hut

Sajikan Durian Terbaik dengan Mengedukasi Petani

Editor: Mahadeva

Heri Kristanto, pemilik Kedai Durian Pabuaran, Sabtu (26/1/2019), menujukan durian kualitas terbaik yang diperolehnya setelah ia terjun langsung dengan mengedukasi  petani. (FOTO : Hermiana E.Effendi)

PURWOKERTO – Memasuki musim durian, pedagang musiman mulai bertebaran di tepi-tepi jalan Kota Purwokerto. Beragam jenis dan ukuran durian dijual dengan harga yang bervariasi, ditentukan sendiri oleh para pedagang.

Sehingga proses jual beli, selalu diwarnai tawar-menawar harga. Namun, tidak semua durian yang dijual kualitasnya bagus. Tidak jarang, konsumen yang sudah membeli dengan harga mahal, harus kecewa karena isi durian sesampai di rumah tidak sesuai harapan. Kekecewaan tersebut, tidak akan didapatkan di Kedai Durian Kampung. Kedai yang berlokasi di Kelurahan Pabuaran, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas tersebut, dirintis oleh warga Banyumas, Heri Kristanto.

Kedai tersebut, berani menjamin kualitas durian yang dijual. Heri mengklaim, mengawal proses durian yang dijual dari hulu sampai ke hilir. ʺKita mempunyai beberapa petani pemasok yang sudah kita edukasi, sehingga mulai dari pemilihan bibit kita kawal, dan harus menggunakan bibit yang unggul, kemudian sampai proses pemeliharaan tanaman, pemupukan dan lain-lain. Semua itu demi mendapatkan kualitas durian yang terbaik,ʺ ungkap Heri, Sabtu (26/1/2019).

Heri mengawali bisnis durian, menggunakan pola berjualan seperti pedagang pada umumnya. Durian dibeli secara borongan dari petani. Terkadang durian dibeli dari para penebas dan pengepul durian. Seiring waktu Heri merasa, hanya sekedar mengejar keuntungan, tanpa ada upaya untuk ikut memberdayakan mata rantai tata niaga durian.

Durian kampung yang dijajakan Kedai Durian di Purwokerto – foto Hermiana E Efendi

ʺPangsa pasar durian ini luar biasa dan pedagang sampai kesulitan mencari kualitas yang unggul, baik dari sisi rasa maupun jenis vaietas yang dinginkan. Karena itulah saya mencoba untuk mulai terjun dari hulu, mulai dari edukasi kepada petani, serta budidaya durian kualitas unggul,ʺ terangnya.

Setelah satu tahun dijalani, Heri kini sudah berani memproklamirkan diri, kedainya hanya menjual durian kualitas unggul. Bahkan, Dia berani mengganti durian yang kurang memuaskan konsumen, saat ada yang membeli dan membuka durian di kedainya. Pembenahan tata niaga Durian Kampung terbanyak masih menata pasokan durian lokal asli Banyumas. Diantaranya, jenis kromo (terdaftar di kementerian), bawor, pudang, kusan, susu, dan kepel.

Saat ini prosesnya mulai merambah durian dari luar yang sudah dikembangkan di Banyumas, seperti masmuar dan musangking dari Malaysia. “Penjual yang mau menjaga tata niaga durian ini, jumlahnya masih sedikit. Karena itu harus bersinergi, sebab konsumen durian sangat luas dan yang dicari rasa. Jika konsumen sudah menemukan penjual dengan cita rasa durian yang memuaskan, maka berapapun harganya, ia akan kembali mencari dan tidak mau beralih ke penjual lainnya yang kualitas duriannya belum tentu bagus,ʺ jelasnya.

Untuk harga  yang dianggap mahal, Heri menyebut, sebenarnya itu sebagai pengganti biaya besar, yang telah dikeluarkan dari hulu. Sepeti biaya mensortir kualitas, mendidik petani, penebas, pengepul untuk berperilaku jujur. Banyak penjual tidak mau masuk dari hulu hingga hilir, karena tantangannya berat. Problem budidaya dari petani, kebanyakan menganggap durian lokal atau kampung, banyak tumbuh di pekarangan.

Mereka merasa  tidak menanam, merawat tapi merasa bisa memanen. “Jadi kalau berharap ada kualitas yang baik, maka dimulai dari hulu terlebih dahulu dengan  mengedukasi petani,” pungkasnya.

Lihat juga...