Sebagian Nelayan Lamsel Belum Melaut Akibat Kerusakan Alat Tangkap

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

191

LAMPUNG — Memasuki pekan kedua setelah bencana alam tsunami Selat Sunda, ratusan nelayan belum dapat beraktivitas. Seperti di pantai pesisir barat Lamsel, yang meliputi Kalianda, Rajabasa dan Bakauheni. Sedangkan nelayan tangkap di pantai timur meliputi wilayah Ketapang hingga Labuhan Maringgai Lampung Timur mulai kembali beraktivitas.

Darmawan, salah satu nelayan tangkap menyebutkan, ia masih berusaha memindahkan bagan apung miliknya ke tepi pantai. Di dusun Minang Rua, desa Kelawi, kecamatan Bakauheni tsunami merusak 9 unit bagan dan sekitar 40 perahu tradisional.

Darmawan menyebut kerugian kerusakan bagan apung akibat tsunami ditaksir mencapai puluhan juta. Satu bagan rata rata membutuhkan biaya pembuatan minimal Rp30 juta dengan kerusakan ditaksir per bagan mencapai Rp5 juta hingga Rp10 juta.

“Kerusakan sekitar sembilan bagan apung bervariasi ada yang hanya bergeser posisi, ada yang hancur karena saling bertabrakan dengan bagan lain serta menabrak pohon dan rumah nelayan,” terang Darmawan saat ditemui Cendana News, Senin (7/1/2019)

Darmawan dan sejumlah nelayan tangkap menggunakan bagan apung, perahu menyebut sudah melaporkan kerusakan tersebut kepada Dinas Kelautan Lamsel. Meski demikian sejumlah nelayan mulai melakukan rehabilitasi mandiri terhadap kerusakan alat tangkap.

Sebagian nelayan yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB) Sinar Laut bahkan mulai bergotong royong memindahkan perahu yang berserakan di daratan akibat terbawa gelombang tsunami.

Sementara itu, nelayan bagan congkel di dermaga Bom Kalianda, Bastari menyebutkan, ia belum melaut karena perahunya tenggelam saat tsunami. Selain dirinya, tercatat ada sekitar puluhan perahu tenggelam, sebagian rusak saling bertabrakan dan sebagian terhempas ke daratan.

“Sebagian nelayan kehilangan perahu dan juga rumah yang berada di dekat pantai. Hingga kini kami tidak bisa melaut,” beber Bastari.
Tsunami
Darmawan, pemilik bagan apung di dusun Minang Rua desa Kelawi kecamatan Bakauheni Lampung Selatan memeriksa kerusakan bagan akibat tsunami. Foto: Henk Widi

Bastari menyebut sebagian nelayan yang tidak melaut berimbas tempat pelelangan ikan (TPI) Kalianda yang terpaksa berhenti beroperasi. Kondisi tersebut berpengaruh pada usaha penjualan es balok, ojek ikan, penjual ikan keliling atau pelele dan pedagang ikan di pasar ikan higienis Kalianda. Sejumlah pedagang dengan jumlah sekitar 30 pedagang sebagian mulai berjualan dengan pasokan ikan diperoleh dari luar Lamsel dan dominan ikan air tawar.

Wati, pedagang ikan di pasar ikan higienis Kalianda menyebut semua ikan laut yang dijual berasal dari TPI Labuhan Maringgai.

“Sebab nelayan Lamsel belum melaut imbas kerusakan alat tangkap berupa bagan dan perahu,” sebutnya.

Wati menyebut berjualan ikan hasil tambak warga Lamtim berupa bandeng, kerapu, udang vaname, ikan nila, lele, emas serta sebagian ikan laut. Ia  belum bisa memastikan kapan nelayan di pesisir Kalianda akan kembali melaut.

Baca Juga
Lihat juga...