Rumah Susun Solusi Keterbatasan Lahan di Sleman

221
Ilustrasi. Rumah Susun. Dokumentasi CDN

YOGYAKARTA – Staf pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Lincolin Arsyad, mengatakan, keterbatasan lahan menjadi kendala dalam penyediaan rumah murah, sehingga sebagai solusi adalah rumah vertikal, baik itu rumah susun sewa maupun apartemen.

“Tren rumah vertikal atau high-rise buildings menjadi alternatif penyediaan rumah, ini merupakan dampak dari pertumbuhan penduduk yang semakin banyak,” kata Lincolin, di Sleman, Minggu (13/1/2019).

Menurut dia, dari data yang dia dapatkan pada 2016, pertumbuhan masyarakat di Kabupaten Sleman pada angka 1,113 persen.

“Padatnya wilayah Sleman ini apa hanya warga Sleman saja atau pendatang?” katanya.

Ia mengatakan, harus diakui jika saat ini ketersediaan tanah untuk perumahan, apalagi di Kabupaten Sleman, sangat minim, karena tidak semua wilayah di sini dapat dibangun perumahan.

Seperti di Sleman barat, yakni Kecamatan Moyudan, Seyegan, Minggir, dan Gamping, merupakan daerah sabuk hijau. Sebagian besar hasil pertanian di Sleman dipasok dari sana.

“Karena itu, pemanfaatannya tidak boleh untuk membangun perumahan. Apalagi penyusutan lahan pertanian di Sleman dari tahun ke tahun semakin tinggi,” katanya.

Lincolin mengatakan, pembangunan rumah vertikal juga merupakan salah satu upaya dan solusi untuk mengurangi dampak alih fungsi lahan.

“Tren hunian ini paling tidak juga akan berdampak pada sektor ekonomi. Nantinya akan muncul lapangan kerja baru untuk masyarakat. Misalnya, nanti pengelola apartemen akan membutuhkan satpam ataupun cleaning service, ini juga lapangan pekerjaan,” katanya.

Ia mengatakan, namun demikian, tidak selamanya rumah vertikal menimbulkan dampak positif, karena tidak semua orang dapat tinggal atau pun membeli apartemen. Sehingga kesenjangan sosial akan muncul.

“Saya tidak menampik akan adanya kesenjangan sosial. Karena memang pasti akan muncul dan terjadi dualisme,” katanya.

Namun terlepas dari itu, kata dia, dengan padatnya wilayah DIY dan minimnya lahan yang tersedia, solusi utamanya adalah membuat apartemen, untuk memenuhi kebutuhan hunian untuk warga DIY maupun para pendatang.

“Hanya saja yang menjadi tantangan para pengembang, modal besar untuk membangun apartemen dan belum jelasnya tingkat keterjualan apartemen tersebut,” katanya. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...