Rida Berharap Pemerintah Segera Akui Hari Puisi

Editor: Koko Triarko

362
Rida K Liamsi, sastrawan dan budayawan Melayu Indonesia -Foto: Akhmad Sekhu

JAKARTA – Yayasan Hari Puisi, selama beberapa tahun telah sukses menggelar rangkaian Hari Puisi Indonesia. Kesuksesakan itu tak lepas dari peran Rida K Liamsi, sosok sastrawan dan budayawan Melayu Indonesia yang memiliki perhatian besar pada perkembangan puisi Indonesia.

Rida merupakan pemrakarsa diselenggarakan Festival Hari Puisi Indonesia yang dimulai sejak 2014, di Taman Ismail Marzuki (TIM). Selain sebagai sastrawan, Rida juga menekuni profesi sebagai guru dan wartawan.

Atas ketokohannya di dunia sastra, Rida telah menerima banyak penghargaan dari berbagai pihak, kerap diundang di banyak perhelatan, baik dalam negeri maupun luar negeri, untuk menjadi pembicara masalah-masalah kebudayaan, khususnya kebudayaan Melayu, ekonomi, dan sosial, serta membacakan karya-karyanya, antara lain di Melaka, Johor Bahru, Kuala Lumpur, Seoul, dan Hanoi.

“Hari Puisi adalah ide dari teman-teman penyair Indonesia yang ingin punya satu hari untuk merayakan Hari Puisi, menjadi hari besar dari para penyair, “ kata Rida K Liamsi, sastrawan dan budayawan Melayu Indonesia, kepada Cendana News, di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (5/1/2019).

Lelaki kelahiran Dabo, Singkep, Lingga, Kepulauan Riau, 17 Juli 1943 itu membeberkan, jika Hari Puisi Sedunia tanggal 21 Maret ditetapkan secara resmi oleh UNESCO.

“Kalau di Indonesia kan belum, jadi kita cari bersama membuat Hari Puisi, dengan menggelar rangkaian Hari Puisi Indonesia sejak 2012 di Pekanbaru, Riau,“ beber sastrawan dan budayawan Melayu Indonesia yang meraih gelar kehormatan Adat, Datuk Seri Lela Budaya dari Lembaga Adat Melayu Riau, 2015.

Para penyair, lanjut Rida, harus punya kebanggaan pada satu hari yang dinamakan Hari Puisi untuk dirayakan bersama.

“Kita mempersilahkan para penyair seluruh Indonesia untuk menggelar Hari Puisi di berbagai daerahnya masing-masing, mulai dari 26 Juli yang dirayakan sepanjang tahun,“ tuturnya.

Rida menyebut, pada 2018 ada sekitar 80 daerah yang merayakan Hari Puisi, dan diharapkan pada 2019 lebih banyak dan semarak lagi.

“Hari Puisi rencananya kita tetapkan pada 26 Juli, dari tanggal kelahiran penyair besar kita, Chairil Anwar,“ paparnya.

Selama ini, kata Rida, bangsa Indonesia merayakan Bulan Bahasa pada Bulan Oktober. “Hal ini mengacu pada sejarah memperingati Hari Sumpah Pemuda,“ ungkapnya.

Rida menyambut gembira para penyair Indonesia ,ada tiap tahunnya menerbitkan ratusan buku puisi. “Yang ikut lomba 300 buku puisi dalam acara Hari Puisi, dan tentu masih banyak lagi lainnya, itu bagian dari cara mereka mencatat pengalaman hidup dan proses kreatifnya,“ katanya.

Rida berharap, pemerintah segera mengakui Hari Puisi sebagai Hari Nasional, sehingga menjadi milik seluruh bangsa Indonesia. “Puisi sebagai suatu periode kesusastraan yang sangat tinggi nilainya.”
Sejauh ini, kata Rida, Yayasan Hari Puisi sudah menempuh usaha agar ada Hari Puisi.

“Kita sudah bicara pada pemerintah, dalam acara yang kita gelar beberapa menteri sudah hadir, seperti Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, bahkan Wapres Jusuf Kalla juga datang, Hari Puisi menjadi salah satu bagian pembangunan kebudayaan,” tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...