Sejumlah LSM Soroti Ketersediaan Jagung untuk Pakan Ternak

266
Ilustrasi Jagung – Foto: Dokumentasi CDN

JAKARTA — Sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) menyoroti persoalan terkait dengan ketersediaan jagung, yang sangat esensial dan diperlukan untuk memenuhi pakan ternak di berbagai daerah.

“Permasalahan ketidaktersediaan jagung telah membuat banyak peternak layer dan broiler menderita akibat mahalnya harga pakan dan menurunnya produksi mereka,” kata Direktur Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka), Yeka Hendra Fatika, dalam keterangan tertulis yang diterima, Senin (28/1/2019).

Menurut dia, perlu ada program advokasi yang diawali diskusi publik konsolidasi peternak untuk mengevaluasi berbagai kebijakan yang terkait dengan itu.

Sementara itu, Presidium Agri Watch, Dean Novel, menyatakan data terkait jagung di Indonesia yang tidak jelas mengindikasikan perlunya pembenahan sektor pangan. Novel memaparkan pihaknya juga mempertanyakan mengenai surplus jagung hingga 12,92 juta ton dengan luas panen jagung sekitar 5,3 juta hektare.

“Satu hektare lahan membutuhkan benih jagung rata-rata 20 kilogram, sehingga membutuhkan 106 ribu ton benih. Sementara kapasitas produksi benih nasional tidak pernah melebihi 60 ribu ton. Kekurangannya diambil dari mana,” tanyanya.

Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) mengingatkan pemerintah untuk memperhatikan faktor cuaca yang dinilai sangat esensial dalam rangka meningkatkan produktivitas jagung nasional.

“Contohnya pada tahun 2009/2010, produktivitas jagung nasional turun sebesar 0,45 persen dari periode sebelumnya akibat El Nino. Hal ini pada akhirnya menyebabkan tertundanya musim tanam pertama selama dua bulan,” kata Peneliti CIPS, Assyifa Szami Ilman.

Menurut dia, cuaca adalah faktor yang sangat menentukan dalam produksi jagung Tanah Air karena cuaca buruk dapat menyebabkan tertundanya musim tanam. Bila terjadi fenomena cuaca buruk, lanjutnya, maka tertundanya musim tanam jagung dapat menghambat pertumbuhan yang optimal dari komoditas tersebut.

Untuk itu, pemerintah sebaiknya mengevaluasi program Upaya Khusus (Upsus) yang sudah dijalankan sejak 2015 dengan menghentikan pemberian benih jagung hibrida untuk daerah-daerah yang sudah memiliki pasar jagung kuat.

Ia berpendapat bahwa daerah pasar jagung kuat adalah daerah yang petani jagungnya lebih suka menggunakan benih jagung hibrida nonsubdisi yang berkualitas tinggi dari pada benih Upsus.

“Program ini juga sebaiknya dihentikan pada daerah dengan pasar jagung lemah, karena petani di pasar ini umumnya tidak menjadikan budi daya jagung sebagai prioritas dan mata pencaharian mereka,” tandasnya.

Namun,  lanjut Assyifa, program Upsus efektif diberikan di daerah dengan pasar jagung semi kuat untuk memperkenalkan penggunaan benih jagung hibrida pada petani yang belum pernah menggunakannya. (Ant)

Lihat juga...