hut

Sekjen MUI: Pesta Demokrasi Harus Berakhlak dan Beretika

Editor: Koko Triarko

Sekretaris Jenderal MUI, Anwar Abbas. -Foto: Sri Sugiarti

JAKARTA – Majelis Ulama Indonesia (MUI), menyatakan, agar pesta demokrasi berjalan baik, maka harus dilaksanakan dengan berakhlak dan beretika.

“Pesta demokrasi pemilihan legistratif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres) pada 17 April mendatang, harus dilaksanakan dengan berakhlak dan beretika, bebas tapi jujur dan adil,” kata Sekretaris Jenderal MUI, Anwar Abbas, kepada Cendana News, di Jakarta, Selasa (29/1/2019).

Menurutnya, MUI sebagai organisasi mendukung secara aktif untuk menyukseskan serta menciptakan pileg dan pilpres berjalan dengan baik dan lancar.

Secara kelembagaan, MUI juga harus menjaga kredibilitas di tengah-tengah masyarakat.

“Untuk menyukseskan pileg dan pilpres, seluruh personal pimpinan MUI harus netral. Tidak boleh menyeret MUI ke dalam praktik dukung mendukung calon atau pasangan calon,” tandasnya.

Namun demikian, kata dia, bukan berarti pengurus MUI secara personal tidak boleh mendukung salah satu calon yang ada. Tentu masing-masing anggota pimpinan diperbolehkan untuk mendukung dan memilih pasangan calon yang diperjuangkannya.

“Tetapi jangan membawa nama organisasi MUI,” ujarnya.

Hal ini, jelas dia, bertujuan agar solidaritas di antara pimpinan MUI tetap terjaga. Maka, dalam memperjuangkan dan menyalurkan aspirasi dukungan, diharapkan seluruh pimpinan MUI menjaga ukhuwah Islamiyah.

MUI  mengimbau kepada anggota pimpinan dan semua pihak untuk saling menghormati dan tidak saling menjelekkan.

“Jangan sampai pesta demokrasi lima tahunan ini merusak hubungan persaudaraan kita,” tandasnya.

Agar persatuan dan kesatuan umat Islam terjaga, Anwar berharap seluruh personal pimpinan MUI membangun dan mengembangkan sikap tawadud dan tarohum, atau saling mencintai dan menyayangi di antara mereka.

Selain itu, masyarakat Indonesia juga harus menjauhkan sikap taqhadhub dan tahasud atau saling marah dan membenci.

“Jangan sampai tidak berakhlak dan beretika. Apalagi, saling menghujat, menjelek-jelekkan dan menghina. Karena, itu tidak sesuai dengan ajaran agama dan budaya bangsa kita,” tukasnya.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!