan pipa, sepanjang enam km untuk masuk di fasilitas Lapangan Banyu Urip,” terang Djoko.

Untuk diketahui, ExxonMobil selaku operator pertama kali menemukan lapangan Banyu Urip dengan cadangan mencapai 450 juta barel.

Mulai berproduksi pada 2008 dengan kapasitas 20.000 barel sehari di 2009, dan terus naik sampai sekarang.

Pada awal bulan Desember 2018, cadangan Blok Cepu meningkat setelah operator melakukan pembaruan data seismik reprocessing guna meningkatkan gambaran di bawah permukaan tanah.

Cadangan lapangan Banyu Urip mengalami penambahan dari 729 juta barel menjadi 823 juta barel.

Kemudian pada tahun 2011, ExxonMobil menemukan cadangan baru di lapangan Kedung Keris dan akan beroperasi penuh pada Kuartal III tahun 2019 dengan proyeksi penambahan produksi sebesar 10.000 bph.

Kini, Blok Cepu didaulat sebagai andalan utama lifting minyak nasional menggeser Blok Rokan yang hanya memproduksi rata-rata 190.000 bph lantaran masuk dalam kategori tua. “Secara alamiah, kalau minyak diambil terus menerus ya abis,” jelas Djoko.

Meski demikian, keduanya tetap merupakan tumpuan produksi dan lifting minyak nasional. Secara umum, lifting minyak pada tahun 2018 mencapai 778 Million Barrel Oil Per Day (MBOPD). Sedangkan lifting gas sebesar 1.139 Million Barrel Oil Equivalent Per Day (MBOEPD). (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...