Putri Bungsu Mbak Tutut Soeharto Gelar Upacara Adat Mitoni

Editor: Koko Triarko

4.639

JAKARTA – Putri bungsu Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut Soeharto), Danvy Sekartaji Indri Haryanti Rukmana, akrab disapa Mbak Danvy, menggelar upacara adat tujuh bulanan atau Mitoni, di kediaman Tutut Soeharto, di jalan Adiwinata, Jakarta, Minggu (13/1/2019).

Upacara adat Jawa memperingati usia kehamilan yang ke tujuh  bulan Mbak Danvy, diawali dengan pengajian dan tahlil bersama. Ada pun prosesi adat mitoni terdiri dari sungkeman, siraman, ngrogoh cengkir, brojolan atau brobosan, membelah cengkir, pantes-pantesan, babon angrem, potong tumpeng, pembagian takir pontang, jualan dawet dan rujak.

Serangkaian prosesi adat tersebut dilangsungkan sejak pagi, dihadiri sejumlah tamu undangan. Sebagaimana prosesi adat Jawa, rangkaian prosesi adat mitoni memiliki makna filosofi dan doa pengharapan dari sang calon orang tua jabang bayi.


Sekartaji Indri Haryanti Rukmana dan Ajie Sulistyo Dwi Putra Maryulis, saat menjalani prosesi jualan dawet -Foto: M Fahrizal

Diawali dengan sungkeman. Kedua calon ibu dan ayah melakukan sungkem untuk meminta doa restu orang tua, agar diberi keselamatan dalam persalinan nanti.

Setelah itu, dilanjut dengan prosesi siraman, yang bertujuan untuk menyucikan lahir batin sang ibu dan calon bayi yang dikandungnya. Siraman menggunakan air kembang setaman, dilakukan oleh tujuh orang sesepuh dalam keluarga, secara bergantian, dengan menggunakan gayung dari batok kelapa kering.

Berikutnya, prosesi ngrogoh cengkir. Prosesi ini merupakan simbolisasi dari cikal bakal bayi yang kelak akan tumbuh dewasa. Dua buah cengkir atau tunas kelapa ini, diambil oleh sang suami atau calon ayah sang bayi, untuk kemudian dilakukan prosesi brobosan.

Dalam prosesi brobosan atau brojolan ini, sang ayah meluncurkan dua buah cengkir dari balik kain yang dipakaikan sang ibu. Sebelumnya, dua buah cengkir itu telah dilukis dua tokoh pewayangan, yakni Dewi Kamaratih yang cantik jelita dan Dewa Kamajaya yang gagah rupawan.

Setelah itu, dilanjut dengan prosesi membelah cengkir, yang dilakukan oleh sang ayah, sebagai simbol membuka jalan jabang bayi, agar lahir pada jalannya.

Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut Soeharto) foto bersama sejumlah tamu undangan -Foto: M Fahrizal

Prosesi berikutnya adalah pantes-pantesan. Sang ibu memilih dan mengenakan busana, disaksikan tamu undangan. Memilih dan mengenakan busana hingga pantas atau pantes ini dilakukan tujuh kali, dan seluruh tamu undangan berseru. Pada prosesi ini, Mbak Danvy mendapatkan busana yang pantas berupa kain lurik, seperti yang diserukan oleh para tamu undangan.

Prosesi adat mitoni yang cukup panjang ini, kemudian dilanjut dengan prosesi babon angrem. Sang ibu dan ayah menirukan gaya seekor ayam (babon) yang mengerami telur, dan berkokok keras, sebagai simbol tanggung jawab atas kehidupan dan kesejahteraan sang calon bayi dan ibu.

Prosesi babon angrem dilanjut prosesi potong tumpeng sebagai ungkapan rasa syukur, bahwa seluruh prosesi adat mitoni sudah berjalan lancar.

Prosesi penutup, yakni pembagian takir pontang, atau makanan yang disajikan dalam takir, yaitu wadah terbuat dari daun pohon pisang yang dibentuk menyerupai kapal. Hal ini melambangkan makna, agar calon ibu dan ayah siap menjalani bahtera kehidupan, sebagaimana kapal di tengah lautan. Takir pontang dibagikan kepada para sepuh yang hadir.

Kemudian prosesi jualan dawet dan rujak dilakukan oleh calon ibu. Rujak sebagai makanan kesukaan ibu hamil dibuat dari tujuh macam buah. Dalam prosesi jualan dawet ini, tamu undangan diharuskan membayarnya dengan kreweng atau pecahan gerabah.

Jualan dawet dan membuat rujak ini menjadi penutup dari serangakaian upacara adat mitoni dalam budaya Jawa. Selain kaya makna dan doa pengharapan, tentu saja prosesi adat ini mengundang kebahagiaan bagi para tamu undangan yang hadir.

Dalam khazanah budaya Jawa, prosesi adat jawa Miton ini juga diyakini akan memberikan gambaran jenis kelamin sang jabang bayi yang akan lahir.

Gelar acara mitoni Sekartaji Indri Haryanti Rukmana dan Ajie Sulistyo Dwi Putra Maryulis, -Foto: M Fahrizal

Namun demikian, Siti Hardiyanti Rukmana, kepada segenap tamu undangan mengatakan, bahwa apa pun yang diberikan Allah SWT, apakah bayi laki-laki atau perempuan, keluarga sangat bahagia dan akan menyambut kehadiran cucu tercinta, cucu ke sepuluh.

Prosesi pecah kendi, kata Mbak Tutut, hanyalah simbolik untuk mengetahui apakah jabang bayi nantinya laki-laki atau perempuan.

“Ujung kendi tersisa, menandakan atau melambangkan jabang bayi adalah laki-laki, dan belah cengkir yang dilakukan Ajie dengan memuncratkan air, juga melambangkan jabang bayi laki-laki,” kata Mbak Tutut.

Namun demikian, Mbak Tutut meminta agar semua itu diserahkan dan dipasrahkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan nikmat dan anugerah kebahagiaan kepada keluarga, atas kehadiran anggota keluarga baru, nantinya.

Sementara itu, suami Mbak Danvy, Ajie Sulistyo Dwi Putra Maryulis, menyampaikan, bahwa tujuh bulan sudah berlalu, dan selama perjalanan waktu tersebut, limpahan rahmat dan nikmat Allah SWT yang berkenan memberikan kesempatan kepada dirinya dan sang istri, dalam menantikan kehadiran seorang anak.

“Hanya kesabaran yang kita miliki. Dan, hanya doa senantiasa yang selalu kita panjatkan kepada Allah, agar kelak diberikan keturunan yang saleh dan salehah, berbakti kepada kedua orang tua, sehat jasmani dan rohani,” kata, Ajie, sapaannya.

Menurutnya, rasa syukur akan lebih lengkap secara utuh, jika tradisi para leluhur turut mewarnai rangkaian upacara mitoni ini, yang juga wujud sumbangsih keluarga untuk turut serta melestarikan adat budaya.

Lihat juga...