Produksi Jagung di Kangae Capai Lima Ribu Ton Per Tahun

Editor: Satmoko Budi Santoso

178

MAUMERE – Sebagai salah satu sentra produksi jagung di Kabupaten Sikka, produksi jagung di kecamatan Kangae selalu mencapai 5 ribu ton lebih setiap tahun untuk sekali tanam. Sementara produksi jagung di Kabupaten Sikka tahun 2017 mencapai 57.500 ton.

“Untuk musim tanam tahun 2017 hasil produksi jagung di Kecamatan Kangae mencapai 5.505 ton. Dari 21 kecamatan, Kangae yang paling besar produksinya dengan luas lahan jagung mencapai 700 hektare,” sebut John F, Kepala Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Kangae, Senin (14/1/2019).

Dikatakan John, dari 9 desa yang ada di Kecamatan Kangae, produksi jagung terbesar ada di Desa Langir sebanyak 1.395 ton disusul Desa Habi sebesar 1.180 ton dan Watuliwung 735 ton. Luas lahan di Desa Langir mencapai 310 hektar, Habi 295 hektar dan Watuliwung seluas 246 hektar.

Ignatius Iking, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) pertanian swadaya di Desa Langir Kecamatan Kangae Kabupaten Sikka. Foto: Ebed de Rosary

“Untuk tahun 2017 dan 2018, varietas jagung komposit yang paling banyak ditanam di Kangae. Untuk musim tanam 2018 sampai 2019 pemerintah memberikan bantuan benih jagung komposit sebanyak 17,5 ton,” paparnya.

John mengaku, produksi jagung di Kangae masih bisa ditingkatkan apabila petani menanam 2 sampai 3 kali dalam setahun. Apalagi sudah ada embung di Desa Habi dan Watuliwung yang bisa dipergunakan sebagai sumber air untuk irigasi lahan jagung.

“Rata-rata petani jagung hanya mengandalkan hujan sehingga saat curah hujan rendah, hasil panen menurun. Produksi kurang juga dipengaruhi oleh terlambatnya penyiangan rumput serta pemakaian pupuk,” terangnya.

Pupuk bantuan pemerintah, jelas John, hanya pupuk urea. Bila ingin hasil produksi meningkat, maka harus dicampur dengan pupuk NPK. Bila pemupukan berimbang, maka untuk varietas lamuru dalam satu hektar produksinya bisa mencapai 6,3 ton.

“Usia emas jagung itu sebulan ke bawah sehingga bila terlambat melakukan pemupukan, maka produksinya sedikit. Penyiangan rumput pun harus tepat waktu, karena bila terlambat dan saat hujan lebat, maka sulit melakukan penyiangan menggunakan kimia maupun manual,” terangnya.

Ignatius Iking, PPL Swadaya Desa Langir yang juga pengurus Gapoktan Wa Wua menyebutkan, Gapoktan Wa Wua terdiri dari 19 kelompok tani jagung. Untuk musim tanam 2018/2019 mendapatkan bantuan benih jagung komposit sebanyak 3,75 ton.

“Kalau ada sumur bor bisa tanam jagung 2 sampai 3 kali setahun. Di Habi, ada beberapa sumur bor dan petani menanam jagung 2 kali setahun. Traktor juga masih kurang dan tahun 2018 hanya dapat bantuan 3 traktor tangan untuk Desa Langir dan 3 untuk Desa Habi,” jelasnya.

Iking berharap, pemerintah membantu traktor dan juga sumur bor sehingga petani bisa menanam jagung 3 kali setahun. Rata-rata petani mau menanam 3 kali setahun, asal ada sumur bor dan traktor tersedia. Meskipun harus menyewa untuk membajak lahan.

“Sayang bila tanah dibiarkan tidur. Padahal daerah Kangae sangat potensial untuk tanaman jagung. Sejak tahun 1980-an, Kangae sudah terkenal sebagai sentra produksi jagung di Kabupaten Sikka,” ungkapnya.

Baca Juga
Lihat juga...