Sepanjang 2018, Capaian Gabah Kering Pesisir Selatan 326 Ton

Editor: Satmoko Budi Santoso

247

PESISIR SELATAN – Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, mencatat produksi gabah kering di Kabupaten Pesisir Selatan, mencapai 326 ribu ton sepanjang 2018. Jumlah itu dikatakan melebihi target.

Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni, mengatakan, di tahun 2018 lalu, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan, menetapkan target produksi gabah kering 290 ribu ton. Namun, kenyataannya, jumlah produksi mencapai angka 326 ribu ton.

“Tahun 2018 target produksi gabah kering hanya sebanyak 290 ribu ton. Alhamdulillah hingga penutupan tahun 2018, ternyata produksi melimpah dan mencapai angka fantastis yakni 326 ribu ton,” katanya, Senin (14/1/2019).

Menurutnya, besarnya jumlah produksi gabah kering di Pesisir Selatan, bukti nyata bahwa kondisi pertanian di Pesisir Selatan selama tahun 2018 berada dalam kondisi yang amat baik.

Hal ini dikarenakan, alasan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan menetapkan target yang kecil, karena di Pesisir Selatan biasanya cukup banyak hama yang menyerang tanaman padi milik masyarakat.

Hendrajoni melihat dengan melewati target produksi gabah kering itu, membuat Pemkab Pesisir Selatan semakin optimis menjadi daerah kawasan lumbung padi di Sumatera Barat. Ia berharap di tahun 2019 ini, produk gabah kering terus ditingkatkan.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan, Kabupaten Pesisir Selatan, Nuzirwan, menjelaskan, produksi gabah kering sebanyak itu merupakan hasil pengolahan sawah seluas 62 ribu hektare yang tersebar di 15 kecamatan pada daerah setempat. Dengan rata-rata hasil produksi gabah kering per hektare sawah mencapai 5,1 ton.

Hanya saja, katanya, produksi gabah kering saat ini turun jika dibanding 2017 lalu, yang waktu itu produksi gabah kering mencapai 370 ribu ton.

Selain itu, rata-rata produksi gabah kering juga tidak sama. Waktu itu produksi per hektare mencapai 5,4 ton. Berikutnya areal sawah yang diolah juga berkurang, yang waktu itu mencapai luas 64 ribu hektare, sementara tahun ini hanya 62 ribu hektare.

Ia mengatakan, penurunan produksi gabah kering terjadi karena beberapa hal. Mulai dari serangan hama wereng, banjir yang menyebabkan produksi lahan berkurang, dan lainnya. Sementara, berkurangnya areal yang dikelola karena adanya kerusakan sejumlah daerah irigasi akibat banjir.

Sementara dengan capaian produksi gabah kering yang cukup besar, dimana Pemkab Pesisir Selatan menargetkan jadi lumbung padi untuk Sumatera Barat, kemungkinan saja bisa terwujud.

“Dengan memasuki tahun 2019, Pemkab Pesisir Selatan akan terus memastikan kondisi pertanian guna mencapai target menjadi daerah lumbung padi di daerah Sumatera Barat,” ujarnya.

Untuk itu, pada tahun 2019 ini, Pemkab Pesisir Selatan akan tetap serius dan fokus kepada sektor pertanian. Hal itu dilakukan agar kesehjateraan, kemandirian para petani dan masyarakat di Pesisir Selatan bisa terwujud di tahun politik ini.

“Bicara soal bantuan, sepanjang tahun 2018 dan 3 tahun kepemimpinan Bapak Bupati Hendrajoni, telah ada kurang lebih 405 bantuan alsintan pertanian dari Pemerintah Pusat diberikan ke Pemkab Pesisir Selatan,” sebutnya.

Artinya, dengan adanya komitmen pemerintah memberikan bantuan berupa alsintan ataupun bibit dan pupuk, dapat terus memicu produksi gabah kering di Pesisir Selatan. Apalagi di daerah tersebut, memiliki lahan sawah yang cukup luas, yang tersebar di sejumlah daerah.

“Untuk itu, kami dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan, Kabupaten Pesisir Selatan, terus mendukung upaya petani untuk memperoleh hasil panen yang lebih baik. Serta juga meminta petani tidak membiarkan lahan yang produktif dibiarkan tidur,” harapnya.

Baca Juga
Lihat juga...